#4 of 5 | Prev -
Next
004. Pedang Kayu Harum Episode 4Description
"Bohong! Tosu tua bangka bau! Bohong....!" wanita itu memaki.
Keng Hong menggeleng-geleng kepalanya. "Agaknya Totiang tidak dapat mengenal
watak suhu. Saya percaya bahwa suhu bukan mendasarkan pertolongannya atas baik
dan buruk, karena menurut wejangan suhu, bagi suhu dan saya, baik dan buruk itu
tidak ada, yang ada hanyalah pendapat orang yang selalu tidak adil karena
menurutkan kepentingan diri pribadi.
"Eh, apa maksudmu?"
"Pandangan baik dan buruk oleh pendapat manusia adalah miring dan berat
sebelah, Totiang dipengaruhi oleh nafsu pribadi demi kepentingan diri sendiri.
Kalau seseorang melihat orang lain menguntungkan dia, bersikap manusia,
menyenangkan hatinya, maka serta-merta dia akan menganggap orang itu baik!
Sebaliknya kalau dia melihat orang lain merugikannya, memusuhinya dan tidak
menyenangkan hatinya, maka tanpa ragu-ragu lagi akan dianggapnya orang itu
jahat! Karena itu, saya seperti suhu tidak percaya akan pandangan orang tentang
baik dan jahat dan saya menolong wanita ini hanya terdorong perasaan ingin
menolong, kasihan melihat dia terancam bencana di sini. Bagaimana, Totiang? Saya
telah memenuhi permintaan Kun-lun-pai untuk meninggalkan pedang, apakah
Kun-lun-pai demikian pelit untuk menolak permintaanku yang sama sekali terdorong
keinginan menguntungkan diri sendiri ini?" Dengan kalimat terakhir ini
terkandung ejekan bahwa Kun-lun-pai minta pedangnya dengan dasar ingin untung
sendiri!
Kiang Tojin tercengang. "Pendapat keliru...., wawasan yang menyeleweng...."
Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara Thian Seng Cinjin yang halus, "Bocah
ini kelak lebih menggegerkan daripada Sin-jiu Kiam-ong. Bebaskanlah wanita itu
dan lekas suruh anak ini pergi, lebih cepat lebih baik!"
Kiang Tojin memberi tanda dan dua orang tosu menghampiri wanita itu hendak
melepaskan ikatannya, akan tetapi sekali bergerak, wanita itu ternyata telah
meloloskan tangan kakinya dari ikatan tanpa mematahkan ikatan itu. Dia meloncat
dan memandang ke arah Keng Hong dengan senyum mengejek. "Bocah Tolol! Cih, tolol
dan goblok, dasar anak dusun!" Setelah berkata demikian, wanita itu
membanting-banting kaki kanannya lalu berkelebat cepat pergi meninggalkan tempat
itu.
Keng Hong tidak peduli, lalu berlutut menghaturkan terima kasih kepada para
tokoh Kun-lun-pai, kemudian berdiri dan pergi meninggalkan pegunungan
Kun-lun-pai dengan wajah berseri. Dia setengah memaksa diri untuk bergembira,
berjanji dalam hatinya untuk menempuh hidup dengan cara gurunya, yaitu tetap
bergembira, tidak memusingkan masa depan. Dia akan hidup seperti gurunya, yaitu
menghadapi bayangan masa depan yang bagaimanapun selalu gembira dan dengan
tekad: Bagaimana nanti sajalah! ***
"Heii, tolol! berhenti dulu!"
Keng Hong menghentikan langkahnya. Ia telah jauh meninggalkan Kun-lun-san dan
kini berada di sebuah hutan yang tidak lagi menjadi daerah Kun-lun-san. Tanpa
menoleh dia sudah mengenal suara itu, suara yang nyaring merdu dan galak, suara
wanita cantik jelita yang telah dibebaskan oleh para tosu Kun-lun-pai.
"Kau mau apakah?" tanyanya sambil berdiri tegak tanpa menoleh.
"Waduh sombongnya! Orang tolol masih bisa bersikap sombong ya?"
"Aku tidak merasa sombong, sungguh pun mungkin kau benar bahwa aku tolol,
jawabnya sabar sambil tersenyum. Gembira! Harus menghadapi segala sesuatu dengan
gembira, betapa pun pahitnya dan menyakitkan hati maki-makian itu.
"Walah-walah, malah senyum-senyum! Kau bicara tanpa melihat aku, bukan kah
itu sikap sombong, sikap orang berkepala angin, memandang orang lain seperti
rumput saja? kalau tidak sombong, lihat lah kesini. Benci aku melihat orang
diajak bicara kok menengok pun tidak!"
Keng Hong tertawa. Betapa pun galaknya, ucapan orang itu dia anggap jenaka
dan lucu, juga segar menyenangkan hatinya. Ia lalu membalikkan tubuhnya dan
melihat penegurnya itu duduk di atas rumput hijau di bawah sebatang pohon sambil
makan daging paha besar seekor ayam hutan. Daging itu masih mengepul panas, juga
api unggun untuk membakar daging itu masih menyala.
"Nah, aku sudah memandangmu sekarang. Kau mau bicara apakah?"
"Wah, memang sombong dan angkuh! Apakah karena engkau telah minta tosu-tosu
bau itu membebaskan aku lalu engkau boleh bersikap angkuh seperti ini?"
"Eh....., adik yang baik....."
"Cih! aku bukan adikmu!"
"Cici yang baik...."
"Siapa sudi menjadi kakak perempuanmu?"
Keng Hong merasa bohwat (kehabisan akal). "Habis, harus kusebut apa?"
"Panggil aku nona!"
"Wah, nona.....?"
"Habis, aku masih gadis, kalau tidak disebut nona, masa engkau hendak
menyebut aku nyonya besar?" Gadis itu merengut, bibirnya yang merah itu
berlepotan minyak gajih paha ayam, mukanya coreng moreng terkena hangus,
kelihatan makin cantik dan lucu sehingga kembali Keng Hong tertawa. "Baiklah, Nona. Engkau memaki aku sombong dan angkuh berkali-kali, karena aku
tidak mau menengok. Setelah aku menengok, kau masih memaki aku angkuh. Habis aku
kausuruh bagaimana supaya tidak kaumaki angkuh?"
"Aku mau bicara denganmu, duduklah disini dan jangan berdiri pringas-pringis
seperti monyet mencium ikan asin!"
Keng Hong mengangkat sepasang alisnya yang hitam tebal. selamanya baru sekali
ini dia bicara dengan gadis, apalagi gadis yang begini lincah. Ia tertarik
sekali, akan tetapi juga merasa canggung. Kemudian teringat dia akan watak
suhunya, maka dia lalu tersenyum lebar dan melangkah menghampiri gadis itu,
menjatuhkan diri duduk di atas rumput di hadapan gadis itu. Dalam beberapa
detik, pandang matanya yang tajam sudah meneliti gadis yang duduk makan paha
ayam panggang di hadapannya itu. Wajah yang berkulit halus kemerahan, cantik
jelita dengan bentuk tubuh bulat telur. Rambut hitam gemuk yang kacau tak
tersisir, menutup sebagian pipi kirinya karena kepala itu agak dimiringkan ke
kanan. Alis yang panjang kecil dan hitam. Sepasang mata yang jeli, lebar dan
jernih sekali, dengan kerling yang amat tajam, mata yang aneh karena dia seperti
dapat melihat bayangan gembira, berani, menantang dan merenung di dalamnya.
Hidung kecil mancung di atas sepasang bibir yang dianggapnya merupakan bibir
terindah yang pernah dilihatnya. Penuh dan berkulit halus seolah-olah sepasang
bibir itu dapat mudah pecah, warnanya kemerahan dan basah berminyak. Dagunya
kecil agak meruncing menambah kemanisan. Pakaiannya terbuat dari sutera halus
dan mewah, namun potongannya ketat sehingga membayangkan dada yang penuh
menonjol, pinggang kecil dan pinggul yang lebar. Kulit yang mengintai dari balik
leher baju, dari lengan, tampak halus dan putih sekali. Beginikah wanita cantik
yang suka disebut-sebut suhunya dan diumpamakan setangkai bunga yang harum? Dia
kini dapat merasakan persamaannya. Memang seperti bunga sehingga membuat hati
ini kepingin menyentuh, kepingin mencium, kepingin memandang dan menikmati
keindahannya.
"Mungkin aku seperti monyet, akan tetapi saat ini aku tidak mencium bau ikan
asin, melainkan mencium bau sedap gurih daging panggang!"
"Kau kepingin?" Gadis itu menghentikan gigitannya dan mulutnya yang penuh
dengan daging itu mengunyah perlahan, matanya mengerling Keng Hong. Pemuda
remaja ini memandang mulut yang mengunyah itu, dan tak terasa lagi dia menelan
ludah dan perutnya mendadak berkeruyuk. Dia mengangguk dan kembali menelan
ludah.
"Kalau kepingin, ambillah. Tunggu apalagi? Jangan malu-malu kucing, kalau
kepingin mengapa tidak ambil dan makan sejak tadi?"
"Ah, tapi daging itu punyamu...."
"Siapa bilang punyaku? Ayam itu berkeliaran di hutan, entah punya siapa!"
"Tapi kau yang menangkap dan memanggangnya...."
"Sudahlah! cerewet bener sih engkau ini! ambil saja dan ganyang, habis
perkara. Bicara saja mana bisa kenyang?"
Biarpun ditegur, Keng Hong menjadi geli dan tertawa. Gadis ini benar-benar
menimbulkan rasa gembira di hatinya. Cocok benar dengan watak suhunya. Bagaimana
kalau suhunya yang bertemu dengan gadis seperti ini? Ia lalu menyambar daging
ayam panggang, merobek bagian dada lalu mulai makan daging itu. Benar lezat
sekali, gurih dan manis, lagi hangat dan perutnya memang amat lapar. Setelah
habis semua makan, gadis itu mengeluarkan seguci air dingin dan minum dengan
cara menggelogoknya dari mulut guci. air memasuki mulut yang kecil itu, ada yang
tumpah membasahi pipi dan tercecer memasuki celah-celah bajunya di leher.
Setelah itu, dia menurunkan guci dan menyerahkannya kepada Keng Hong.
Pemuda yang mulai mengenal watak polos dan terbuka gadis itu, menerima guci
akan tetapi dia merasa ragu-ragu juga untuk menggelogok air itu begitu saja.
Bibir guci itu masih berlepotan minyak gajih, tentu ketika bibir guci tadi
bertemu dengan bibir si gadis.
"Mana cawannya? Kupinjam sebentar untuk minum!"
"Tidak punya cawan!"
"Habis bagaimana minumnya?"
"Tuang saja, seperti aku "
Tapi... tapi... bekasmu...."
Gadis itu meloncat bangun, lalu bertolak pinggang dan membungkuk memandang
Keng Hong dengan mata terbelalak.
"Kau.... kau menghina aku, ya? Tolol kurang ajar!"
Keng Hong juga membelalakkan matanya, bukan karena marah melainkan karena
heran. Ia benar-benar merasa tolol berhadapan dengan nona ini. "Menghina...?
Aku.... aku tidak.... eh, apa sih maksudmu?"
"Kau jijik ya minum secara menggelogok seperti aku? Kau tidak sudi ya karena
bibir guci itu berbekas mulutku? Kaukira aku ini penderita sakit paru-paru atau
batuk kering? kau jijik?"
"Wah-wah-wah, harap jangan salah paham dan mengamuk tidak karuan.
Bukan....bukan begitu, hanya....aku tadi khawatir kau tidak suka...."
"Tidak suka apa? kau benar-benar laki-laki cerewet. Sudah tolol, cerewet
lagi! Sialan bertemu laki-laki sepertimu!"
Keng Hong tidak mempedulikannya lagi. Celaka, pikirnya. Kalau dilayani wanita
ini, bisa habis dia di maki-maki. Ia lalu tidak mau mendengarkan lebih jauh
melainkan menuangkan air ke dalam mulutnya, tidak peduli bibirnya bertemu dengan
bekas bibir wanita itu. Air yang jernih dan sejuk.
"Terima Kasih, katanya sambil mengembalikan guci air.
"Kenapa sedikit amat minumnya? Apakah kau takut minuman ini kucampuri racun?"
Sambil berkata demikian, gadis itu kembali minum dengan cara menempelkan
bibirnya pada bibir guci tanpa memilih-milih lagi. Heran sekali hati Keng Hong,
mengapa menyaksikan bibir wanita itu menjepit bibir guci yang tadi diminumnya,
hatinya berdebar dan mukanya terasa panas. Namun dia merasa mendongkol juga
mendengar ucapan itu. Benar-benar wanita yang wataknya mau menang sendiri saja.
Masa apa yang dia kerjakan selalu disalahkan? Tidak mau minum salah, sekarang
sudah minum masih di sangka yang bukan-bukan. Ia menjadi gemas dan andaikata
wanita ini adik perempuannya, tentu sudah dia jewer telinganya!
"Aku tidak takut kauberi racun, jawabnya jengkel, dan dia lalu membuang muka
sambil melanjutkan, "Sebetulnya, kau menghentikan perjalananku ada urusan
apakah?"
Sampai lama gadis itu tidak berkata-kata, melainkan memandang wajah Keng Hong
penuh perhatian. Pemuda itu tahu akan hal ini karena dia mengerling dari sudut
matanya. Melihat gadis itu memperhatikannya, kembali dia mengalihkan pandang
matanya. Kemudian terdengar gadis itu bertanya.
"Namamu siapa tadi? Dan berapa usiamu?"
"Cia Keng Hong.... Kalau tidak salah usiaku tujuh belas tahun.
"Hemmm..., dan engkau murid Sin-jiu Kiam-ong? Heran benar aku....."
"Mengapa heran?"
"Seorang tokoh sakti seperti Sin-jiu Kiam-ong mengapa mempunyai seorang murid
tolol seperti engkau?"
Makin panas rasa perut Keng Hong. Terlalu benara perempuan ini, pikirnya.
"Kalau sudah tahu aku tolol, kenapa engkau menghentikan aku?"
Sampai lama wanita itu tidak berkata-kata, kemudian terdengar dia tertawa
merdu, cekikikan. "Eh, kau marah?"
Hemmm, benar-benar tukang menggelitik hati orang, pikir Keng Hong. Gemas dia.
Kalau tidak ingat bahwa dia itu wanita tentu sudah ditamparnya. Ia tidak
menjawab, hanya menggeleng kepalanya.
"Ah, kau marah. Bilang saja kau marah. Ingin aku melihat bagaimana kalau kau
marah!"
Digoda terus-menerus, Keng Hong menjadi merah mukanya dan dia memandang
dengan niat untuk balas memaki. akan tetapi melihat mata yang bening indah itu,
mulut yang manis tersenyum, dia menjadi tidak tega untuk memaki, maka dia
menundukkan muka lagi.
"Kau memang tolol. Kalau tidak tolol, tentu tidak kau berikan Siang-bhok-kiam
kepada tosu-tosu bau itu.
"Itu hak mereka dan aku tidak mau membantah permintaan mereka. Mereka adalah
tosu-tosu yang bijaksana dan baik, patut dipatuhi permintaan mereka. Pula,
menggunakan kekerasan menentang, tak mungkin. Mereka amat lihai, terutama sekali
Kiang Tojin dan ketua Kun-lun-pai.
"Kau penakut dan bodoh! Heran aku mengapa Sin-jiu Kiam-ong mempunyai murid
seperti engkau! Padahal menurut pendengaranku Sin-jiu Kiam-ong gagah perkasa
tidak mengenal takut terhadap siapapun juga dan amat cerdik.
Keng Hong menarik nafas panjang. Gurunya memang seorang yang selalu gembira
dan tidak pernah mengenal takut. Terserah wawasanmu. Aku tidak takut terhadap
siapapun juga, dan tentang kebodohan..... hemmmm, tentu saja aku tidak secerdik
suhu.
Sunyi yang agak lama. Keng Hong menunduk karena teringat akan suhunya dan
mulailah hilang kegembiraannya. Dalam hari-hari pertama semenjak dia sendirian
di dunia ini, sudah terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan hatinya. Kalau
begini terus nasibnya, bertemu seseorang wanita saja selalu mengejek dan
memakinya, mana mungkin dia dapat meniru watak suhunya yang menghadapi segala
sesuatu dengan gembira. Betapa mungkin dapat bergembira rasa hati ini kalau
seorang wanita cantik jelita mencemoohkan dan memaki-makinya?
"Keng Hong...."
Pemuda itu terkejut. Benarkah wanita itu memanggilnya? Suaranya begitu halus
dan dipanggil secara tiba-tiba setelah lama berdiam diri, dia terkejut juga.
"Hemmmm.....?" Ia menengok dan makin gugup melihat betapa sepasang mata itu
memandangnya tajam-tajam dan mulut itu tersenyum manis akan tetapi hanya
sebentar saja karena segera bibir yang merah itu cemberut lagi. "Kau
memanggilku?"
"Kau laki-laki canggung benar...."
"Sudahlah, Nona. Kalau engkau menghentikan aku hanya untuk mencela, untuk
apa....."
"Engkau marah?"
"Tidak"
"Engkau memang canggung, tidak seperti gurumu yang khabarnya..... ah, apakah
kau tidak ingin tahu siapa aku, siapa namaku dan mengapa aku datang ke
Kun-lun-pai?"
Baru Keng Hong teringat dan dia merasa bahwa dia memang kurang perhatian,
"Siapakah nama Nona?"
Gadis itu menahan kekehnya. Sikap Keng Hong benar-benar canggung dan gugup
sehingga kelihatan lucu. "Namaku Bhe Cui Im. Bagus tidak namaku?"
"Bagus.... bagus...." jawab Keng Hong cepat-cepat dengan pandang mata
mendesak agar nona itu terus bercerita.
"Hi-hi-hik, kau ternyata pandai juga memuji...."
"Eh...., aku..... ah, teruskanlah, Nona.
"Aku mendengar akan keramaian yang khabarnya akan terjadi di puncak
Kun-lun-san yang disebut Kiam-kok-san, bahwa kabarnya tokoh-tokoh besar hitam
dan putih hendak menjemput turunnya murid Sin-jiu Kiam-ong yang mewarisi
Siang-bhok-kiam yang amat diinginkan seluruh tokoh Kang-ouw.
"Termasuk engkau sendiri, nona.
"Tentu saja! Apa kaukira aku ini anak kecil yang suka menonton keramaian
begitu saja? Dan aku malah berhasil sekali, lebih berhasil daripada mereka yang
menggunakan kekerasan. Mereka itu semua terusir oleh tosu-tosu bau Kun-lun-pai,
belasan orang gagah di dunia Kang-ouw, sama sekali tidak berhasil, melihatnya
pun tidak! aku sengaja membiarkan diriku tertangkap oleh tosu-tosu bau itu.
Memang harus diakui bahwa kalau aku melawan, tidak akan mampu mengalahkan
tosu-tosu yang demikian banyak, apalagi tosu she Kiang dan gurunya itu amat
lihai. aku sengaja menjadi tawanan dan akalku berhasil memancing kau datang
karena jeritan-jeritanku. akan tetapi siapa kira, karena ketololanmu,
kauserahkan pedang itu begitu saja!"
Mulai lagi maki-makian! Kini mengertilah Keng Hong mengapa gadis ini telah
dapat meloloskan diri dari ikatan kaki tangannya sebelum dilepaskan. Kiranya
gadis itu memang sengaja membiarkan dirinya ditawan. Benar-benar seorang gadis
yang cerdik sekali, dan juga penuh keberanian.
"Untuk apakah engkau menginginkan pedang Siang-bhok-kiam, nona?"
"Eh-eh-eh, masih bertanya untuk apa lagi? Tentu saja untuk mendapatkan
rahasianya. Keng Hong, katakanlah terus terang, apakah engkau sudah mendapatkan
pula rahasia penyimpanan kitab-kitab pusaka yang terdapat di pedang itu?"
Pandang mata itu penuh gairah, agaknya bernafsu sekali gadis ini untuk
mendapatkan kitab-kitab pusaka simpanan Sin-jiu Kiam-ong.
Keng Hong menggeleng kepalanya. "Belum dan agaknya tidak akan dapat
kutemukan. Aku pun tidak ingin kembali ke Kun-lun-san. Nona, mengapakah mereka
itu semua memperebutkan rahasia itu? Sampai mati-matian dan saling bermusuhan?"
Gadis itu menggerakkan alisnya dan memandang pemuda ini dengan heran. "Engkau
benar-benar masih hijau! Sudahlah, yang penting sekali ini ceritakan kepadaku
ilmu apa saja yang kaupelajari dari Sin-jiu Kiam-ong? Tadi kulihat engkau
menggunakan ilmu yang mijizat, kau pandai menyedot sinkang orang lain, bahkan
Kiang Tojin yang begitu lihai hampir mampus ditanganmu. Ilmu apakah itu?
Sukarkah kau menceritakannya kepadaku?" Tiba-tiba saja sikap gadis ini manis
sekali, wajahnya berseri matanya bersinar-sinar dan bibirnya tersenyum.
Keng Hong hanya bisa menggeleng kepalanya, kemudian melihat wajah cantik itu
menjadi murung dia cepat berkata, "Sungguh mati, aku sendiri tidak mengerti. Aku
sendiri membenci penyakit yang ada pada tubuhku ini. Aku tidak mempelajari
apa-apa kecuali dasar-dasar ilmu silat dan beberapa pukulan dan permainan
pedang. Kalau dibandingkan dengan orang lain, tentu tidak ada artinya .
"Hemmm, engkau pandai merendahkan diri dan bersikap sungkan, alangkah jauh
bedanya dengan gambaran tentang gurumu!" Akan tetapi kegalakkan ini segera
berubah lagi, kini gadis itu tersenyum manis, dan membuka tutup guci hendak
diminumnya. Akan tetapi dia mengerutkan kening dan berkata seorang diri, "Ah,
air ini kurang sedap!" Ia lalu mengeluarkan sebuah bungkusan dari saku bajunya
dan ketika dibuka, ternyata berisi daun-daun dan kembang-kembang kering.
Dituangkannya sebungkus daun dan kembang kering ini ke dalam guci airnya, lalu
dikocoknya guci itu sambil memandang Keng Hong. Ditatap sepasang mata seperti
itu, Keng Hong menjadi tak enak hati kalau berdiam diri saja maka dia bertanya.
"Apakah yang kau masukkan dalam air minum itu?"
"Daun wangi dan kembang harum, pengganti teh yang amat lezat dan sedap!"
jawab gadis itu sambil menggelogok air dari guci seperti tadi. Tercium bau yang
harum keluar dari mulut guci. Gadis itu selesai minum lalu menyerahkan gucinya
kepada Keng Hong sambil berkata, "Kau minumlah.
Keng Hong menggeleng kepala. "Aku tidak haus.
"Eh, biarpun tidak haus, air ini sekarang menjadi minuman enak. Coba cium,
tidak harumkah?"
Gadis itu mendekatkan mukanya dan membuka mulutnya, menghembuskan nafas ke
arah muka Keng Hong. Pemuda itu terkejut dan mukanya terasa panas sekali,
jantungnya berdebar tegang. Ia merasa canggung dan juga jengah.
"Apakah kau takut kalau air ini kucampuri racun?"
Untuk mencegah gadis itu melakukan hal-hal aneh yang lebih hebat lagi, tanpa
banyak cakap Keng Hong lalu menerima guci air dan menggelogoknya. Memang harum
dan terasa agak manis, akan tetapi mulut dan lidahnya yang terlatih tiba-tiba
merasakan sesuatu yang tidak asing baginya. Racun! Racun yang amat kuat dan
jahat! Namun dia cepat dapat menekan perasaannya, tidak memperlihatkan sesuatu
pada mukanya, bahkan lalu terus menuangkan air beracun itu sampai habis pindah
ke dalam perutnya! Ketika dia menurunkan guci kosong dan berkata, "Lezat
sekali!" gadis itu memandangnya dengan sepasang mata bersinar-sinar.
Sambil tersenyum-senyum gadis itu kini mengambil sesuatu dan karena yang
diambilnya itu agaknya berada di saku dalam dari bajunya, ia lalu membuka dua
kancing baju bagian atas. Cara ia membuka kancing secara terang-terangan begitu
saja di depan Keng Hong, dengan gaya memikat dan manis sekali. Keng Hong
terbelalak, lebih heran daripada kaget dan jengah, melihat betapa bagian atas
baju itu terbuka memperlihatkan pakaian dalam yang berwarna merah muda dan
sebagian dada yang memanjat. Gadis itu merogoh ke balik baju yang menutup dada
dan mengeluarkan sebuah bungkusan merah. Ketika dibuka, ternyata bungkusan itu
berisi belasan butir pil merah. Ia mengambil dua butir dan segera menelannya. Ia
lalu mengembalikan bungkusan itu ke balik bajunya, kemudian seperti terlupa dan
tidak mengancingkan kembali baju bagian atasnya terbuka itu. Keng Hong terpaksa
menundukkan muka agar jangan melihat tonjolan dada yang berkulit putih halus
itu.
"Keng Hong, lihatlah kepadaku!"
Terpaksa pemuda itu mengangkat mukanya memandang, mengusir ketegangan dan
kebingungan hatinya. Gadis ini jelas berusaha hendak meracunnya. Apakah
maksudnya? Mengapa hendak membunuhnya? Ia tahu bahwa racun itu dapat membunuh
seorang lawan yang betapapun kuatnya.
"Lihatlah baik-baik, Keng Hong. Tidak indahkah rambutku? Tidak cantikkah
wajahku? Cantik sekali, bukan?" Gadis itu tersenyum-senyum dan mengerlingkan
matanya, bergaya dan menggerak-gerakkan mukanya agar dapat terpandang oleh
pemuda itu dari depan, kiri dan kanan.
"Hemmmm, begitulah...." jawab Keng Hong yang masih mencari-cari sebab
perbuatan gadis itu. Ia kini dapat menduga bahwa pil merah tadi adalah obat
pemunah racun karena si gadis tadi pun minum air beracun.
"Lihat baik-baik, pandanglah...... tidak halus dan putih bersihkah kulitku,
Keng Hong?" Suaranya kini amat halus merdu, penuh nada merayu dan tangannya
sengaja menyingkap baju atasnya agar belahan dada tampak makin nyata.
Keng Hong menelan ludah. Jantungnya berdebar kencang dan cepat dia menekan
dengan kekuatan batinnya. Belum pernah selama hidupnya dia mengalami hal seperti
ini, dalam mimpi pun belum!
Gadis yang bernama Bhe Cui Im itu kini bangkit berdiri, gerakannya lemah
gemulai, leher, pinggang dan lututnya melenggak-lenggok mengingatkan Keng Hong
akan gerakan tubuh seekor ular.
"Pandanglah baik-baik, orang muda remaja! Tidak indahkah bentuk tubuhku?
Lihat dadaku, pinggangku, pinggulku...."
"Hemmmm, begitulah....!" hanya demikian Keng Hong dapat berkata karena
kerongkongannya tiba-tiba seperti menjadi kering kembali, seperti orang
kehausan.
"Aku masih muda, cantik jelita, bertubuh menggiurkan! aku seorang gadis yang
amat menarik hati, bukan?"
"Hemmm, begitulah!"
Tiba-tiba Cui Im menghentikan gayanya dan dengan kasar dia duduk di depan
Keng Hong. Senyum manis kerling mata tajam kini lenyap dan gadis itu mengerutkan
keningnya dengan bayangan hati kesal.
"Begitulah! Begitulah! Begitulah! Tidak bisa berkata lainkah, hai orang
dungu? Sin-jiu Kiam-ong kabarnya merupakan pria tukang merayu wanita nomor satu
di dunia, ahli merayu dan mencumbu wanita. Apakah gurumu yang....terkutuk itu
tidak mengajarkan kepandaian merayu wanita kepadamu, heh, bocah tolol?"
Keng Hong tersenyum. Kini dia mulai mengenal wanita ini. Wanita yang cantik
jelita, namun wanita yang amat berbahaya, seperti seekor ular berbisa. Timbul
pula kegembiraannya karena terhadap seorang wanita seperti ini, dia tidak perlu
bersikap canggung, malu-malu atau takut-takut. Ia menggelengkan kepala dan
tersenyum mengejek.
"Kau sudah mau mampus, tahukah? Kau calon bangkai makanan cacing! Hendak
kaulihat ke mana perginya wajahmu yang tampan itu kalau sudah digerogoti cacing
nanti. Kau tahu bahwa engkau telah minum racun? di dalam air tadi, tolol,
terdapat racun yang mematikan. Racun bunga Siang-tok-hwa (Bunga Racun Wangi)
yang kini telah memasuki perutmu, yang akan menghancurkan ususmu, membuat isi
perutmu menjadi busuk. Tahukah engkau? Dan obat pemunahnya hanya berada padaku,
obat pemunah pil merah seperti yang kutelan tadi. Kalau kau tidak kutolong,
nyawamu pasti akan melayang dalam waktu dua puluh empat jam! Nyawamu berada di
tanganku sekarang, mengerti?"
Keng Hong mengangguk-angguk. Mengertilah dia sekarang, teringatlah dia bahwa
racun yang tidak asing baginya itu adalah Siang-tok-hwa. Tentu saja dia
mengenalnya baik-baik, dan tadi dia terlupa karena terpesona oleh sikap dan gaya
gadis luar biasa ini.
"Cui Im, apakah kehendakmu? Apakah maksudnya semua ini? Mengapa kau
meracuniku?"
"Karena tolol engkau menjadi menyebalkan. Segala apa tidak mengerti. Otakmu
tumpul benar perlu dicuci! Tentu saja nyawamu kucengkeram untuk ditukar dengan
rahasia barang pusaka gurumu yang.... terkutuk!"
"Diam dan jangan memaki mendiang suhu atau.... aku takkan sudi melayanimu
bicara lagi!"
Terbelalak mata gadis itu mendengar bentakan yang tak disangka-sangkanya akan
dapat dikeluarkan oleh mulut pemuda tolol itu. Akan tetapi hanya sebentar karena
ia mengira bahwa hal itu timbul karena kebaktian bocah ini terhadap mendiang
gurunya.
"Engkau telah menyerahkan Siang-bhok-kiam kepada tosu-tosu bau Kun-lun-pai.
Akan tetapi pedang itu bagiku tidak ada artinya. Belum tentu bisa menangkan
pedangku ini!" Gadis itu meraba pinggangnya dan.... "Swingggg...." tangannya
sudah memegang sebatang pedang yang mengeluarkan sinar kemerahan. Kiranya pedang
itu amat tipis, terbuat daripada baja lemas sehingga dapat dipergunakan sebagai
sabuk! Kini gadis itu menodongkan ujung pedangnya ke depan dada Keng Hong.
"Aku tidak butuh Siang-bhok-kiam! Yang kubutuhkan kitab-kitab pusaka dan
barang-barang mustika peninggalan suhumu. Engkau turun dari Kiam-kok-san hanya
membawa pedang, berarti bahwa pusaka-pusaka warisan itu masih belum kau bawa
turun. Kauantar aku kesana, berikan semua itu kepadaku, tunjukkan rahasianya,
dan mungkin nyawamu akan kubebaskan, dan selain itu.... hemmm, kalau kau tidak
terlalu tolol, kita dapat menjadi sahabat baik!"
Keng Hong bukan seorang bodoh sungguhpun kelihatannya dia ketolol-tololan. Ia
telah di racun, akan tetapi racun yang ada obat pemunahnya pada gadis itu.
Berarti bahwa dia tidak akan dibunuh. Gadis ini menghendaki barang-barang pusaka
gurunya, tentu saja tidak akan membunuhnya, melainkan hendak memaksanya dengan
jalan meracuninya. Benar-benar seorang gadis yang berhati kejam! Mengapa ada
seorang gadis cantik jelita seperti ini berhati sekejam itu? Ia merasa penasaran
sekali dan perasaan inilah yang mendorongnya untuk menyaksikan lebih lanjut
sampai di mana kekejaman gadis ini dan apa yang akan dilakukan atas dirinya.
"Aku tidak menerima warisan pusaka-pusaka yang kaumaksudkan, dan aku pun
tidak tahu rahasianya.
"Kau masih berani menyangkal dan menolak permintaanku? Kau murid tunggalnya,
tak mungkin kau tidak mewarisi pusaka-pusaka itu, apalagi Siang-bhok-kiam
diberikan kepadamu. Ingat, nyaawamu berada di tanganku, tahu? Andaikata engkau
memberontak, engkau pun tidak akan mampu menandingi pedangku. Andaikata kau
mempergunakan ilmu mujizatmu dan berhasil melarikan diri, dalam waktu sehari
semalam ususmu sudah hancur berantakan dan nyawamu pun takkan tertolong. Jangan
bodoh, Keng Hong. Lebih baik engkau menuruti permintaanku agar engkau tetap
hidup dan menikmati kesenangan bersama aku.
"Cui Im, engkaulah yang bodoh dan mengecewakan hati. Mengapa engkau
menurutkan nafsu buruk hendak menginginkan barang orang lain? Kalau engkau suka
menurut nasehatku, insyaflah dan sadarlah bahwa engkau terseret oleh nafsumu
menuju ke jurang kesesatan. Urungkan niatmu yang buruk itu karena sesungguhnya
aku benar-benar tidak pernah melihat di mana adanya pusaka-pusaka peninggalan
suhu. Aku tidak berhasil mencarinya dan aku tidak berbohong.
"Kalau begitu, biar aku melihat engkau mampus dengan isi perut berantakan!"
bentak Cui Im dengan suara marah dan kecewa sekali.
Tiba-tiba terdengar suara bentakan keras "Tidak boleh dibunuh begitu saja,
Tok-sian-li (Dewi Beracun)!" Dan tampak bayangan orang berkelebat.
"Benar sekali, tidak boleh dibunuh sebelum menyerahkan pusaka peninggalan
Kiam-ong kepadaku!" berkelebat pula bayangan lain.
Kiranya yang muncul ini adalah dua orang tua yang pernah dilihat Keng Hong
pada lima tahun yang lalu. Mereka berdua itu adalah dua di antara sembilan orang
sakti yang pernah menyerbu Sin-jiu Kiam-ong. Yang pertama adalah nenek tua renta
yang dia ingat bernama Lu Sian Cu dan berjuluk Kiu-bwe Toanio. Gurunya pernah
bercerita kepadanya tentang nenek ini. Menurut cerita itu, Kiu-bwe Toanio
dahulunya adalah seorang pendekar wanita yang cantik jelita dan lihai, namun
yang jatuh cinta kepada gurunya yang tampan dan gagah. akan tetapi ternyata
wanita ini di kecewakan oleh Sin-jiu Kiam-ong. Kiam-ong tidak pernah membiarkan
hatinya jatuh cinta dan perhubungannya dengan Lu Sian Cu hanya dianggapnya
sebagai permainan cinta petualangan biasa saja. sebaliknya, cinta kasih wanita
itu mendalam sehingga hatinya menjadi hancur dan patah ketika Kiam-ong
meninggalkannya. Adapun orang ke dua adalah si kakek tua Sin-to Gi-hiap.
Pendekar Budiman bergolok sakti yang juga menaruh dendam sakit hati terhadap
Kiam-ong untuk urusan pribadi. Isterinya yang sesungguhnya adalah hasil rampasan
dari seorang kepala rampok, isteri yang cantik jelita dan amat dicintanya, telah
"dicuri" oleh Kiam-ong yang terkenal pandai merayu wanita sehingga di antara
isterinya dan Kiam-ong terjadi perhubungan rahasia.
Melihat dua orang tua yang datang ini, Bhe Cui Im tersenyum mengejek, lalu
membalikkan tubuh menghadapi mereka sambil memandang tajam dan melintangkan
pedang merah itu di depan dadanya, sedangkan tangan kirinya bertolak pinggang.
"Hemmm, Kiu-bwe Toanio dan Sinto Gi-hiap, bukan? Kalian sudah lari
terkencing-kencing diusir oleh tosu-tosu bau Kun-lun-pai, sekarang muncul lagi
di depanku dengan niat apakah?"
Keng Hong memandang dengan heran. Makin tidak mengertilah dia akan keadaan
Cui Im. Gadis cantik jelita yang amat menarik hati ini, yang tadinya amat galak
dan kadang-kadang juga amat halus memikat, kemudian terbukti berhati palsu dan
keji, kini menghadapi dua orang tokoh kang-ouw yang tua seperti menghadapi dua
orang biasa saja! Tokoh macam apakah gadis ini di dalam dunia persilatan?
Sampai-sampai dua orang locianpwe (orang tua tingkat tinggi) tidak dipandang
mata olehnya, dan yang lebih mengherankan lagi, dua orang tua itu pun agaknya
tidak menganggapnya sebagai gadis muda.
"Ang-kiam Tok-sian-li (Dewi Racun Berpedang Merah), lekas keluarkan pil
pemunah racun. Orang muda ini tidak boleh dibunuh," kata sin-to Gi-hiap.
"Benar sekali, Tok-sian-li. Siang-bhok-kiam sudah terampas Kun-lun-pai, kalau
pemuda ini dibunuh, sungguh sayang sekali. Kasihan murid Sin-jiu Kiam-ong yang
tidak bersalah apa-apa...." sambung Kiu-bwe Toanio.
Tiba-tiba Cui Im tertawa bergelak, tanpa menutupi mulutnya, sikapnya kasar
sekali. Keng Hong makin terheran-heran. Kiranya Bhe Cui Kim mempunyai julukan
yang demikian menyeramkan. Ang-kiam Tok-sian-li (Dewi Beracun Berpedang Merah)!
Tentu seorang tokoh besar dari golongan sesat! Pantas saja Kiang Tojin
menyatakan bahwa gadis cantik itu dari dunia hitam, seorang tokoh kaum sesat.
Akan tetapi masih begitu muda! Masa memiliki tingkat kedudukan yang sejajar
dengan Kiu-bwe Toanio dan Sin-to Gi-hiap?
"Hi-hi-hik! Kiu-bwe Toanio, alangkah lucunya melihat lagakmu. Engkau terkenal
sebagai pendekar wanita sejak muda, akan tetapi kiranya engkau pun hanya seorang
yang pada lahirnya saja pendekar padahal sebenarnya di dalam hatimu mengandung
maksud-maksud yang tidak lebih bersih daripada maksud hatiku. Kau pura-pura
merasa kasihan dan ingin menolong pemuda ini, padahal yang kauinginkan adalah
benda-benda pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong. Aku pun menghendaki benda-benda
itu dan aku berterus terang, tidak pura-pura seperti engkau!"
"Hemmmm, Tok-sian-li. Hanya karena mengingat akan nama gurumu maka aku
seorang tua masih berlaku hormat kepadamu. Jangan engkau membuka mulut
sembarangan saja! Memang aku menghendaki barang-barang pusaka Sin-jiu Kiam-ong,
akan tetapi hal itu adalah karena dosa-dosa Kiam-ong kepadaku yang harus dia
bayar lunas dengan benda-benda pusaka peninggalannya! Tidak seperti engkau yang
hendak merampok begitu saja dengan menekan muridnya.
"Hi-hi-hik, nenek tua yang tak tahu malu! Engkau sendiri yang dahulu
tergila-gila kepada Kiam-ong, engkau sendiri yang mengejar-ngejarnya, ingin
selalu berada dalam pelukannya, menikmati cumbu rayu dan belaiannya! Kiam-ong
tidak sudi menjadi suamimu, kenapa kau katakan hal ini dosa? Hi-hi-hik, sungguh
menjemukan!"
"Tok-sian-li, biar engkau menggunakan nama besar gurumu, penghinaanmu harus
dibayar dengan nyawa! Kiu-bwe Toanio marah sekali dan ia menggerakkan pecutnya
yang berekor sembilan itu di udara sehingga terdengar suara ledakan-ledakan
"Tar-tar-tar....!!"
"Huh, pecutmu itu hanya dapat untuk menakut-nakuti anjing dan anak-anak
kecil!" Cui Im mengejek dan tiba-tiba tangan kirinya bergerak. Sinar-sinar merah
yang kecil-kecil menyambar ke arah nenek itu dengan kecepatan laksana kilat
menyambar. Itulah Ang-tok-ciam (Jarum Racun Merah) yang amat berbahaya, sekali
sambit secara beruntun ada dua puluh satu buah jarum halus menyambar lawan.
Setiap batang jarum merupakan tangan maut karena racun yang dikandungnya cukup
untuk merenggut nyawa orang. Kini dua puluh satu buah jarum menyambar dan
mengarah jalan-jalan darah yang penting, dapat dibayangkan betapa hebatnya!
"Perempuan keji!" Kiu-bwe Toanio memaki, akan tetapi dia sibuk juga memutar
senjata cambuknya untuk melindungi tubuh. Hanya dengan memutar cambuk itu
cepat-cepat maka ia dapat menghindarkan jarum-jarum yang tak berani ia anggap
ringan itu.
"Nenek tua mampuslah!" Cui Im telah melesat ke depan dan pedangnya berubah
menjadi sinar merah yang bergulung-gulung ketika ia menerjang lawannya sebagai
serangan lanjutan daripada jarum-jarumnya. Gadis ini ternyata selain pandai
melepas jarum, juga amat cerdik. Ia maklum bahwa Kiu-bwe Toanio tak mungkin
dapat mudah dirobohkan dengan jarum-jarumnya, maka serangan jarumnya tadi
hanyalah untuk mengacau lawan, dan kini selagi lawannya memutar cambuk
menghindarkan diri daripada ancaman jarum-jarum, ia telah menerjang dengan
pedangnya yang gerakannya amat cepat dan kuat. Keng Hong yang melihat gerakan
gadis ini diam-diam kagum dan juga terkejut sekali. Dilihat gerakannya, ilmu
pedang gadis itu benar-benar lihai bukan main dan agaknya tidak berada di
sebelah bawah tingkat kesembilan orang sakti yang pernah menyerbu suhunya.
"Tar-tar-tar.... wuuuuutttttt..... trang-trang....!"
Sembilan ekor ujung cambuk itu dimainkan di tangan Kiu-bwe Toanio seolah-olah
menjadi sembilan ekor ular yang bergerak hidup, sebagian lagi membalas dengan
totokan-totokan kilat yang disusul dengan gerakan mengait! Betapapun hebat
gerakan pedang di tangan Cui Im, namun dihadapi sembilan ujung cambuk yang
menangkis dan balas menyerang itu dia terkejut sekali. Pedangnya diputar dan ia
mengeluarkan pekik nyaring, disusul jerit kaget Kiu-bwe Toanio. Sejenak kedua
orang ini lenyap menjadi bayangan yang berputaran di antara sinar merah dan
sinar hitam cambuk itu, kemudian keduanya mencelat ke belakang didahului Cui Im
yang terpaksa melompat jauh untuk menghindarkan serangan enam buah kaitan. Ia
turun dan melintangkan pedangnya dengan wajah agak berubah karena ia kini maklum
betapa lihai nenek itu dan yang ternyata merupakan lawan yang berat juga. Di
lain pihak, nenek itu mengeluarkan suara gerengan marah karena tiga buah kaitan
berikut tiga ujung cambuknya telah buntung oleh pedang yang amat lihai di tangan
Cui Im.
Pada saat itu, Sin-to Gi-hiap yang melihat kesempatan baik, sudah meloncat
mendekati Keng Hong dan berkata, "Orang muda, kau harus ikut bersamaku sebagai
wakil suhumu!"
Kakek itu dengan golok telanjang di tangan kanan menyambar Keng Hong dengan
tangan kirinya, hendak mencengkram pundak pemuda itu. Sebelum Keng Hong sempat
mengelak, sinar merah berkelebat dan kakek itu cepat menarik kembali tangannya
karena kalau dilanjutkan, tentu akan buntung terbabat pedang yang dibacokan Cu
Im.
"Kakek tua bangka, jangan sentuh pemuda ini!"
Sin-to Gi-hiap menghela napas panjang. "Nona, mengingat gurumu, biarlah kami
orang tua mengalah. Marilah kita berunding baik-baik. Benda-benda pusaka
peninggalan Sin-jiu Kiam-ong amatlah banyaknya, kalau kita bertiga membagi rata,
masih amat banyak bagian kita masing-masing. Kurasa Kiu-bwe Toanio juga tidak
keberatan."
Kiu-bwe Toanio menggerak-gerakkan cambuknya. Ia maklum bahwa gadis itu amat
lihai ilmu pedangnya, apalagi kalau ia mengingat guru gadis itu, benar-benar tak
boleh dijadikan lawan dan jauh lebih baik dijadikan kawan. Maka ia mengangguk
dan menggumam, "Asal orang muda tidak kurang ajar terhadap orang tua, aku pun
bukan seorang serakah yang ingin memiliki seluruh pusaka."
Cu Im melangkah maju mendekati Keng Hong lalu memegang tangan pemuda itu
dengan tangan kanannya yang menyembunyikan pedang di balik lengan. "Uh, kalian
mau enaknya saja! Siapa yang lebih dulu mendapatkan murid Sin-jiu Kiam-ong ini?
Aku! Kalau kalian semua lari terbirit-birit diusir tosu-tosu Kun-lun-pai, aku
malah membiarkan diriku dijadikan seorang tawanan! Setelah aku berhasil
mendapatkan pemuda ini, kalian masing-masing mau minta bagian! Benar-benar tak
tahu malu!" Tiba-tiba gadis itu menggerakan tangan kiri, membanting sesuatu di
depan dua orang lawan itu dan terdengarlah ledakan keras diikuti asap hitam
mengebul. Dua orang tua itu adalah orang-orang sakti yang sudah berpengalaman.
Cepat mereka melompat mundur menjauhkan diri, maklum betapa berbahaya asap hitam
yang timbul dari ledakan itu. Dan memang tepat sekali dugaan mereka karena kalau
keduanya tidak menjauhkan diri dan sampai menghisap asap hitam itu, nyawa mereka
terancam maut yang disebar oleh asap hitam yang amat beracun itu! Ketika mereka
meloncat dengan jalan memutari asap itu, ternyata Cui Im dan Keng Hong sudah
tidak kelihatan lagi bayangannya.
"Kurang ajar! Mari kita kejar!" Kiu-bwe Toanio berseru dan menggerak-gerakan
cambuknya yang tinggal berekor enam itu. "Tar-tar-tar!" Dua orang tokoh lihai
ini lalu melesat dan melakukan pengejaran akan tetapi karena mereka berdua tidak
melihat ke jurusan mana larinya Cui Im, mereka mengejar secara ngawur dan
ternyata mereka menuju ke jurusan yang berlawanan. Kalau Cui Im yang mengempit
tubuh Keng Hong lari ke selatan, mereka mengejar ke barat! ***
"Keng Hong, kita beristirahat dan bermalam di sini!" Kata Cui Im sambil
melempar tubuh Keng Hong di atas rumput hijau dalam sebuah hutan. Senja telah
berlalu dan keadaan cuaca di dalam hutan sudah remang-remang. Cui Im lalu
menyalakan api dan membuat api unggun sehingga di situ selain hangat dan tidak
diganggu nyamuk, juga agak terang. Kemudian gadis cantik itu duduk mendekati
Keng Hong yang bersandar pada batang pohon.
"Keng Hong, waktumu sudah terlewat sehari, tinggal malam ini. Kalau kau tidak
kuberi obat penawar, besok pagi engkau mampus."
Keng Hong menarik napas panjang memperlihatkan muka duka padahal di dalam
hatinya dia menjadi geli. "Mampus ya biarlah, malah tidak repot menjadi rebutan
seperti sekarang ini!"
"Eh, eh, eh! engkau masih muda remaja, baru tujuh belas tahun usiamu, belum
mengecap kenikmatan hidup, mengapa ingin mati?"
"Ingin mati sih tidak, akan tetapi kalau engkau meracuniku sampai mati, aku
bisa berbuat apakah?"
"Engkau tidak ngeri? Tidak takut mati?"
"Mengapa takut? Apakah engkau takut mati, Cui Im?"
Gadis itu mengangguk, memandang wajah tampan itu dengan heran dan kagum.
"Hemmm, alangkah anehnya kalau ada orang takut mati. Mati itu apa sih? Siapa
yang pernah mengalaminya? Siapa yang mengetahuinya bagaimana kalau sudah mati?
Apakah menakutkan? Kalau belum tahu, perlu apa takut? Aku tidak takut mati
karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi di sana, seperti juga dahulu aku
tidak takut lahir karena ketika itupun aku tidak tahu bagaimana itu yang disebut
hidup!"
"Wah, engkau ini selain tolol dan bandel, juga aneh!"
"Engkau lebih aneh lagi. Ketika berada di Kun-lun-san, engkau membiarkan
dirimu menjadi tawanan, berpura-pura seperti orang yang tidak memiliki
kepandaian, padahal tadi ketika menghadapi Kiu-bwe Toanio, engkau lihai sekali."
Cui Im tertawa, giginya berkilauan disentuh sinar api unggun. "Kalau
tosu-tosu bau dari Kun-lun-pai itu mengetahui bahwa aku adalah aku, tentu mereka
tidak akan mudah melepaskan aku pergi, biarpun engkau yang memintanya."
"Engkau siapa sih? Aku dengar tadi mereka menyebutmu Ang-kiam Tok-sian-li.
Julukan yang bagus dan juga mengerikan! Ang-kiam (Pedang Merah) dan Sian-li
(Bidadari) memang bagus, akan tetapi terselip kata-kata Tok (Racun), sayang
sekali. Dan buktinya engkau memang tukang meracuni orang! Mengapa seorang gadis
muda jelita macam engkau begini ganas, sungguh sukar dimengerti."
Cui Im tertawa lagi dan memegang lengan pemuda itu dengan sikap mesra.
"Kau bilang aku jelita? Benarkah?"
"Kalau aku tidak bilang kau jelita, berarti aku membohongi diri sendiri.
Engkau memang jelita, Cui Im."
Gadis itu makin girang hatinya. "Aduh, kalau kau selalu bersikap manis
kepadaku, aku menjadi tidak tega membunuhmu, Keng Hong. Kau tampan sekali, dan
banyak gadis akan kehilangan hatinya kelak kalau berhadapan denganmu."
Jantung Keng Hong berdebar, dia selamanya belum pernah berdekatan dengan
wanita muda dan cantik, belum pernah dipuji dan di rayu. Cepat dia menekan
perasaannya dan mengalihkan percakapan.
"Kiu-bwe Toanio dan Sin-to Gi-hiap adalah dua orang locianpwe yang berilmu
tinggi, akan tetapi terhadapmu seperti orang jerih, dan selalu menyebut-nyebut
gurumu. Siapa sih gurumu yang agaknya amat mereka takuti itu, Cui Im?"
"Guruku adalah orang yang terpandai di kolong langit ini! Agaknya hanya
Sin-jiu Kiam-ong saja yang dapat menandinginya, akan tetapi setelah Kiam-ong
meninggal, guruku menjadi jago nomer satu di dunia! Dia adalah orang pertama
dari Bu-tek Su-kwi (Empat Iblis Tanpa Tanding) yang menguasai daerah selatan dan
berjuluk Lam-hai Sin-ni (Dewi Laut Selatan). Akan tetapi..... ah, Keng Hong,
marilah bawa aku ketempat rahasia penyimpanan kitab-kitab rahasia suhumu, kita
mempelajari bersama dan..... kita berdua akan menjadi sepasang jago nomer satu
di dunia. Guruku sendiri takan mampu melawan kita. Marilah, kekasih.....!" Cui
Im merangkul leher Keng Hong. Tercium keharuman yang amat sedap dari muka dan
rambut gadis itu, membuat Keng Hong menjadi makin berdebar jantungnya dan
terpaksa dia memejamkan matanya
"Bagaimana, Keng Hong? kuberi obat pemunah, ya? Kemudian.... kemudian kita
bersenang-senang malam ini besok kita pergi ke Kun-lun-san, ke Kiam-kok-san dan
mengambil semua pusaka peninggalan suhumu.... ya??"
Keng Hong sudah memejamkan mata dan sudah mengumpulkan seluruh panca indra
untuk menekan batinnya yang bagaikan air yang tenang mulai diguncang nafsu. Ia
menggeleng kepala dan berbisik, "Aku tidak tahu di mana tempatnya itu."
Cui Im melepaskan rangkulanya dan lenyap pula kemesraanya. Ia mendengus dan
menjauhkan diri, duduk merenung di depan api unggun. Keng Hong membuka matanya
dan memandang punggung gadis itu yang menggunakan sepuluh jari tanganya
menekuk-nekuk batang rumput, berkali-kali menarik napas panjang dan kelihatanya
jengkel sekali. Keng Hong terheran mengapa ada seorang gadis secantik itu,
sehalus itu, berhati kejam dan jahat, mengejar kepandaian secara membuta. Ia
merasa sayang sekali. Kalua dia terbayang akan belaian dan bujuk rayu tadi,
kakinya menggigil. Apa yang akan diperbuat gurunya, andaikata Sin-jiu Kiam-ong
yang menjadi dia? Dia tidak takut akan racun yang memasuki perutnya tadi. Selama
dia berguru kepada Sin-jiu Kiam-ong, gurunya itu setiap hari memberinya minum
segala macam racun, sedikit demi sedikit!
"Kaki tangan seorang lawan dapat kauhadapi dengan kaki tangan pula, muridku,"
demikian gurunya memberi keterangan, "akan tetapi lawan yang licik suka
mempergunakan racun yang dicampur dalam makanan atau minuman. Banyak terdapat
racun yang jahat sekali dan yang tidak berbau apa-apa, tidak terasa apa-apa.
Namun dengan kebiasaan minum sedikit racun setiap hari, lidahmu akan menjadi
biasa dan dapat mengenal setiap racun yang dicampur makanan atau minuman. Juga,
dengan cara sedikit demi sedikit, makin lama makin tambah takarannya masukan
racun-racun itu ke perut, engkau akan menjadi kebal terhadap segala macam
racun."
Demikianlah, ketika dia minum air yang dicampur racun, dia segera mengenal
racun itu, akan tetapi mengandalkan kekebalan perutnya dia tidak khawatir dan
minum terus sampai habis. Dengan sinkang yang disalurkan ke perut, dia tadi
telah mengumpulkan racun di perutnya dan dalam perjalanan tadi ketika dia
dipanggul Cui Im, diam-diam dia telah memuntahkan kembali racun itu sehingga
kini perutnya bersih daripada racun.
Kembali Keng Hong memperhatikan Cui Im. Kini gadis itu agak miring duduknya
sehingga tampak dari samping wajah yang cantik itu. Wajah yang disinari api
merah, sedikit tertutup juntaian rambut hitam, benar-benar amat mempesonakan.
Ketika tiba-tiba gadis itu menoleh ke arahnya, seolah-olah terasa pandang
matanya, Keng Hong cepat meramkan matanya. Dia memang lelah dan mengantuk, maka
kini dia mengambil ketetapan hati untuk meram terus dan tidur, tidak lagi
mempedulikan gadis itu.
"Keng Hong....!"
Pemuda itu membuka matanya dan memandang gadis yang bersimpuh di depannya.
"Enak saja kau tidur!"
"Habis mau apa lagi? Mengapa kau mengganggu orang tidur?"
Gadis itu makin gemas. Orang ini sudah terkena racun, sudah menghadapi
kematian, namun masih enak-enak saja. Biarpun seorang di antara tokoh-tokoh
besar di dunia kang-ouw macam mereka yang disebut locianpwe, kiranya akan
menjadi gelisah dan akan berdaya sedapat mungkin untuk menyelamatkan nyawanya.
Akan tetapi pemuda ini enak-enak saja tidur. Selain heran dan penasaran, juga
dia menjadi kagum dan makin tertarik karena sukarlah mencari seorang pemuda
setenang ini. Ataukah memang karena tololnya? Dia tidak menghendaki kematian
Keng Hong, karena kematian pemuda ini tidak saja akan membuyarkan cita-citanya
mendapatkan kitab-kitab simpanan Kiam-ong, juga gurunya akan menjadi marah
sekali kepadanya. Apa yang ia harus lakukan untuk dapat membujuk pemuda ini?
"Keng Hong, apakah kau tidak merasa sakit?"
Keng Hong menggeleng kepala.
"Perutmu tidak mulas? Racun itu tentu telah mulai bekerja."
Kembali pemuda itu hanya menggeleng.
"Kau memang aneh. Karena umurmu tinggal malam ini, biarlah kuhadiahi engkau
arak wangi yang kubawa. Jarang ada orang kuberi arak ini, kalau bukan orang yang
kusenangi."
"Hemmm, engkau senang kepadaku?"
Cui Im memandang dan melempar kerling memikat, senyumnya kini manis sekali.
"Ah, betapa bodohnya engkau Keng Hong. Aku senang kepadamu, aku cinta kepadamu,
masih butakah matamu? Aku tidak ingin melihat engkau mati besok."
"Engkau ingin memaksa aku mencari pusaka suhu, bukan tidak ingin melihat aku
mati."
"Betul juga, akan tetapi aku cinta padamu. Kau seorang pemuda yang jantan,
tabah dan luar biasa. Mari, kuhadiahi engkau arak wangi." Cui Im mengeluarkan
sebuah guci arak kecil dari balik bajunya, membuka tutupnya dan terciumlah bau
yang amat wangi, seperti puluhan macam bunga wangi dikumpulkan dalam guci arak
itu. Keng Hong tidak banyak cakap lagi, namun dia haus dan bau arak itu amat
sedap. Ia menerima guci itu dan menodongkan ke mulutnya.
"Racun atau obat penawar?" tanyanya sebelum minum.
Cui Im makin kagum. Di dunia ini tak mungkin menjumpai orang seperti pemuda
ini, yang begitu tenang dan dingin menghadapi ancaman racun, padahal pemuda itu
sudah mengenal namanya sebagai Tok-sianli (Dewi Beracun)! Hebat bukan main!
"Kalau arak ini beracun, bagaimana?" Ia bertanya, memancing.
"Racun pun boleh, asal enak diminum. Aku sudah diracuni, ditambah lagi
sedikit atau banyak apa bedanya?" Jawab Keng Hong lalu meminum arak itu dari
guci. Lidahnya segera dapat merasa bahwa di dalam arak ada racunnya, akan tetapi
racun ini berbeda dengan racun tadi. Racun yang berada di dalam arak ini racun
yang amat halus, bahkan bukan racun cair karena begitu diminum, racun itu
menjadi segumpal hawa yang harum. Dia tidak tahu racun apa ini, akan tetapi dia
mengerahkan sinkangnya menerima racun itu dan membiarkan gumpalan hawa wangi itu
berkumpul di dalam dadanya. Setelah guci kecil itu kosong, baru dia
mengembalikannya kepada Cui Im, dan mengusap mulut dengan ujung lengan bajunya.
Cui Im memandang dengan mata terbelalak, kemudian dia tersenyum-senyum ketika
melihat pemuda itu menyandarkan diri di batang pohon dan meramkan mata seperti
orang mengantuk. Ia percaya penuh akan kemanjuran racun araknya dan mengharapkan
hasil sekali ini. Arak yang dicampur racun itu amatlah kuatnya dan merupakan
arak buatan gurunya yang ampuh sekali. Bukan racun untuk membunuh, melainkan
racun untuk pembangkit berahi, racun perangsang yang dibuat dari beberapa macam
lalat dan semut dicampur sari bunga-bunga wangi. Penduduk kepulauan di selatan
mempergunakan sebagian kecil saja dengan cara pembuatan sederhana untuk meracuni
kuda yang hendak dikawinkan. Tanpa racun ini, sukar mengawinkan kuda betina.
Kini, yang diminumkan oleh Cui Im kepada Keng Hong merupakan sarinya, kerasnya
bukan main dan kiranya cukup untuk pembangkit nafsu berahi dua puluh ekor kuda!
Keng Hong yang meramkan mata itu sesungguhnya tidak tidur. Dia mendengarkan
gerak-gerik Cui Im yang menurut pendengaranya seperti orang gelisah. Akan tetapi
dia tidak perduli dan meramkan mata, mengheningkan cipta dan mengerahkan sinkang
untuk menahan gumpalan hawa beracun yang aneh itu. Ia tahu bahwa racun ini amat
berbahaya, sungguhpun dia tidak tahu bagaimana bahayanya. Tubuhnya menjadi
panas, padahal racun itu masih tertahan olehnya. Ia menanti saat baik untuk
menghembuskan keluar racun itu di luar tahu Cui Im, karena dia pun hanya ingin
melihat apa yang akan dilakukan gadis itu selanjutnya.
Akan tetapi, apa yang akan dihadapinya sungguh di luar dugaannya sama sekali.
Lewat tengah malam, Keng Hong yang mengantuk itu tiba-tiba mendengar panggilan
yang mesra dan halus, dibisikan dekat telinganya.
"Keng Hong....., ah, Keng Hong.....!"
Ia membuka matanya. Api unggun masih menyala dan di antara sinar merah api
itu, dia melihat Cui Im merangkul dan membelainya, lengan yang telanjang
membelit lehernya seperti ular, dada yang tak ditutupi apa-apa membusung dan
menekan dadanya sendiri. Gadis itu memeluk dan membelainya dalam keadaan
telanjang bulat. Keng Hong membelalakan matanya, mulutnya ternganga dan dapat
dibayangkan betapa gagetnya ketika pada saat itu Cui Im mencium mulutnya yang
sedang ternganga itu sehingga mulut mereka bertemu seperti guci arak dengan
sumbatnya. Karena kaget, Keng Hong mengeluarkan suara "ahhh!" dari dadanya
dan.... segumpal hawa racun wangi yang dia kumpulkan dan tahan dengan kekuatan
sinkang telah terhembus keluar, memasuki mulut Cui Im yang terbuka dan langsung
ke dalam dada gadis itu.
"Aiiihhhh.....!" Cui Im menjerit dan terjengkang ke belakang. Ia
terbatuk-batuk, memegangi leher yang serasa tercekik, tubuhnya mengeliat-geliat
seperti seekor ular terkena api. Keng Hong memandang dengan mata terbelalak,
setengah kasihan, setengah geli bahwa tanpa disengaja racun itu meracuni Cui Im
sendiri, juga setengah kagum menyaksikan betapa tubuh yang indah itu
mengeliat-geliat seperti itu. Harus dia akui bahwa selama hidupnya belum pernah
dia menyaksikan keindahan tubuh seperti tubuh Cui Im. Dalam mimpi pun tak
pernah.Kini barulah dia mengerti mengapa mendiang Sin-jiu Kiam-ong, suhunya,
dikatakan mata keranjang dan tukang memikat wanita. Kiranya tubuh indah dan
wajah cantik seperti yang dimiliki Cui Im inilah yang membuat suhunya seperti
itu. Hati pria mana takkan tertarik? Bukankah keindahan wanita memang khusus
diciptakan untuk menarik hati pria? Kerbau, kuda, burung dan segala macam
binatang tentu akan tertarik akan keindahan wajah dan tubuh seorang wanita!
"Tamasya alam yang indah memang minta kita pandang dan kagumi. Bunga-bunga
cantik wangi memang minta kita pandang dan ciumi. Wanita-wanita cantik jelita
memang minta kita cinta dengan kasih mesra. Engkau bahagia dalam hidupmu kalau
tidak terjerat cinta kasih yang mendalam, muridku. Sekali terjerat, engkau akan
menikah, dan sekali kau menikah, berarti engkau memberikan kaki tanganmu untuk
diikat selama-lamanya dengan kewajiban-kewajiban! Karena itu jauhkan diri
daripada ikatan cinta kasih yang mendalam, sungguhpun engkau telah berhubungan
dengan banyak wanita. Kalau memang engkau suka, jangan menolak cinta wanita,
hanya jangan berikan hatimu, jangan berikan cinta kasihmu, cukup kau berikan
tubuhmu." Demikianlah pernah dia mendengar wejangan gurunya yang terkenal
sebagai seorang pemikat wanita! Tadinya, wejangan seperti itu hanya lewat saja
di hatinya karena belum terpikirkan olehnya bahwa dia akan menghadapi hal-hal
seperti itu, tidak terpikirkan olehnya bahwa dia akan bertemu dengan
wanita-wanita sehingga timbul persoalan cinta kasih. Akan tetapi sekarang, baru
saja dia turun dari Kiam-kok-san, dia telah bertemu dengan hal yang dikatakan
suhunya itu!
|