H O B I B A C A » Kho Ping Hoo - ( Siluman Gua Tengkorak )

Urut berdasarkan

001. Siluman Gua Tengkorak Episode 1

Pesta pernikahan yang dirayakan orang di dusun biasanya jauh lebih meriah dari pada pesta pernikahan yang dirayakan orang di kota itu. Meriah di sini bukan berarti mewahnya perayaan itu, melainkan kemeriahan yang terasa benar di dalam hati mereka yang hadir, tercermin dari wajah mereka yang berseri-seri. Pesta pernikahan di kota besar hanya merupakan pesta makan minum yang mewah dan berlebihan, kegembiraan yang timbul karena pengaruh arak yang terlalu banyak memenuhi perut sehingga arak itu menguap memenuhi benak membuat orang menjadi lupa diri. Pesta di kota hanya merupakan perlombaan memamerkan kekayaan. Akan tetapi di dusun lebih terasa keakraban dan kegotongroyongan, sehinga para tamu itu seolah-olah merasa sebagai keluarga dan sebagai orang yang ikut ambil bagian dalam perayaan itu, bahkan seperti keluarga yang merayakan, bukan sekedar tamu yang datang untuk makan minum.

detail

002. Siluman Gua Tengkorak Episode 2

Kalau orang mengenal siapa kedua orang muda ini, dia tentu takkan heran melihat kegagahan mereka dan mungkin orang itu akan memandang kagum atau juga mungkin lari menyembunyikan diri. Pemuda yang bertubuh tegap sedang dan berwajah tampan ini bukan lain adalah seorang pendekar yang namanya pernah menggemparkan kota raja, bahkan pernah menggegerkan seluruh dunia persilatan. Dia adalah Pendekar Sadis! Dia adalah seorang pemuda berdarah bangsawan, karena ayah kandungnya adalah seorang pangeran. Pendekar Sadis ini bernama Ceng Thian Sin, putera dari mendiang Pangeran Ceng Han Houw. Ayahnya itu adalah putera kandung dari mendiang Kaisar Ceng Tung dan ibunya ada-1ah Puteri Khamila isteri Raja Sabutai. Ayahnya itu, selain pangeran, juga terkenal sebagai seorang ahli silat yang pernah menggegerkan dunia persi-latan dengan usahanya untuk menjadi Jagoan No-mor Satu Di Dunia.

detail

003. Siluman Gua Tengkorak Episode 3

Malam telah larut ketika ia siuman kembali. Kamar telah bersih dari asap dan ia merasakan kepalanya agak pening, dan kaki tangannya sudah terbelenggu lagi, bahkan kini tubuhnya sudah diletakkan orang di atas dipan. Ada suara di pintu dan ketika ia menengok, ia melihat orang bertopeng tengkorak di luar pintu.

“Nona, sekali lagi engkau melepaskan belenggu dan mencoba lari, hukumannya tentu berat. Asap bius itu tak mungkin nona lawan. Sebaiknya nona menyerah saja dan kami akan memperlakukan nona dengan baik-baik.” Setelah berkata demikian, orang itu meninggalkan pintu. Kim Hong maklum bahwa ia terjatuh ke dalam tangan gerombolan yang lihai sekali dan iapun tahu bahwa pada saat itu ia tidak berdaya dan tidak mungkin meloloskan diri dengan kekerasan. Asap bius yang sewaktu-waktu dapat masuk melalui lubang-lubang angin itu memang tak mungkin dapat dilawan dan dihindarkan, dan biarpun tidak nampak adanya penjaga, ia tahu bahwa ada penjaga-penjaga bersembunyi dan selalu mengamati gerak-geriknya. Celaka, pikirnya. Tentu Thian Sin juga sudah tertawan oleh mereka. Tenang, ia mencela diri sendiri. Tenang! Hanya ketenangan batin sajalah satu-satunya hal yang mungkin akan dapat menolongnya dan juga menolong Thian Sin. Maka iapun lalu memejamkan mata untuk tidur agar kekuatannya dapat pulih kembali.

detail

004. Siluman Gua Tengkorak Episode 4

Kini Sian-su mengulur tangannya ke arah wanita itu yang segera menyambut uluran tangan itu dan wanita itupun bangkit berdiri, kemudian digandeng tangannya oleh Sian-su, berjalan menuju ke tepi dataran itu di mana terdapat pondok kecil untuk pemujaan dewa. Sian-su atau siluman itu lalu menerima sebongkok hio yang sudah dinyalakan dari seorang anggauta perkumpulan yang bertugas di situ. Dia lalu mengacungkan hio ke empat penjuru, dan membagi-bagi hio itu menjadi tujuh. Kini wanita itu lalu bersembahyang di depan tujuh pondok kecil, setiap kali selesai sembahyang sambil berlutut lalu menaruh hio di depan pondok, di tempat abu hio. Setelah selesai, ia dituntun oleh Sian-su dan setelah dilepaskan, wanita itu kembali menjatuhkan diri berlutut di depan Sian-su yang berdiri di depannya. Tujuh orang gadis yang tadi membawa kelinci dan bermacam barang itu selalu mengikuti mereka dari belakang dan kini mereka bertujuh juga berlutut mengelilingi Sian-su. Orang itu lalu mengangkat kedua tangan ke atas kepala dan mengeluarkan suara aneh, suara melengking dalam seperti bukan suara manusia dan ketika tangan kanannya melambai, tahu-tahu tangan itu telah memegang sebatang bunga yang diberikannya kepada wanita itu.

detail