Ini BUKAN Komputer biasa -- Jangan SALAH memilih komputer!! -- Karena hanya kami yang mengerti akan kebutuhan anda -- Nikmati persembahan teknologi terkini dengan harga yang terjangkau
0 item
1 September 2010
Laptop Axioo Neon CLW, Terispirasi Desain Motor Ducati
Jakarta - Axioo sebagai salah satu merek lokal yang bergelut di indutri komputer, telah merilis produk andalannya. Desain dari laptop bertajuk Axioo Neon CLW tersebut diklaim terispirasi dari motor sport Ducati. detail

1 September 2010
Axioo Neon CLW, Notebook yang Cinta Negeri
JAKARTA - AXIOO salah satu vendor IT terkemuka baru saja memperkenalkan produk terbaru yang merupakan breakthrough dalam inovasi desain mobile computing. Product terbaru ini diberi nama AXIOO NEON CLW. Dengan code name “CAPRI” yang berkonotasi CintA Pada negeRI. detail

» index berita
Email:
budies
[URL]
wah, akhirnya ada juga situs pcnusantara, saya menggunakan axioo notebook sejak 2006, tahun 2008 beli lagi seri zetta... mantab pcnusantara....

Suprijadi
Pada awalnya saya ragu dengan PC Nusantara, dikarenakan PC yang saya beli sering mengalami error,namun pada akhirnya saya harus acungkan 2 jempol,karena semua keluhan saya dilayani dengan baik dan ada... detail

ilunk
soal hrg mitra komputer memang murah, dengan kualitas yang sangat, sdh jd langganan..

Andhika
[URL]
Mantap banget ini toko cuman tanya info lewat messeger aja di layanin berbeda dengan toko2 Online lainnya Apalagi referensinya passss banget ngena so kita jadi bisa milih produk yg benar2 tepat se... detail

» isi testimonial
» lihat testimonial

H O B I B A C A » Kho Ping Hoo - ( Pedang Kayu Harum )

#4 of 5 | Prev - Next
Bookmark and Share

004. Pedang Kayu Harum Episode 4

Description

"Bohong! Tosu tua bangka bau! Bohong....!" wanita itu memaki.

Keng Hong menggeleng-geleng kepalanya. "Agaknya Totiang tidak dapat mengenal watak suhu. Saya percaya bahwa suhu bukan mendasarkan pertolongannya atas baik dan buruk, karena menurut wejangan suhu, bagi suhu dan saya, baik dan buruk itu tidak ada, yang ada hanyalah pendapat orang yang selalu tidak adil karena menurutkan kepentingan diri pribadi.”

"Eh, apa maksudmu?"

"Pandangan baik dan buruk oleh pendapat manusia adalah miring dan berat sebelah, Totiang dipengaruhi oleh nafsu pribadi demi kepentingan diri sendiri. Kalau seseorang melihat orang lain menguntungkan dia, bersikap manusia, menyenangkan hatinya, maka serta-merta dia akan menganggap orang itu baik! Sebaliknya kalau dia melihat orang lain merugikannya, memusuhinya dan tidak menyenangkan hatinya, maka tanpa ragu-ragu lagi akan dianggapnya orang itu jahat! Karena itu, saya seperti suhu tidak percaya akan pandangan orang tentang baik dan jahat dan saya menolong wanita ini hanya terdorong perasaan ingin menolong, kasihan melihat dia terancam bencana di sini. Bagaimana, Totiang? Saya telah memenuhi permintaan Kun-lun-pai untuk meninggalkan pedang, apakah Kun-lun-pai demikian pelit untuk menolak permintaanku yang sama sekali terdorong keinginan menguntungkan diri sendiri ini?" Dengan kalimat terakhir ini terkandung ejekan bahwa Kun-lun-pai minta pedangnya dengan dasar ingin untung sendiri!

Kiang Tojin tercengang. "Pendapat keliru...., wawasan yang menyeleweng...."

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara Thian Seng Cinjin yang halus, "Bocah ini kelak lebih menggegerkan daripada Sin-jiu Kiam-ong. Bebaskanlah wanita itu dan lekas suruh anak ini pergi, lebih cepat lebih baik!"

Kiang Tojin memberi tanda dan dua orang tosu menghampiri wanita itu hendak melepaskan ikatannya, akan tetapi sekali bergerak, wanita itu ternyata telah meloloskan tangan kakinya dari ikatan tanpa mematahkan ikatan itu. Dia meloncat dan memandang ke arah Keng Hong dengan senyum mengejek. "Bocah Tolol! Cih, tolol dan goblok, dasar anak dusun!" Setelah berkata demikian, wanita itu membanting-banting kaki kanannya lalu berkelebat cepat pergi meninggalkan tempat itu.

Keng Hong tidak peduli, lalu berlutut menghaturkan terima kasih kepada para tokoh Kun-lun-pai, kemudian berdiri dan pergi meninggalkan pegunungan Kun-lun-pai dengan wajah berseri. Dia setengah memaksa diri untuk bergembira, berjanji dalam hatinya untuk menempuh hidup dengan cara gurunya, yaitu tetap bergembira, tidak memusingkan masa depan. Dia akan hidup seperti gurunya, yaitu menghadapi bayangan masa depan yang bagaimanapun selalu gembira dan dengan tekad: Bagaimana nanti sajalah! ***

"Heii, tolol! berhenti dulu!"

Keng Hong menghentikan langkahnya. Ia telah jauh meninggalkan Kun-lun-san dan kini berada di sebuah hutan yang tidak lagi menjadi daerah Kun-lun-san. Tanpa menoleh dia sudah mengenal suara itu, suara yang nyaring merdu dan galak, suara wanita cantik jelita yang telah dibebaskan oleh para tosu Kun-lun-pai.

"Kau mau apakah?" tanyanya sambil berdiri tegak tanpa menoleh.

"Waduh sombongnya! Orang tolol masih bisa bersikap sombong ya?"

"Aku tidak merasa sombong, sungguh pun mungkin kau benar bahwa aku tolol,” jawabnya sabar sambil tersenyum. Gembira! Harus menghadapi segala sesuatu dengan gembira, betapa pun pahitnya dan menyakitkan hati maki-makian itu.

"Walah-walah, malah senyum-senyum! Kau bicara tanpa melihat aku, bukan kah itu sikap sombong, sikap orang berkepala angin, memandang orang lain seperti rumput saja? kalau tidak sombong, lihat lah kesini. Benci aku melihat orang diajak bicara kok menengok pun tidak!"

Keng Hong tertawa. Betapa pun galaknya, ucapan orang itu dia anggap jenaka dan lucu, juga segar menyenangkan hatinya. Ia lalu membalikkan tubuhnya dan melihat penegurnya itu duduk di atas rumput hijau di bawah sebatang pohon sambil makan daging paha besar seekor ayam hutan. Daging itu masih mengepul panas, juga api unggun untuk membakar daging itu masih menyala.

"Nah, aku sudah memandangmu sekarang. Kau mau bicara apakah?"

"Wah, memang sombong dan angkuh! Apakah karena engkau telah minta tosu-tosu bau itu membebaskan aku lalu engkau boleh bersikap angkuh seperti ini?"

"Eh....., adik yang baik....."

"Cih! aku bukan adikmu!"

"Cici yang baik...."

"Siapa sudi menjadi kakak perempuanmu?"

Keng Hong merasa bohwat (kehabisan akal). "Habis, harus kusebut apa?"

"Panggil aku nona!"

"Wah, nona.....?"

"Habis, aku masih gadis, kalau tidak disebut nona, masa engkau hendak menyebut aku nyonya besar?" Gadis itu merengut, bibirnya yang merah itu berlepotan minyak gajih paha ayam, mukanya coreng moreng terkena hangus, kelihatan makin cantik dan lucu sehingga kembali Keng Hong tertawa.

"Baiklah, Nona. Engkau memaki aku sombong dan angkuh berkali-kali, karena aku tidak mau menengok. Setelah aku menengok, kau masih memaki aku angkuh. Habis aku kausuruh bagaimana supaya tidak kaumaki angkuh?"

"Aku mau bicara denganmu, duduklah disini dan jangan berdiri pringas-pringis seperti monyet mencium ikan asin!"

Keng Hong mengangkat sepasang alisnya yang hitam tebal. selamanya baru sekali ini dia bicara dengan gadis, apalagi gadis yang begini lincah. Ia tertarik sekali, akan tetapi juga merasa canggung. Kemudian teringat dia akan watak suhunya, maka dia lalu tersenyum lebar dan melangkah menghampiri gadis itu, menjatuhkan diri duduk di atas rumput di hadapan gadis itu. Dalam beberapa detik, pandang matanya yang tajam sudah meneliti gadis yang duduk makan paha ayam panggang di hadapannya itu. Wajah yang berkulit halus kemerahan, cantik jelita dengan bentuk tubuh bulat telur. Rambut hitam gemuk yang kacau tak tersisir, menutup sebagian pipi kirinya karena kepala itu agak dimiringkan ke kanan. Alis yang panjang kecil dan hitam. Sepasang mata yang jeli, lebar dan jernih sekali, dengan kerling yang amat tajam, mata yang aneh karena dia seperti dapat melihat bayangan gembira, berani, menantang dan merenung di dalamnya. Hidung kecil mancung di atas sepasang bibir yang dianggapnya merupakan bibir terindah yang pernah dilihatnya. Penuh dan berkulit halus seolah-olah sepasang bibir itu dapat mudah pecah, warnanya kemerahan dan basah berminyak. Dagunya kecil agak meruncing menambah kemanisan. Pakaiannya terbuat dari sutera halus dan mewah, namun potongannya ketat sehingga membayangkan dada yang penuh menonjol, pinggang kecil dan pinggul yang lebar. Kulit yang mengintai dari balik leher baju, dari lengan, tampak halus dan putih sekali. Beginikah wanita cantik yang suka disebut-sebut suhunya dan diumpamakan setangkai bunga yang harum? Dia kini dapat merasakan persamaannya. Memang seperti bunga sehingga membuat hati ini kepingin menyentuh, kepingin mencium, kepingin memandang dan menikmati keindahannya.

"Mungkin aku seperti monyet, akan tetapi saat ini aku tidak mencium bau ikan asin, melainkan mencium bau sedap gurih daging panggang!"

"Kau kepingin?" Gadis itu menghentikan gigitannya dan mulutnya yang penuh dengan daging itu mengunyah perlahan, matanya mengerling Keng Hong. Pemuda remaja ini memandang mulut yang mengunyah itu, dan tak terasa lagi dia menelan ludah dan perutnya mendadak berkeruyuk. Dia mengangguk dan kembali menelan ludah.

"Kalau kepingin, ambillah. Tunggu apalagi? Jangan malu-malu kucing, kalau kepingin mengapa tidak ambil dan makan sejak tadi?"

"Ah, tapi daging itu punyamu...."

"Siapa bilang punyaku? Ayam itu berkeliaran di hutan, entah punya siapa!"

"Tapi kau yang menangkap dan memanggangnya...."

"Sudahlah! cerewet bener sih engkau ini! ambil saja dan ganyang, habis perkara. Bicara saja mana bisa kenyang?"

Biarpun ditegur, Keng Hong menjadi geli dan tertawa. Gadis ini benar-benar menimbulkan rasa gembira di hatinya. Cocok benar dengan watak suhunya. Bagaimana kalau suhunya yang bertemu dengan gadis seperti ini? Ia lalu menyambar daging ayam panggang, merobek bagian dada lalu mulai makan daging itu. Benar lezat sekali, gurih dan manis, lagi hangat dan perutnya memang amat lapar. Setelah habis semua makan, gadis itu mengeluarkan seguci air dingin dan minum dengan cara menggelogoknya dari mulut guci. air memasuki mulut yang kecil itu, ada yang tumpah membasahi pipi dan tercecer memasuki celah-celah bajunya di leher. Setelah itu, dia menurunkan guci dan menyerahkannya kepada Keng Hong.

Pemuda yang mulai mengenal watak polos dan terbuka gadis itu, menerima guci akan tetapi dia merasa ragu-ragu juga untuk menggelogok air itu begitu saja. Bibir guci itu masih berlepotan minyak gajih, tentu ketika bibir guci tadi bertemu dengan bibir si gadis.

"Mana cawannya? Kupinjam sebentar untuk minum!"

"Tidak punya cawan!"

"Habis bagaimana minumnya?"

"Tuang saja, seperti aku "

“Tapi... tapi... bekasmu...."

Gadis itu meloncat bangun, lalu bertolak pinggang dan membungkuk memandang Keng Hong dengan mata terbelalak.

"Kau.... kau menghina aku, ya? Tolol kurang ajar!"

Keng Hong juga membelalakkan matanya, bukan karena marah melainkan karena heran. Ia benar-benar merasa tolol berhadapan dengan nona ini. "Menghina...? Aku.... aku tidak.... eh, apa sih maksudmu?"

"Kau jijik ya minum secara menggelogok seperti aku? Kau tidak sudi ya karena bibir guci itu berbekas mulutku? Kaukira aku ini penderita sakit paru-paru atau batuk kering? kau jijik?"

"Wah-wah-wah, harap jangan salah paham dan mengamuk tidak karuan. Bukan....bukan begitu, hanya....aku tadi khawatir kau tidak suka...."

"Tidak suka apa? kau benar-benar laki-laki cerewet. Sudah tolol, cerewet lagi! Sialan bertemu laki-laki sepertimu!"

Keng Hong tidak mempedulikannya lagi. Celaka, pikirnya. Kalau dilayani wanita ini, bisa habis dia di maki-maki. Ia lalu tidak mau mendengarkan lebih jauh melainkan menuangkan air ke dalam mulutnya, tidak peduli bibirnya bertemu dengan bekas bibir wanita itu. Air yang jernih dan sejuk.

"Terima Kasih,” katanya sambil mengembalikan guci air.

"Kenapa sedikit amat minumnya? Apakah kau takut minuman ini kucampuri racun?" Sambil berkata demikian, gadis itu kembali minum dengan cara menempelkan bibirnya pada bibir guci tanpa memilih-milih lagi. Heran sekali hati Keng Hong, mengapa menyaksikan bibir wanita itu menjepit bibir guci yang tadi diminumnya, hatinya berdebar dan mukanya terasa panas. Namun dia merasa mendongkol juga mendengar ucapan itu. Benar-benar wanita yang wataknya mau menang sendiri saja. Masa apa yang dia kerjakan selalu disalahkan? Tidak mau minum salah, sekarang sudah minum masih di sangka yang bukan-bukan. Ia menjadi gemas dan andaikata wanita ini adik perempuannya, tentu sudah dia jewer telinganya!

"Aku tidak takut kauberi racun,” jawabnya jengkel, dan dia lalu membuang muka sambil melanjutkan, "Sebetulnya, kau menghentikan perjalananku ada urusan apakah?"

Sampai lama gadis itu tidak berkata-kata, melainkan memandang wajah Keng Hong penuh perhatian. Pemuda itu tahu akan hal ini karena dia mengerling dari sudut matanya. Melihat gadis itu memperhatikannya, kembali dia mengalihkan pandang matanya. Kemudian terdengar gadis itu bertanya.

"Namamu siapa tadi? Dan berapa usiamu?"

"Cia Keng Hong.... Kalau tidak salah usiaku tujuh belas tahun.”

"Hemmm..., dan engkau murid Sin-jiu Kiam-ong? Heran benar aku....."

"Mengapa heran?"

"Seorang tokoh sakti seperti Sin-jiu Kiam-ong mengapa mempunyai seorang murid tolol seperti engkau?"

Makin panas rasa perut Keng Hong. Terlalu benara perempuan ini, pikirnya. "Kalau sudah tahu aku tolol, kenapa engkau menghentikan aku?"

Sampai lama wanita itu tidak berkata-kata, kemudian terdengar dia tertawa merdu, cekikikan. "Eh, kau marah?"

Hemmm, benar-benar tukang menggelitik hati orang, pikir Keng Hong. Gemas dia. Kalau tidak ingat bahwa dia itu wanita tentu sudah ditamparnya. Ia tidak menjawab, hanya menggeleng kepalanya.

"Ah, kau marah. Bilang saja kau marah. Ingin aku melihat bagaimana kalau kau marah!"

Digoda terus-menerus, Keng Hong menjadi merah mukanya dan dia memandang dengan niat untuk balas memaki. akan tetapi melihat mata yang bening indah itu, mulut yang manis tersenyum, dia menjadi tidak tega untuk memaki, maka dia menundukkan muka lagi.

"Kau memang tolol. Kalau tidak tolol, tentu tidak kau berikan Siang-bhok-kiam kepada tosu-tosu bau itu.”

"Itu hak mereka dan aku tidak mau membantah permintaan mereka. Mereka adalah tosu-tosu yang bijaksana dan baik, patut dipatuhi permintaan mereka. Pula, menggunakan kekerasan menentang, tak mungkin. Mereka amat lihai, terutama sekali Kiang Tojin dan ketua Kun-lun-pai.”

"Kau penakut dan bodoh! Heran aku mengapa Sin-jiu Kiam-ong mempunyai murid seperti engkau! Padahal menurut pendengaranku Sin-jiu Kiam-ong gagah perkasa tidak mengenal takut terhadap siapapun juga dan amat cerdik.”

Keng Hong menarik nafas panjang. Gurunya memang seorang yang selalu gembira dan tidak pernah mengenal takut. “Terserah wawasanmu. Aku tidak takut terhadap siapapun juga, dan tentang kebodohan..... hemmmm, tentu saja aku tidak secerdik suhu.”

Sunyi yang agak lama. Keng Hong menunduk karena teringat akan suhunya dan mulailah hilang kegembiraannya. Dalam hari-hari pertama semenjak dia sendirian di dunia ini, sudah terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan hatinya. Kalau begini terus nasibnya, bertemu seseorang wanita saja selalu mengejek dan memakinya, mana mungkin dia dapat meniru watak suhunya yang menghadapi segala sesuatu dengan gembira. Betapa mungkin dapat bergembira rasa hati ini kalau seorang wanita cantik jelita mencemoohkan dan memaki-makinya?

"Keng Hong...."

Pemuda itu terkejut. Benarkah wanita itu memanggilnya? Suaranya begitu halus dan dipanggil secara tiba-tiba setelah lama berdiam diri, dia terkejut juga.

"Hemmmm.....?" Ia menengok dan makin gugup melihat betapa sepasang mata itu memandangnya tajam-tajam dan mulut itu tersenyum manis akan tetapi hanya sebentar saja karena segera bibir yang merah itu cemberut lagi. "Kau memanggilku?"

"Kau laki-laki canggung benar...."

"Sudahlah, Nona. Kalau engkau menghentikan aku hanya untuk mencela, untuk apa....."

"Engkau marah?"

"Tidak"

"Engkau memang canggung, tidak seperti gurumu yang khabarnya..... ah, apakah kau tidak ingin tahu siapa aku, siapa namaku dan mengapa aku datang ke Kun-lun-pai?"

Baru Keng Hong teringat dan dia merasa bahwa dia memang kurang perhatian, "Siapakah nama Nona?"

Gadis itu menahan kekehnya. Sikap Keng Hong benar-benar canggung dan gugup sehingga kelihatan lucu. "Namaku Bhe Cui Im. Bagus tidak namaku?"

"Bagus.... bagus...." jawab Keng Hong cepat-cepat dengan pandang mata mendesak agar nona itu terus bercerita.

"Hi-hi-hik, kau ternyata pandai juga memuji...."

"Eh...., aku..... ah, teruskanlah, Nona.”

"Aku mendengar akan keramaian yang khabarnya akan terjadi di puncak Kun-lun-san yang disebut Kiam-kok-san, bahwa kabarnya tokoh-tokoh besar hitam dan putih hendak menjemput turunnya murid Sin-jiu Kiam-ong yang mewarisi Siang-bhok-kiam yang amat diinginkan seluruh tokoh Kang-ouw.”

"Termasuk engkau sendiri, nona.”

"Tentu saja! Apa kaukira aku ini anak kecil yang suka menonton keramaian begitu saja? Dan aku malah berhasil sekali, lebih berhasil daripada mereka yang menggunakan kekerasan. Mereka itu semua terusir oleh tosu-tosu bau Kun-lun-pai, belasan orang gagah di dunia Kang-ouw, sama sekali tidak berhasil, melihatnya pun tidak! aku sengaja membiarkan diriku tertangkap oleh tosu-tosu bau itu. Memang harus diakui bahwa kalau aku melawan, tidak akan mampu mengalahkan tosu-tosu yang demikian banyak, apalagi tosu she Kiang dan gurunya itu amat lihai. aku sengaja menjadi tawanan dan akalku berhasil memancing kau datang karena jeritan-jeritanku. akan tetapi siapa kira, karena ketololanmu, kauserahkan pedang itu begitu saja!"

Mulai lagi maki-makian! Kini mengertilah Keng Hong mengapa gadis ini telah dapat meloloskan diri dari ikatan kaki tangannya sebelum dilepaskan. Kiranya gadis itu memang sengaja membiarkan dirinya ditawan. Benar-benar seorang gadis yang cerdik sekali, dan juga penuh keberanian.

"Untuk apakah engkau menginginkan pedang Siang-bhok-kiam, nona?"

"Eh-eh-eh, masih bertanya untuk apa lagi? Tentu saja untuk mendapatkan rahasianya. Keng Hong, katakanlah terus terang, apakah engkau sudah mendapatkan pula rahasia penyimpanan kitab-kitab pusaka yang terdapat di pedang itu?" Pandang mata itu penuh gairah, agaknya bernafsu sekali gadis ini untuk mendapatkan kitab-kitab pusaka simpanan Sin-jiu Kiam-ong.

Keng Hong menggeleng kepalanya. "Belum dan agaknya tidak akan dapat kutemukan. Aku pun tidak ingin kembali ke Kun-lun-san. Nona, mengapakah mereka itu semua memperebutkan rahasia itu? Sampai mati-matian dan saling bermusuhan?"

Gadis itu menggerakkan alisnya dan memandang pemuda ini dengan heran. "Engkau benar-benar masih hijau! Sudahlah, yang penting sekali ini ceritakan kepadaku ilmu apa saja yang kaupelajari dari Sin-jiu Kiam-ong? Tadi kulihat engkau menggunakan ilmu yang mijizat, kau pandai menyedot sinkang orang lain, bahkan Kiang Tojin yang begitu lihai hampir mampus ditanganmu. Ilmu apakah itu? Sukarkah kau menceritakannya kepadaku?" Tiba-tiba saja sikap gadis ini manis sekali, wajahnya berseri matanya bersinar-sinar dan bibirnya tersenyum.

Keng Hong hanya bisa menggeleng kepalanya, kemudian melihat wajah cantik itu menjadi murung dia cepat berkata, "Sungguh mati, aku sendiri tidak mengerti. Aku sendiri membenci penyakit yang ada pada tubuhku ini. Aku tidak mempelajari apa-apa kecuali dasar-dasar ilmu silat dan beberapa pukulan dan permainan pedang. Kalau dibandingkan dengan orang lain, tentu tidak ada artinya .”

"Hemmm, engkau pandai merendahkan diri dan bersikap sungkan, alangkah jauh bedanya dengan gambaran tentang gurumu!" Akan tetapi kegalakkan ini segera berubah lagi, kini gadis itu tersenyum manis, dan membuka tutup guci hendak diminumnya. Akan tetapi dia mengerutkan kening dan berkata seorang diri, "Ah, air ini kurang sedap!" Ia lalu mengeluarkan sebuah bungkusan dari saku bajunya dan ketika dibuka, ternyata berisi daun-daun dan kembang-kembang kering. Dituangkannya sebungkus daun dan kembang kering ini ke dalam guci airnya, lalu dikocoknya guci itu sambil memandang Keng Hong. Ditatap sepasang mata seperti itu, Keng Hong menjadi tak enak hati kalau berdiam diri saja maka dia bertanya.

"Apakah yang kau masukkan dalam air minum itu?"

"Daun wangi dan kembang harum, pengganti teh yang amat lezat dan sedap!" jawab gadis itu sambil menggelogok air dari guci seperti tadi. Tercium bau yang harum keluar dari mulut guci. Gadis itu selesai minum lalu menyerahkan gucinya kepada Keng Hong sambil berkata, "Kau minumlah.”

Keng Hong menggeleng kepala. "Aku tidak haus.”

"Eh, biarpun tidak haus, air ini sekarang menjadi minuman enak. Coba cium, tidak harumkah?"

Gadis itu mendekatkan mukanya dan membuka mulutnya, menghembuskan nafas ke arah muka Keng Hong. Pemuda itu terkejut dan mukanya terasa panas sekali, jantungnya berdebar tegang. Ia merasa canggung dan juga jengah.

"Apakah kau takut kalau air ini kucampuri racun?"

Untuk mencegah gadis itu melakukan hal-hal aneh yang lebih hebat lagi, tanpa banyak cakap Keng Hong lalu menerima guci air dan menggelogoknya. Memang harum dan terasa agak manis, akan tetapi mulut dan lidahnya yang terlatih tiba-tiba merasakan sesuatu yang tidak asing baginya. Racun! Racun yang amat kuat dan jahat! Namun dia cepat dapat menekan perasaannya, tidak memperlihatkan sesuatu pada mukanya, bahkan lalu terus menuangkan air beracun itu sampai habis pindah ke dalam perutnya! Ketika dia menurunkan guci kosong dan berkata, "Lezat sekali!" gadis itu memandangnya dengan sepasang mata bersinar-sinar.

Sambil tersenyum-senyum gadis itu kini mengambil sesuatu dan karena yang diambilnya itu agaknya berada di saku dalam dari bajunya, ia lalu membuka dua kancing baju bagian atas. Cara ia membuka kancing secara terang-terangan begitu saja di depan Keng Hong, dengan gaya memikat dan manis sekali. Keng Hong terbelalak, lebih heran daripada kaget dan jengah, melihat betapa bagian atas baju itu terbuka memperlihatkan pakaian dalam yang berwarna merah muda dan sebagian dada yang memanjat. Gadis itu merogoh ke balik baju yang menutup dada dan mengeluarkan sebuah bungkusan merah. Ketika dibuka, ternyata bungkusan itu berisi belasan butir pil merah. Ia mengambil dua butir dan segera menelannya. Ia lalu mengembalikan bungkusan itu ke balik bajunya, kemudian seperti terlupa dan tidak mengancingkan kembali baju bagian atasnya terbuka itu. Keng Hong terpaksa menundukkan muka agar jangan melihat tonjolan dada yang berkulit putih halus itu.

"Keng Hong, lihatlah kepadaku!"

Terpaksa pemuda itu mengangkat mukanya memandang, mengusir ketegangan dan kebingungan hatinya. Gadis ini jelas berusaha hendak meracunnya. Apakah maksudnya? Mengapa hendak membunuhnya? Ia tahu bahwa racun itu dapat membunuh seorang lawan yang betapapun kuatnya.

"Lihatlah baik-baik, Keng Hong. Tidak indahkah rambutku? Tidak cantikkah wajahku? Cantik sekali, bukan?" Gadis itu tersenyum-senyum dan mengerlingkan matanya, bergaya dan menggerak-gerakkan mukanya agar dapat terpandang oleh pemuda itu dari depan, kiri dan kanan.

"Hemmmm, begitulah...." jawab Keng Hong yang masih mencari-cari sebab perbuatan gadis itu. Ia kini dapat menduga bahwa pil merah tadi adalah obat pemunah racun karena si gadis tadi pun minum air beracun.

"Lihat baik-baik, pandanglah...... tidak halus dan putih bersihkah kulitku, Keng Hong?" Suaranya kini amat halus merdu, penuh nada merayu dan tangannya sengaja menyingkap baju atasnya agar belahan dada tampak makin nyata.

Keng Hong menelan ludah. Jantungnya berdebar kencang dan cepat dia menekan dengan kekuatan batinnya. Belum pernah selama hidupnya dia mengalami hal seperti ini, dalam mimpi pun belum!

Gadis yang bernama Bhe Cui Im itu kini bangkit berdiri, gerakannya lemah gemulai, leher, pinggang dan lututnya melenggak-lenggok mengingatkan Keng Hong akan gerakan tubuh seekor ular.

"Pandanglah baik-baik, orang muda remaja! Tidak indahkah bentuk tubuhku? Lihat dadaku, pinggangku, pinggulku...."

"Hemmmm, begitulah....!" hanya demikian Keng Hong dapat berkata karena kerongkongannya tiba-tiba seperti menjadi kering kembali, seperti orang kehausan.

"Aku masih muda, cantik jelita, bertubuh menggiurkan! aku seorang gadis yang amat menarik hati, bukan?"

"Hemmm, begitulah!"

Tiba-tiba Cui Im menghentikan gayanya dan dengan kasar dia duduk di depan Keng Hong. Senyum manis kerling mata tajam kini lenyap dan gadis itu mengerutkan keningnya dengan bayangan hati kesal.

"Begitulah! Begitulah! Begitulah! Tidak bisa berkata lainkah, hai orang dungu? Sin-jiu Kiam-ong kabarnya merupakan pria tukang merayu wanita nomor satu di dunia, ahli merayu dan mencumbu wanita. Apakah gurumu yang....terkutuk itu tidak mengajarkan kepandaian merayu wanita kepadamu, heh, bocah tolol?"

Keng Hong tersenyum. Kini dia mulai mengenal wanita ini. Wanita yang cantik jelita, namun wanita yang amat berbahaya, seperti seekor ular berbisa. Timbul pula kegembiraannya karena terhadap seorang wanita seperti ini, dia tidak perlu bersikap canggung, malu-malu atau takut-takut. Ia menggelengkan kepala dan tersenyum mengejek.

"Kau sudah mau mampus, tahukah? Kau calon bangkai makanan cacing! Hendak kaulihat ke mana perginya wajahmu yang tampan itu kalau sudah digerogoti cacing nanti. Kau tahu bahwa engkau telah minum racun? di dalam air tadi, tolol, terdapat racun yang mematikan. Racun bunga Siang-tok-hwa (Bunga Racun Wangi) yang kini telah memasuki perutmu, yang akan menghancurkan ususmu, membuat isi perutmu menjadi busuk. Tahukah engkau? Dan obat pemunahnya hanya berada padaku, obat pemunah pil merah seperti yang kutelan tadi. Kalau kau tidak kutolong, nyawamu pasti akan melayang dalam waktu dua puluh empat jam! Nyawamu berada di tanganku sekarang, mengerti?"

Keng Hong mengangguk-angguk. Mengertilah dia sekarang, teringatlah dia bahwa racun yang tidak asing baginya itu adalah Siang-tok-hwa. Tentu saja dia mengenalnya baik-baik, dan tadi dia terlupa karena terpesona oleh sikap dan gaya gadis luar biasa ini.

"Cui Im, apakah kehendakmu? Apakah maksudnya semua ini? Mengapa kau meracuniku?"

"Karena tolol engkau menjadi menyebalkan. Segala apa tidak mengerti. Otakmu tumpul benar perlu dicuci! Tentu saja nyawamu kucengkeram untuk ditukar dengan rahasia barang pusaka gurumu yang.... terkutuk!"

"Diam dan jangan memaki mendiang suhu atau.... aku takkan sudi melayanimu bicara lagi!"

Terbelalak mata gadis itu mendengar bentakan yang tak disangka-sangkanya akan dapat dikeluarkan oleh mulut pemuda tolol itu. Akan tetapi hanya sebentar karena ia mengira bahwa hal itu timbul karena kebaktian bocah ini terhadap mendiang gurunya.

"Engkau telah menyerahkan Siang-bhok-kiam kepada tosu-tosu bau Kun-lun-pai. Akan tetapi pedang itu bagiku tidak ada artinya. Belum tentu bisa menangkan pedangku ini!" Gadis itu meraba pinggangnya dan.... "Swingggg...." tangannya sudah memegang sebatang pedang yang mengeluarkan sinar kemerahan. Kiranya pedang itu amat tipis, terbuat daripada baja lemas sehingga dapat dipergunakan sebagai sabuk! Kini gadis itu menodongkan ujung pedangnya ke depan dada Keng Hong.

"Aku tidak butuh Siang-bhok-kiam! Yang kubutuhkan kitab-kitab pusaka dan barang-barang mustika peninggalan suhumu. Engkau turun dari Kiam-kok-san hanya membawa pedang, berarti bahwa pusaka-pusaka warisan itu masih belum kau bawa turun. Kauantar aku kesana, berikan semua itu kepadaku, tunjukkan rahasianya, dan mungkin nyawamu akan kubebaskan, dan selain itu.... hemmm, kalau kau tidak terlalu tolol, kita dapat menjadi sahabat baik!"

Keng Hong bukan seorang bodoh sungguhpun kelihatannya dia ketolol-tololan. Ia telah di racun, akan tetapi racun yang ada obat pemunahnya pada gadis itu. Berarti bahwa dia tidak akan dibunuh. Gadis ini menghendaki barang-barang pusaka gurunya, tentu saja tidak akan membunuhnya, melainkan hendak memaksanya dengan jalan meracuninya. Benar-benar seorang gadis yang berhati kejam! Mengapa ada seorang gadis cantik jelita seperti ini berhati sekejam itu? Ia merasa penasaran sekali dan perasaan inilah yang mendorongnya untuk menyaksikan lebih lanjut sampai di mana kekejaman gadis ini dan apa yang akan dilakukan atas dirinya.

"Aku tidak menerima warisan pusaka-pusaka yang kaumaksudkan, dan aku pun tidak tahu rahasianya.”

"Kau masih berani menyangkal dan menolak permintaanku? Kau murid tunggalnya, tak mungkin kau tidak mewarisi pusaka-pusaka itu, apalagi Siang-bhok-kiam diberikan kepadamu. Ingat, nyaawamu berada di tanganku, tahu? Andaikata engkau memberontak, engkau pun tidak akan mampu menandingi pedangku. Andaikata kau mempergunakan ilmu mujizatmu dan berhasil melarikan diri, dalam waktu sehari semalam ususmu sudah hancur berantakan dan nyawamu pun takkan tertolong. Jangan bodoh, Keng Hong. Lebih baik engkau menuruti permintaanku agar engkau tetap hidup dan menikmati kesenangan bersama aku.”

"Cui Im, engkaulah yang bodoh dan mengecewakan hati. Mengapa engkau menurutkan nafsu buruk hendak menginginkan barang orang lain? Kalau engkau suka menurut nasehatku, insyaflah dan sadarlah bahwa engkau terseret oleh nafsumu menuju ke jurang kesesatan. Urungkan niatmu yang buruk itu karena sesungguhnya aku benar-benar tidak pernah melihat di mana adanya pusaka-pusaka peninggalan suhu. Aku tidak berhasil mencarinya dan aku tidak berbohong.”

"Kalau begitu, biar aku melihat engkau mampus dengan isi perut berantakan!" bentak Cui Im dengan suara marah dan kecewa sekali.

Tiba-tiba terdengar suara bentakan keras "Tidak boleh dibunuh begitu saja, Tok-sian-li (Dewi Beracun)!" Dan tampak bayangan orang berkelebat.

"Benar sekali, tidak boleh dibunuh sebelum menyerahkan pusaka peninggalan Kiam-ong kepadaku!" berkelebat pula bayangan lain.

Kiranya yang muncul ini adalah dua orang tua yang pernah dilihat Keng Hong pada lima tahun yang lalu. Mereka berdua itu adalah dua di antara sembilan orang sakti yang pernah menyerbu Sin-jiu Kiam-ong. Yang pertama adalah nenek tua renta yang dia ingat bernama Lu Sian Cu dan berjuluk Kiu-bwe Toanio. Gurunya pernah bercerita kepadanya tentang nenek ini. Menurut cerita itu, Kiu-bwe Toanio dahulunya adalah seorang pendekar wanita yang cantik jelita dan lihai, namun yang jatuh cinta kepada gurunya yang tampan dan gagah. akan tetapi ternyata wanita ini di kecewakan oleh Sin-jiu Kiam-ong. Kiam-ong tidak pernah membiarkan hatinya jatuh cinta dan perhubungannya dengan Lu Sian Cu hanya dianggapnya sebagai permainan cinta petualangan biasa saja. sebaliknya, cinta kasih wanita itu mendalam sehingga hatinya menjadi hancur dan patah ketika Kiam-ong meninggalkannya. Adapun orang ke dua adalah si kakek tua Sin-to Gi-hiap. Pendekar Budiman bergolok sakti yang juga menaruh dendam sakit hati terhadap Kiam-ong untuk urusan pribadi. Isterinya yang sesungguhnya adalah hasil rampasan dari seorang kepala rampok, isteri yang cantik jelita dan amat dicintanya, telah "dicuri" oleh Kiam-ong yang terkenal pandai merayu wanita sehingga di antara isterinya dan Kiam-ong terjadi perhubungan rahasia.

Melihat dua orang tua yang datang ini, Bhe Cui Im tersenyum mengejek, lalu membalikkan tubuh menghadapi mereka sambil memandang tajam dan melintangkan pedang merah itu di depan dadanya, sedangkan tangan kirinya bertolak pinggang.

"Hemmm, Kiu-bwe Toanio dan Sinto Gi-hiap, bukan? Kalian sudah lari terkencing-kencing diusir oleh tosu-tosu bau Kun-lun-pai, sekarang muncul lagi di depanku dengan niat apakah?"

Keng Hong memandang dengan heran. Makin tidak mengertilah dia akan keadaan Cui Im. Gadis cantik jelita yang amat menarik hati ini, yang tadinya amat galak dan kadang-kadang juga amat halus memikat, kemudian terbukti berhati palsu dan keji, kini menghadapi dua orang tokoh kang-ouw yang tua seperti menghadapi dua orang biasa saja! Tokoh macam apakah gadis ini di dalam dunia persilatan? Sampai-sampai dua orang locianpwe (orang tua tingkat tinggi) tidak dipandang mata olehnya, dan yang lebih mengherankan lagi, dua orang tua itu pun agaknya tidak menganggapnya sebagai gadis muda.

"Ang-kiam Tok-sian-li (Dewi Racun Berpedang Merah), lekas keluarkan pil pemunah racun. Orang muda ini tidak boleh dibunuh," kata sin-to Gi-hiap.

"Benar sekali, Tok-sian-li. Siang-bhok-kiam sudah terampas Kun-lun-pai, kalau pemuda ini dibunuh, sungguh sayang sekali. Kasihan murid Sin-jiu Kiam-ong yang tidak bersalah apa-apa...." sambung Kiu-bwe Toanio.

Tiba-tiba Cui Im tertawa bergelak, tanpa menutupi mulutnya, sikapnya kasar sekali. Keng Hong makin terheran-heran. Kiranya Bhe Cui Kim mempunyai julukan yang demikian menyeramkan. Ang-kiam Tok-sian-li (Dewi Beracun Berpedang Merah)! Tentu seorang tokoh besar dari golongan sesat! Pantas saja Kiang Tojin menyatakan bahwa gadis cantik itu dari dunia hitam, seorang tokoh kaum sesat. Akan tetapi masih begitu muda! Masa memiliki tingkat kedudukan yang sejajar dengan Kiu-bwe Toanio dan Sin-to Gi-hiap?

"Hi-hi-hik! Kiu-bwe Toanio, alangkah lucunya melihat lagakmu. Engkau terkenal sebagai pendekar wanita sejak muda, akan tetapi kiranya engkau pun hanya seorang yang pada lahirnya saja pendekar padahal sebenarnya di dalam hatimu mengandung maksud-maksud yang tidak lebih bersih daripada maksud hatiku. Kau pura-pura merasa kasihan dan ingin menolong pemuda ini, padahal yang kauinginkan adalah benda-benda pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong. Aku pun menghendaki benda-benda itu dan aku berterus terang, tidak pura-pura seperti engkau!"

"Hemmmm, Tok-sian-li. Hanya karena mengingat akan nama gurumu maka aku seorang tua masih berlaku hormat kepadamu. Jangan engkau membuka mulut sembarangan saja! Memang aku menghendaki barang-barang pusaka Sin-jiu Kiam-ong, akan tetapi hal itu adalah karena dosa-dosa Kiam-ong kepadaku yang harus dia bayar lunas dengan benda-benda pusaka peninggalannya! Tidak seperti engkau yang hendak merampok begitu saja dengan menekan muridnya.”

"Hi-hi-hik, nenek tua yang tak tahu malu! Engkau sendiri yang dahulu tergila-gila kepada Kiam-ong, engkau sendiri yang mengejar-ngejarnya, ingin selalu berada dalam pelukannya, menikmati cumbu rayu dan belaiannya! Kiam-ong tidak sudi menjadi suamimu, kenapa kau katakan hal ini dosa? Hi-hi-hik, sungguh menjemukan!"

"Tok-sian-li, biar engkau menggunakan nama besar gurumu, penghinaanmu harus dibayar dengan nyawa!” Kiu-bwe Toanio marah sekali dan ia menggerakkan pecutnya yang berekor sembilan itu di udara sehingga terdengar suara ledakan-ledakan "Tar-tar-tar....!!"

"Huh, pecutmu itu hanya dapat untuk menakut-nakuti anjing dan anak-anak kecil!" Cui Im mengejek dan tiba-tiba tangan kirinya bergerak. Sinar-sinar merah yang kecil-kecil menyambar ke arah nenek itu dengan kecepatan laksana kilat menyambar. Itulah Ang-tok-ciam (Jarum Racun Merah) yang amat berbahaya, sekali sambit secara beruntun ada dua puluh satu buah jarum halus menyambar lawan. Setiap batang jarum merupakan tangan maut karena racun yang dikandungnya cukup untuk merenggut nyawa orang. Kini dua puluh satu buah jarum menyambar dan mengarah jalan-jalan darah yang penting, dapat dibayangkan betapa hebatnya!

"Perempuan keji!" Kiu-bwe Toanio memaki, akan tetapi dia sibuk juga memutar senjata cambuknya untuk melindungi tubuh. Hanya dengan memutar cambuk itu cepat-cepat maka ia dapat menghindarkan jarum-jarum yang tak berani ia anggap ringan itu.

"Nenek tua mampuslah!" Cui Im telah melesat ke depan dan pedangnya berubah menjadi sinar merah yang bergulung-gulung ketika ia menerjang lawannya sebagai serangan lanjutan daripada jarum-jarumnya. Gadis ini ternyata selain pandai melepas jarum, juga amat cerdik. Ia maklum bahwa Kiu-bwe Toanio tak mungkin dapat mudah dirobohkan dengan jarum-jarumnya, maka serangan jarumnya tadi hanyalah untuk mengacau lawan, dan kini selagi lawannya memutar cambuk menghindarkan diri daripada ancaman jarum-jarum, ia telah menerjang dengan pedangnya yang gerakannya amat cepat dan kuat. Keng Hong yang melihat gerakan gadis ini diam-diam kagum dan juga terkejut sekali. Dilihat gerakannya, ilmu pedang gadis itu benar-benar lihai bukan main dan agaknya tidak berada di sebelah bawah tingkat kesembilan orang sakti yang pernah menyerbu suhunya.

"Tar-tar-tar.... wuuuuutttttt..... trang-trang....!"

Sembilan ekor ujung cambuk itu dimainkan di tangan Kiu-bwe Toanio seolah-olah menjadi sembilan ekor ular yang bergerak hidup, sebagian lagi membalas dengan totokan-totokan kilat yang disusul dengan gerakan mengait! Betapapun hebat gerakan pedang di tangan Cui Im, namun dihadapi sembilan ujung cambuk yang menangkis dan balas menyerang itu dia terkejut sekali. Pedangnya diputar dan ia mengeluarkan pekik nyaring, disusul jerit kaget Kiu-bwe Toanio. Sejenak kedua orang ini lenyap menjadi bayangan yang berputaran di antara sinar merah dan sinar hitam cambuk itu, kemudian keduanya mencelat ke belakang didahului Cui Im yang terpaksa melompat jauh untuk menghindarkan serangan enam buah kaitan. Ia turun dan melintangkan pedangnya dengan wajah agak berubah karena ia kini maklum betapa lihai nenek itu dan yang ternyata merupakan lawan yang berat juga. Di lain pihak, nenek itu mengeluarkan suara gerengan marah karena tiga buah kaitan berikut tiga ujung cambuknya telah buntung oleh pedang yang amat lihai di tangan Cui Im.

Pada saat itu, Sin-to Gi-hiap yang melihat kesempatan baik, sudah meloncat mendekati Keng Hong dan berkata, "Orang muda, kau harus ikut bersamaku sebagai wakil suhumu!"

Kakek itu dengan golok telanjang di tangan kanan menyambar Keng Hong dengan tangan kirinya, hendak mencengkram pundak pemuda itu. Sebelum Keng Hong sempat mengelak, sinar merah berkelebat dan kakek itu cepat menarik kembali tangannya karena kalau dilanjutkan, tentu akan buntung terbabat pedang yang dibacokan Cu Im.

"Kakek tua bangka, jangan sentuh pemuda ini!"

Sin-to Gi-hiap menghela napas panjang. "Nona, mengingat gurumu, biarlah kami orang tua mengalah. Marilah kita berunding baik-baik. Benda-benda pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong amatlah banyaknya, kalau kita bertiga membagi rata, masih amat banyak bagian kita masing-masing. Kurasa Kiu-bwe Toanio juga tidak keberatan."

Kiu-bwe Toanio menggerak-gerakkan cambuknya. Ia maklum bahwa gadis itu amat lihai ilmu pedangnya, apalagi kalau ia mengingat guru gadis itu, benar-benar tak boleh dijadikan lawan dan jauh lebih baik dijadikan kawan. Maka ia mengangguk dan menggumam, "Asal orang muda tidak kurang ajar terhadap orang tua, aku pun bukan seorang serakah yang ingin memiliki seluruh pusaka."

Cu Im melangkah maju mendekati Keng Hong lalu memegang tangan pemuda itu dengan tangan kanannya yang menyembunyikan pedang di balik lengan. "Uh, kalian mau enaknya saja! Siapa yang lebih dulu mendapatkan murid Sin-jiu Kiam-ong ini? Aku! Kalau kalian semua lari terbirit-birit diusir tosu-tosu Kun-lun-pai, aku malah membiarkan diriku dijadikan seorang tawanan! Setelah aku berhasil mendapatkan pemuda ini, kalian masing-masing mau minta bagian! Benar-benar tak tahu malu!" Tiba-tiba gadis itu menggerakan tangan kiri, membanting sesuatu di depan dua orang lawan itu dan terdengarlah ledakan keras diikuti asap hitam mengebul. Dua orang tua itu adalah orang-orang sakti yang sudah berpengalaman. Cepat mereka melompat mundur menjauhkan diri, maklum betapa berbahaya asap hitam yang timbul dari ledakan itu. Dan memang tepat sekali dugaan mereka karena kalau keduanya tidak menjauhkan diri dan sampai menghisap asap hitam itu, nyawa mereka terancam maut yang disebar oleh asap hitam yang amat beracun itu! Ketika mereka meloncat dengan jalan memutari asap itu, ternyata Cui Im dan Keng Hong sudah tidak kelihatan lagi bayangannya.

"Kurang ajar! Mari kita kejar!" Kiu-bwe Toanio berseru dan menggerak-gerakan cambuknya yang tinggal berekor enam itu. "Tar-tar-tar!" Dua orang tokoh lihai ini lalu melesat dan melakukan pengejaran akan tetapi karena mereka berdua tidak melihat ke jurusan mana larinya Cui Im, mereka mengejar secara ngawur dan ternyata mereka menuju ke jurusan yang berlawanan. Kalau Cui Im yang mengempit tubuh Keng Hong lari ke selatan, mereka mengejar ke barat! ***

"Keng Hong, kita beristirahat dan bermalam di sini!" Kata Cui Im sambil melempar tubuh Keng Hong di atas rumput hijau dalam sebuah hutan. Senja telah berlalu dan keadaan cuaca di dalam hutan sudah remang-remang. Cui Im lalu menyalakan api dan membuat api unggun sehingga di situ selain hangat dan tidak diganggu nyamuk, juga agak terang. Kemudian gadis cantik itu duduk mendekati Keng Hong yang bersandar pada batang pohon.

"Keng Hong, waktumu sudah terlewat sehari, tinggal malam ini. Kalau kau tidak kuberi obat penawar, besok pagi engkau mampus."

Keng Hong menarik napas panjang memperlihatkan muka duka padahal di dalam hatinya dia menjadi geli. "Mampus ya biarlah, malah tidak repot menjadi rebutan seperti sekarang ini!"

"Eh, eh, eh! engkau masih muda remaja, baru tujuh belas tahun usiamu, belum mengecap kenikmatan hidup, mengapa ingin mati?"

"Ingin mati sih tidak, akan tetapi kalau engkau meracuniku sampai mati, aku bisa berbuat apakah?"

"Engkau tidak ngeri? Tidak takut mati?"

"Mengapa takut? Apakah engkau takut mati, Cui Im?"

Gadis itu mengangguk, memandang wajah tampan itu dengan heran dan kagum.

"Hemmm, alangkah anehnya kalau ada orang takut mati. Mati itu apa sih? Siapa yang pernah mengalaminya? Siapa yang mengetahuinya bagaimana kalau sudah mati? Apakah menakutkan? Kalau belum tahu, perlu apa takut? Aku tidak takut mati karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi di sana, seperti juga dahulu aku tidak takut lahir karena ketika itupun aku tidak tahu bagaimana itu yang disebut hidup!"

"Wah, engkau ini selain tolol dan bandel, juga aneh!"

"Engkau lebih aneh lagi. Ketika berada di Kun-lun-san, engkau membiarkan dirimu menjadi tawanan, berpura-pura seperti orang yang tidak memiliki kepandaian, padahal tadi ketika menghadapi Kiu-bwe Toanio, engkau lihai sekali."

Cui Im tertawa, giginya berkilauan disentuh sinar api unggun. "Kalau tosu-tosu bau dari Kun-lun-pai itu mengetahui bahwa aku adalah aku, tentu mereka tidak akan mudah melepaskan aku pergi, biarpun engkau yang memintanya."

"Engkau siapa sih? Aku dengar tadi mereka menyebutmu Ang-kiam Tok-sian-li. Julukan yang bagus dan juga mengerikan! Ang-kiam (Pedang Merah) dan Sian-li (Bidadari) memang bagus, akan tetapi terselip kata-kata Tok (Racun), sayang sekali. Dan buktinya engkau memang tukang meracuni orang! Mengapa seorang gadis muda jelita macam engkau begini ganas, sungguh sukar dimengerti."

Cui Im tertawa lagi dan memegang lengan pemuda itu dengan sikap mesra.

"Kau bilang aku jelita? Benarkah?"

"Kalau aku tidak bilang kau jelita, berarti aku membohongi diri sendiri. Engkau memang jelita, Cui Im."

Gadis itu makin girang hatinya. "Aduh, kalau kau selalu bersikap manis kepadaku, aku menjadi tidak tega membunuhmu, Keng Hong. Kau tampan sekali, dan banyak gadis akan kehilangan hatinya kelak kalau berhadapan denganmu."

Jantung Keng Hong berdebar, dia selamanya belum pernah berdekatan dengan wanita muda dan cantik, belum pernah dipuji dan di rayu. Cepat dia menekan perasaannya dan mengalihkan percakapan.

"Kiu-bwe Toanio dan Sin-to Gi-hiap adalah dua orang locianpwe yang berilmu tinggi, akan tetapi terhadapmu seperti orang jerih, dan selalu menyebut-nyebut gurumu. Siapa sih gurumu yang agaknya amat mereka takuti itu, Cui Im?"

"Guruku adalah orang yang terpandai di kolong langit ini! Agaknya hanya Sin-jiu Kiam-ong saja yang dapat menandinginya, akan tetapi setelah Kiam-ong meninggal, guruku menjadi jago nomer satu di dunia! Dia adalah orang pertama dari Bu-tek Su-kwi (Empat Iblis Tanpa Tanding) yang menguasai daerah selatan dan berjuluk Lam-hai Sin-ni (Dewi Laut Selatan). Akan tetapi..... ah, Keng Hong, marilah bawa aku ketempat rahasia penyimpanan kitab-kitab rahasia suhumu, kita mempelajari bersama dan..... kita berdua akan menjadi sepasang jago nomer satu di dunia. Guruku sendiri takan mampu melawan kita. Marilah, kekasih.....!" Cui Im merangkul leher Keng Hong. Tercium keharuman yang amat sedap dari muka dan rambut gadis itu, membuat Keng Hong menjadi makin berdebar jantungnya dan terpaksa dia memejamkan matanya

"Bagaimana, Keng Hong? kuberi obat pemunah, ya? Kemudian.... kemudian kita bersenang-senang malam ini besok kita pergi ke Kun-lun-san, ke Kiam-kok-san dan mengambil semua pusaka peninggalan suhumu.... ya??"

Keng Hong sudah memejamkan mata dan sudah mengumpulkan seluruh panca indra untuk menekan batinnya yang bagaikan air yang tenang mulai diguncang nafsu. Ia menggeleng kepala dan berbisik, "Aku tidak tahu di mana tempatnya itu."

Cui Im melepaskan rangkulanya dan lenyap pula kemesraanya. Ia mendengus dan menjauhkan diri, duduk merenung di depan api unggun. Keng Hong membuka matanya dan memandang punggung gadis itu yang menggunakan sepuluh jari tanganya menekuk-nekuk batang rumput, berkali-kali menarik napas panjang dan kelihatanya jengkel sekali. Keng Hong terheran mengapa ada seorang gadis secantik itu, sehalus itu, berhati kejam dan jahat, mengejar kepandaian secara membuta. Ia merasa sayang sekali. Kalua dia terbayang akan belaian dan bujuk rayu tadi, kakinya menggigil. Apa yang akan diperbuat gurunya, andaikata Sin-jiu Kiam-ong yang menjadi dia? Dia tidak takut akan racun yang memasuki perutnya tadi. Selama dia berguru kepada Sin-jiu Kiam-ong, gurunya itu setiap hari memberinya minum segala macam racun, sedikit demi sedikit!

"Kaki tangan seorang lawan dapat kauhadapi dengan kaki tangan pula, muridku," demikian gurunya memberi keterangan, "akan tetapi lawan yang licik suka mempergunakan racun yang dicampur dalam makanan atau minuman. Banyak terdapat racun yang jahat sekali dan yang tidak berbau apa-apa, tidak terasa apa-apa. Namun dengan kebiasaan minum sedikit racun setiap hari, lidahmu akan menjadi biasa dan dapat mengenal setiap racun yang dicampur makanan atau minuman. Juga, dengan cara sedikit demi sedikit, makin lama makin tambah takarannya masukan racun-racun itu ke perut, engkau akan menjadi kebal terhadap segala macam racun."

Demikianlah, ketika dia minum air yang dicampur racun, dia segera mengenal racun itu, akan tetapi mengandalkan kekebalan perutnya dia tidak khawatir dan minum terus sampai habis. Dengan sinkang yang disalurkan ke perut, dia tadi telah mengumpulkan racun di perutnya dan dalam perjalanan tadi ketika dia dipanggul Cui Im, diam-diam dia telah memuntahkan kembali racun itu sehingga kini perutnya bersih daripada racun.

Kembali Keng Hong memperhatikan Cui Im. Kini gadis itu agak miring duduknya sehingga tampak dari samping wajah yang cantik itu. Wajah yang disinari api merah, sedikit tertutup juntaian rambut hitam, benar-benar amat mempesonakan. Ketika tiba-tiba gadis itu menoleh ke arahnya, seolah-olah terasa pandang matanya, Keng Hong cepat meramkan matanya. Dia memang lelah dan mengantuk, maka kini dia mengambil ketetapan hati untuk meram terus dan tidur, tidak lagi mempedulikan gadis itu.

"Keng Hong....!"

Pemuda itu membuka matanya dan memandang gadis yang bersimpuh di depannya. "Enak saja kau tidur!"

"Habis mau apa lagi? Mengapa kau mengganggu orang tidur?"

Gadis itu makin gemas. Orang ini sudah terkena racun, sudah menghadapi kematian, namun masih enak-enak saja. Biarpun seorang di antara tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw macam mereka yang disebut locianpwe, kiranya akan menjadi gelisah dan akan berdaya sedapat mungkin untuk menyelamatkan nyawanya. Akan tetapi pemuda ini enak-enak saja tidur. Selain heran dan penasaran, juga dia menjadi kagum dan makin tertarik karena sukarlah mencari seorang pemuda setenang ini. Ataukah memang karena tololnya? Dia tidak menghendaki kematian Keng Hong, karena kematian pemuda ini tidak saja akan membuyarkan cita-citanya mendapatkan kitab-kitab simpanan Kiam-ong, juga gurunya akan menjadi marah sekali kepadanya. Apa yang ia harus lakukan untuk dapat membujuk pemuda ini?

"Keng Hong, apakah kau tidak merasa sakit?"

Keng Hong menggeleng kepala.

"Perutmu tidak mulas? Racun itu tentu telah mulai bekerja."

Kembali pemuda itu hanya menggeleng.

"Kau memang aneh. Karena umurmu tinggal malam ini, biarlah kuhadiahi engkau arak wangi yang kubawa. Jarang ada orang kuberi arak ini, kalau bukan orang yang kusenangi."

"Hemmm, engkau senang kepadaku?"

Cui Im memandang dan melempar kerling memikat, senyumnya kini manis sekali. "Ah, betapa bodohnya engkau Keng Hong. Aku senang kepadamu, aku cinta kepadamu, masih butakah matamu? Aku tidak ingin melihat engkau mati besok."

"Engkau ingin memaksa aku mencari pusaka suhu, bukan tidak ingin melihat aku mati."

"Betul juga, akan tetapi aku cinta padamu. Kau seorang pemuda yang jantan, tabah dan luar biasa. Mari, kuhadiahi engkau arak wangi." Cui Im mengeluarkan sebuah guci arak kecil dari balik bajunya, membuka tutupnya dan terciumlah bau yang amat wangi, seperti puluhan macam bunga wangi dikumpulkan dalam guci arak itu. Keng Hong tidak banyak cakap lagi, namun dia haus dan bau arak itu amat sedap. Ia menerima guci itu dan menodongkan ke mulutnya.

"Racun atau obat penawar?" tanyanya sebelum minum.

Cui Im makin kagum. Di dunia ini tak mungkin menjumpai orang seperti pemuda ini, yang begitu tenang dan dingin menghadapi ancaman racun, padahal pemuda itu sudah mengenal namanya sebagai Tok-sianli (Dewi Beracun)! Hebat bukan main!

"Kalau arak ini beracun, bagaimana?" Ia bertanya, memancing.

"Racun pun boleh, asal enak diminum. Aku sudah diracuni, ditambah lagi sedikit atau banyak apa bedanya?" Jawab Keng Hong lalu meminum arak itu dari guci. Lidahnya segera dapat merasa bahwa di dalam arak ada racunnya, akan tetapi racun ini berbeda dengan racun tadi. Racun yang berada di dalam arak ini racun yang amat halus, bahkan bukan racun cair karena begitu diminum, racun itu menjadi segumpal hawa yang harum. Dia tidak tahu racun apa ini, akan tetapi dia mengerahkan sinkangnya menerima racun itu dan membiarkan gumpalan hawa wangi itu berkumpul di dalam dadanya. Setelah guci kecil itu kosong, baru dia mengembalikannya kepada Cui Im, dan mengusap mulut dengan ujung lengan bajunya.

Cui Im memandang dengan mata terbelalak, kemudian dia tersenyum-senyum ketika melihat pemuda itu menyandarkan diri di batang pohon dan meramkan mata seperti orang mengantuk. Ia percaya penuh akan kemanjuran racun araknya dan mengharapkan hasil sekali ini. Arak yang dicampur racun itu amatlah kuatnya dan merupakan arak buatan gurunya yang ampuh sekali. Bukan racun untuk membunuh, melainkan racun untuk pembangkit berahi, racun perangsang yang dibuat dari beberapa macam lalat dan semut dicampur sari bunga-bunga wangi. Penduduk kepulauan di selatan mempergunakan sebagian kecil saja dengan cara pembuatan sederhana untuk meracuni kuda yang hendak dikawinkan. Tanpa racun ini, sukar mengawinkan kuda betina. Kini, yang diminumkan oleh Cui Im kepada Keng Hong merupakan sarinya, kerasnya bukan main dan kiranya cukup untuk pembangkit nafsu berahi dua puluh ekor kuda!

Keng Hong yang meramkan mata itu sesungguhnya tidak tidur. Dia mendengarkan gerak-gerik Cui Im yang menurut pendengaranya seperti orang gelisah. Akan tetapi dia tidak perduli dan meramkan mata, mengheningkan cipta dan mengerahkan sinkang untuk menahan gumpalan hawa beracun yang aneh itu. Ia tahu bahwa racun ini amat berbahaya, sungguhpun dia tidak tahu bagaimana bahayanya. Tubuhnya menjadi panas, padahal racun itu masih tertahan olehnya. Ia menanti saat baik untuk menghembuskan keluar racun itu di luar tahu Cui Im, karena dia pun hanya ingin melihat apa yang akan dilakukan gadis itu selanjutnya.

Akan tetapi, apa yang akan dihadapinya sungguh di luar dugaannya sama sekali. Lewat tengah malam, Keng Hong yang mengantuk itu tiba-tiba mendengar panggilan yang mesra dan halus, dibisikan dekat telinganya.

"Keng Hong....., ah, Keng Hong.....!"

Ia membuka matanya. Api unggun masih menyala dan di antara sinar merah api itu, dia melihat Cui Im merangkul dan membelainya, lengan yang telanjang membelit lehernya seperti ular, dada yang tak ditutupi apa-apa membusung dan menekan dadanya sendiri. Gadis itu memeluk dan membelainya dalam keadaan telanjang bulat. Keng Hong membelalakan matanya, mulutnya ternganga dan dapat dibayangkan betapa gagetnya ketika pada saat itu Cui Im mencium mulutnya yang sedang ternganga itu sehingga mulut mereka bertemu seperti guci arak dengan sumbatnya. Karena kaget, Keng Hong mengeluarkan suara "ahhh!" dari dadanya dan.... segumpal hawa racun wangi yang dia kumpulkan dan tahan dengan kekuatan sinkang telah terhembus keluar, memasuki mulut Cui Im yang terbuka dan langsung ke dalam dada gadis itu.

"Aiiihhhh.....!" Cui Im menjerit dan terjengkang ke belakang. Ia terbatuk-batuk, memegangi leher yang serasa tercekik, tubuhnya mengeliat-geliat seperti seekor ular terkena api. Keng Hong memandang dengan mata terbelalak, setengah kasihan, setengah geli bahwa tanpa disengaja racun itu meracuni Cui Im sendiri, juga setengah kagum menyaksikan betapa tubuh yang indah itu mengeliat-geliat seperti itu. Harus dia akui bahwa selama hidupnya belum pernah dia menyaksikan keindahan tubuh seperti tubuh Cui Im. Dalam mimpi pun tak pernah.Kini barulah dia mengerti mengapa mendiang Sin-jiu Kiam-ong, suhunya, dikatakan mata keranjang dan tukang memikat wanita. Kiranya tubuh indah dan wajah cantik seperti yang dimiliki Cui Im inilah yang membuat suhunya seperti itu. Hati pria mana takkan tertarik? Bukankah keindahan wanita memang khusus diciptakan untuk menarik hati pria? Kerbau, kuda, burung dan segala macam binatang tentu akan tertarik akan keindahan wajah dan tubuh seorang wanita!

"Tamasya alam yang indah memang minta kita pandang dan kagumi. Bunga-bunga cantik wangi memang minta kita pandang dan ciumi. Wanita-wanita cantik jelita memang minta kita cinta dengan kasih mesra. Engkau bahagia dalam hidupmu kalau tidak terjerat cinta kasih yang mendalam, muridku. Sekali terjerat, engkau akan menikah, dan sekali kau menikah, berarti engkau memberikan kaki tanganmu untuk diikat selama-lamanya dengan kewajiban-kewajiban! Karena itu jauhkan diri daripada ikatan cinta kasih yang mendalam, sungguhpun engkau telah berhubungan dengan banyak wanita. Kalau memang engkau suka, jangan menolak cinta wanita, hanya jangan berikan hatimu, jangan berikan cinta kasihmu, cukup kau berikan tubuhmu." Demikianlah pernah dia mendengar wejangan gurunya yang terkenal sebagai seorang pemikat wanita! Tadinya, wejangan seperti itu hanya lewat saja di hatinya karena belum terpikirkan olehnya bahwa dia akan menghadapi hal-hal seperti itu, tidak terpikirkan olehnya bahwa dia akan bertemu dengan wanita-wanita sehingga timbul persoalan cinta kasih. Akan tetapi sekarang, baru saja dia turun dari Kiam-kok-san, dia telah bertemu dengan hal yang dikatakan suhunya itu!

2 user sedang online
Anda pengunjung ke-156,608
Info
Marketing 1
Marketing 2
Search:
Axioo Site
Intel Site
Home | How to Buy | Site Map | About Us | Contact Us
© 2010 Mitra Perkasa Computer
Jl. Ngagel 179-183 RK-26 Surabaya
Telp. (62-31) 5012 111 | Fax. (62-31) 501 7972 | info@pcnusantara.com

Surabaya | Gresik | Sidoarjo | Tuban | Mojokerto | Bojonegoro| Malang