22 Desember 2008
Axioo PICO, sang Jawara NetBook
PICO yang dirilis tahun 2008 ini merupakan salah satu item unggulan dari merek Axioo. Produk yang memiliki karakter Netbook ini telah melahirkan dua varian, yaitu seri PICO DJM & DJJ detail
budies [URL] wah, akhirnya ada juga situs pcnusantara, saya menggunakan axioo notebook sejak 2006, tahun 2008 beli lagi seri zetta... mantab pcnusantara....
Suprijadi Pada awalnya saya ragu dengan PC Nusantara, dikarenakan PC yang saya beli sering mengalami error,namun pada akhirnya saya harus acungkan 2 jempol,karena semua keluhan saya dilayani dengan baik dan ada...detail
ilunk soal hrg mitra komputer memang murah, dengan kualitas yang sangat, sdh jd langganan..
Andhika [URL] Mantap banget ini toko cuman tanya info lewat messeger aja di layanin berbeda dengan toko2 Online lainnya
Apalagi referensinya passss banget ngena so kita jadi bisa milih produk yg benar2 tepat se...detail
Sungai Huang-ho atau Sungai Kuning yang amat terkenal di Tiongkok itu
menumpahkan airnya di laut Pohai, termasuk di Propinsi San-tung sebelah utara.
Berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus kerajaan boleh ganti-berganti, jutaan
manusia mati dan hidup lagi, namun Sungai Kuning tetap mengalirkan airnya ke
dalam laut.
Ketika itu, Kerajaan Tang yang semenjak abad ke tujuh hidup subur dan makmur,
dalam permulaan abad ke delapan mulai mengalami perubahan besar. Korupsi
besar-besaran yang dilakukan oleh semua pembesar dan pegawai negeri dari yang
paling rendah sampai yang paling tinggi kedudukannya, membuat negara menjadi
lemah, rakyat menjadi sengsara, dan kekacauan timbul di mana-mana.
Setelah Kwan Cu menelan obat itu, Tauw-cai-houw tertawa bergelak. “Ha-ha-ha,
selama bertahun-tahun ini belum pernah aku mendapatkan seorang anak seperti
engkau! Sekali ini aku pasti akan berhasil. Kau adalah seorang anak sin-tong
(anak ajaib), jantung dan otakmu pasti akan menghasilkan semua usahaku selama
ini. Ah, kau mengingatkan betapa semua anak-anak ini hanyalah sebangsa boan-tong
(anak nakal) belaka. Hm, sungguh menyebalkan!”
Kwan Cu tidak mengerti maksud kata-kata ini, hanya sepasang matanya yang
lebar dan bersinar-sinar itu memandang tajam.
“Mengapa matamu mendelik terus kepadaku?” Tauw-cai-houw membentak marah.
“Tenanglah, matamu yang tajam itu takkan memasuki perutku, hanya akan membikin
muak saja!”
Tiga orang pemimpin Sin-to-pang itu memandang kepada Kwan Cu dengan mata
mendelik. Mereka mendongkol sekali karena dimaki gila, juga dapat menduga bahwa
Loan Eng dapat menemukan tempat mereka tentu atas petunjuk bocah gundul itu.
Akan tetapi pada saat seperti itu mereka tidak sempat melayani bocah gundul itu.
“Huang-ho Sam-eng (Tiga Pendekar Sungai Kuning), sekali lagi aku bertanya,
apakah kalian tidak mau membebaskan Sui Ceng dengan baik-baik sehingga aku tak
perlu turun tangan?”
“Tak mungkin, Toanio. Dengan berbuat begitu, berarti kami melanggar sumpah
setia kepada mendiang Bun-pangcu!” jawab seorang di antara mereka. Memang tiga
orang pemimpin yang dulu menjadi pembantu-pembantu Bun Liok Si adalah tiga
saudara yang terkenal dengan julukan Huang-ho Sam-eng dan mereka ini sudah
semenjak mudanya terkenal sebagai pendekar-pendekar budiman.
Kwan Cu berjalan bersama kakek pengemis yang luka-luka dan di sepanjang jalan
kakek pengemis itumasih bernyanyi-nyanyi. Kwan Cu seorang anak yang cerdik,
mendengar nyanyian yang isinya memaki-maki dan mencela orang she Lu, dia tahu
bahwa kakek ini tentu dibikin sakit hati oleh she Lu.
“Lopek, apakah anak bangsawan tadi she Lu?”
Kakek itu berhenti bernyanyi, lalu memandang padanya, akan tetapi sebelum dia
menjawab, tiba-tiba kakek itu meramkan matanya, wajahnya semenjak tadi telah
pucat dan kini matanya berkunang. Tubuhnya lemas dan dia lalu terkulai, pingsan
dalam dekapan Kwan Cu. Ternyata bahwa kakek ini telah kehilangan banyak darah
dan karena semenjak tadi dia menahan sakit dengan nyanyiannya, sekarang setelah
dia berhenti bernyanyi, rasa sakit itu datang menyerang dirinya bagaikan
gelombang besar yang menelannya!