22 Desember 2008
Axioo PICO, sang Jawara NetBook
PICO yang dirilis tahun 2008 ini merupakan salah satu item unggulan dari merek Axioo. Produk yang memiliki karakter Netbook ini telah melahirkan dua varian, yaitu seri PICO DJM & DJJ detail
budies [URL] wah, akhirnya ada juga situs pcnusantara, saya menggunakan axioo notebook sejak 2006, tahun 2008 beli lagi seri zetta... mantab pcnusantara....
Suprijadi Pada awalnya saya ragu dengan PC Nusantara, dikarenakan PC yang saya beli sering mengalami error,namun pada akhirnya saya harus acungkan 2 jempol,karena semua keluhan saya dilayani dengan baik dan ada...detail
ilunk soal hrg mitra komputer memang murah, dengan kualitas yang sangat, sdh jd langganan..
Andhika [URL] Mantap banget ini toko cuman tanya info lewat messeger aja di layanin berbeda dengan toko2 Online lainnya
Apalagi referensinya passss banget ngena so kita jadi bisa milih produk yg benar2 tepat se...detail
Pesta pernikahan yang dirayakan orang di dusun biasanya jauh lebih meriah
dari pada pesta pernikahan yang dirayakan orang di kota itu. Meriah di sini
bukan berarti mewahnya perayaan itu, melainkan kemeriahan yang terasa benar di
dalam hati mereka yang hadir, tercermin dari wajah mereka yang berseri-seri.
Pesta pernikahan di kota besar hanya merupakan pesta makan minum yang mewah dan
berlebihan, kegembiraan yang timbul karena pengaruh arak yang terlalu banyak
memenuhi perut sehingga arak itu menguap memenuhi benak membuat orang menjadi
lupa diri. Pesta di kota hanya merupakan perlombaan memamerkan kekayaan. Akan
tetapi di dusun lebih terasa keakraban dan kegotongroyongan, sehinga para tamu
itu seolah-olah merasa sebagai keluarga dan sebagai orang yang ikut ambil bagian
dalam perayaan itu, bahkan seperti keluarga yang merayakan, bukan sekedar tamu
yang datang untuk makan minum.
Kalau orang mengenal siapa kedua orang muda ini, dia tentu takkan heran
melihat kegagahan mereka dan mungkin orang itu akan memandang kagum atau juga
mungkin lari menyembunyikan diri. Pemuda yang bertubuh tegap sedang dan berwajah
tampan ini bukan lain adalah seorang pendekar yang namanya pernah menggemparkan
kota raja, bahkan pernah menggegerkan seluruh dunia persilatan. Dia adalah
Pendekar Sadis! Dia adalah seorang pemuda berdarah bangsawan, karena ayah
kandungnya adalah seorang pangeran. Pendekar Sadis ini bernama Ceng Thian Sin,
putera dari mendiang Pangeran Ceng Han Houw. Ayahnya itu adalah putera kandung
dari mendiang Kaisar Ceng Tung dan ibunya ada-1ah Puteri Khamila isteri Raja
Sabutai. Ayahnya itu, selain pangeran, juga terkenal sebagai seorang ahli silat
yang pernah menggegerkan dunia persi-latan dengan usahanya untuk menjadi Jagoan
No-mor Satu Di Dunia.
Malam telah larut ketika ia siuman kembali. Kamar telah bersih dari asap dan
ia merasakan kepalanya agak pening, dan kaki tangannya sudah terbelenggu lagi,
bahkan kini tubuhnya sudah diletakkan orang di atas dipan. Ada suara di pintu
dan ketika ia menengok, ia melihat orang bertopeng tengkorak di luar pintu.
“Nona, sekali lagi engkau melepaskan belenggu dan mencoba lari, hukumannya
tentu berat. Asap bius itu tak mungkin nona lawan. Sebaiknya nona menyerah saja
dan kami akan memperlakukan nona dengan baik-baik.” Setelah berkata demikian,
orang itu meninggalkan pintu. Kim Hong maklum bahwa ia terjatuh ke dalam tangan
gerombolan yang lihai sekali dan iapun tahu bahwa pada saat itu ia tidak berdaya
dan tidak mungkin meloloskan diri dengan kekerasan. Asap bius yang sewaktu-waktu
dapat masuk melalui lubang-lubang angin itu memang tak mungkin dapat dilawan dan
dihindarkan, dan biarpun tidak nampak adanya penjaga, ia tahu bahwa ada
penjaga-penjaga bersembunyi dan selalu mengamati gerak-geriknya. Celaka,
pikirnya. Tentu Thian Sin juga sudah tertawan oleh mereka. Tenang, ia mencela
diri sendiri. Tenang! Hanya ketenangan batin sajalah satu-satunya hal yang
mungkin akan dapat menolongnya dan juga menolong Thian Sin. Maka iapun lalu
memejamkan mata untuk tidur agar kekuatannya dapat pulih kembali.
Kini Sian-su mengulur tangannya ke arah wanita itu yang segera menyambut uluran
tangan itu dan wanita itupun bangkit berdiri, kemudian digandeng tangannya oleh
Sian-su, berjalan menuju ke tepi dataran itu di mana terdapat pondok kecil untuk
pemujaan dewa. Sian-su atau siluman itu lalu menerima sebongkok hio yang sudah
dinyalakan dari seorang anggauta perkumpulan yang bertugas di situ. Dia lalu
mengacungkan hio ke empat penjuru, dan membagi-bagi hio itu menjadi tujuh. Kini
wanita itu lalu bersembahyang di depan tujuh pondok kecil, setiap kali selesai
sembahyang sambil berlutut lalu menaruh hio di depan pondok, di tempat abu hio.
Setelah selesai, ia dituntun oleh Sian-su dan setelah dilepaskan, wanita itu
kembali menjatuhkan diri berlutut di depan Sian-su yang berdiri di depannya.
Tujuh orang gadis yang tadi membawa kelinci dan bermacam barang itu selalu
mengikuti mereka dari belakang dan kini mereka bertujuh juga berlutut
mengelilingi Sian-su. Orang itu lalu mengangkat kedua tangan ke atas kepala dan
mengeluarkan suara aneh, suara melengking dalam seperti bukan suara manusia dan
ketika tangan kanannya melambai, tahu-tahu tangan itu telah memegang sebatang
bunga yang diberikannya kepada wanita itu.