#1 of 5 | Prev -
Next
001. Pedang Kayu Harum Episode 1Description
Kiam Kok-san (Gunung Berlembah Pedang) merupakan sebuah di antara
puncak-puncak Pegunungan Kun Lun San yang tak pernah dikunjungi manusia seperti
puncak-puncak lain dari Kun Lun-san. Bukan karena Kim Kok-san kurang indah
pemandangannya. Sama sekali bukan. Bahkan tamasya alam yang tampak dari puncak
gunung ini amatlah indahnya. Batu kapur yang mengeras dan mengkilap menjulang
tinggi seperti menara besi menembus awan tak tampak ujungnya seolah-olah
bersambung dengan langit. Pantaslah kalau ada yang mengatakan bahwa puncak batu
perawan itu merupakan tempat kediaman dewa penjaga gunung. Awan putih yang
berarak seperti domba-domba kapas, tak pernah berhenti dihembus angin langit,
menjadi jinak setelah bertemu dengan Kiam Kok-san, berkumpul di sekeliling
puncak seperti sehelai bulu domba yang hangat. Dari puncak ini memandang ke
bawah tampak awan putih mengambang di bawah kaki, menyusupi lembah-lembah bukit
yang amat curam. Indah, sukar dilukiskan dengan kata-kata keindahan tamasya alam
yang dapat dinikmati dari puncak Kiam Kok-san. Bagaimana taman surga terbentang
luas di bawah kaki, suram-suram terselimut tirai halimun menciptakan sifat yang
ajaib penuh rahasia.
Bukan karena kurang indah, melainkan kesukaranlah yang membuat tempat itu
tidak pernah dikunjungi manusia. Sesuai dengan namanya, puncak ini terdiri dari
lembah-lembah penuh batu gunung yang merupakan karang-karang meruncing dan tajam
seperti pedang. Tidak terdapat jalan tertentu mendaki puncak, tidak ada pula
jalan setapak bekas kaki manusia. Semuanya liar, lebat dan bahaya maut mengintai
setiap saat bagi manusia yang berani mendatangi tempat itu. Jurang-jurang yang
curam, belukar tempat persembunyian binatang-binatang buas, rumput-rumput hijau
yang menopengi muara-muara dalam penuh lumpur dan ular berbisa, dan bahaya
tersesat jalan. Jangankan orang biasa, bahkan mereka yang memiliki ilmu
kepandaian seperti para pertapa dan para pendekar masih akan berpikir
masak-masak lebih dahulu untuk mendaki puncak berbahaya seperti Kiam-kok-san.
Pagi hari itu amatlah cerah. Halimun tidak setebal biasanya dan karenanya
sinar matahari pagi dapat mengusir halimun menerobos di antara celah-celah daun
pohon dan batu pedang, menerangi tanah puncak yang penuh lumut dan rumput hijau.
Tak terkira indahnya puncak Kiam-kok-san yang bermandi cahaya keemasan matahari
pagi itu, sunyi dan hening, aman tentram. Seperti itulah agaknya sorga sering
kali disebut-sebut oleh para pendeta yang dijanjikan sebagai anugerah tempat
tinggal bagi para manusia yang dalam hidupnya menjauhkan diri daripada segala
kemaksiatan dan kejahatan.
Ketika sinar matahari mencapai kaki batu hitam mengkilap yang ujungnya
berselimut awan langit, tampaklah seorang kakek tua renta duduk bersila di atas
batu halus. Kakek ini sudah amat tua, terbukti dari kulit wajahnya yang penuh
keriput, dagingnya yang sudah tipis sehingga tulang-tulangnya menonjol di balik
kulit, rambutnya yang putih semua terurai panjang sampai ke punggung dan
sebagian menutupi kedua pundaknya. Kalau ditaksir, kakek ini tentu tidak kurang
dari seratus tahun usianya. Pakaiannya yang sederhana hanya merupakan kain putih
yang sudah agak menguning dibalut-balutkan ke tubuhnya, kakinya telanjang
seperti kepalanya. Dia duduk bersila di bawah batu pedang yang tinggi itu dengan
kedua kaki dan kedua lengan menyilang, duduk tak bergerak-gerak dengan kedua
mata dipejamkan. Dilihat dari jauh, dia seperti telah membatu, lebih menyerupai
sebuah arca batu daripada seorang manusia hidup. Namun sesungguhnya dia bukanlah
arca, karena kalau diperhatikan, tampak betapa dada di balik kain putih itu
bergerak perlahan seirama dengan pernapasannya yang halus dan panjang. Di atas
tanah, depan kaki yang bersilang dengan bentuk teratai (kedua telapak kaki
terlentang di atas paha), terdapat sebatang pedang telanjang yang mengeluarkan
sinar kehijauan setelah tertimpa cahaya matahari. Sebatang pedang yang indah
bentuknya, namun amat aneh karena berbeda daripada pedang-pedang umumnya yang
terbuat dari baja-baja pilihan, pedang yang terletak di depan kakek itu adalah
sebatang pedang kayu!
Perlahan-lahan sekali, sedikit demi sedikit, sinar matahari memandikan wajah
tua keriputan itu. Di bawah sinar keemasan sang surya, wajah itu tampak amat
elok dan tak dapat diragukan pula bahwa kakek ini dahulu tentu seorang pria yang
amat tampan. Bentuk dan raut wajahnya masih jelas membayangkan ketampanan
seorang pria.
Kehangatan sinar matahari yang sedap nyaman itu menyadarkannya dari samadhi.
Dia membuka kedua matanya dan orang akan heran kalau melihat sinar matanya.
Orangnya jelas sudah amat tua, namun sepasang matanya bening seperti mata
seorang anak kecil yang masih bersih batinnya! Bagi seorang ahli kesaktian, hal
ini saja sudah menjadi bukti bahwa kakek ini telah mencapai tingkat ilmu yang
amat tinggi, karena hanya orang yang memiliki sinkang (hawa sakti) amat kuat
saja yang dapat mempunyai sepasang mata seperti itu. Dengan pandang mata penuh
kagum kakek itu memandang ke depan, lalu ke kanan kiri dengan sinar matanya
seolah-olah dia minum dan menikmati segala keindahan yang dicipta oleh sinar
keemasan sang surya itu. Kemudian dia menggeleng kepalanya, dan bibirnya
bergerak-gerak, mengeluarkan kata-kata lirih.
"Ya Tuhan Yang Maha Kasih! Sampai sedemikian besarkah kasihMu kepada seorang
penuh dosa seperti aku? Berhakkah aku menikmati semua ini? Aaaahhh, tak mungkin!
Thian (Tuhan) hanya melimpahkan ganjaran kepada orang yang telah berjasa di
dalam hidupnya. Guruku dahulu mengatakan dalam pesannya bahwa aku harus berbuat
jasa terhadap manusia dan dunia. Apakah jasaku selama aku hidup? Tidak ada!
Hanya malapetaka yang menjadi akibat dari semua perbuatanku! Dan semua itu
karena aku pandai ilmu silat, karena...karena Siang-bhok-kiam (pedang Kayu
Harum) ini! Aaahhh,Tuhanku! Aku tidak akan mengelak daripada kenyataan. Aku rela
dan siap sedia menerima hukuman-hukumannya. Tak mungkin aku membebaskan diri
daripada belenggu karma. Aku tidak berhak menikmati kemurahan dan kasihMu, ya
Tuhan....!"
Kata-kata terakhir kakek itu bercampur isak tertahan dan dia lalu memejamkan
kembali kedua matanya seolah-olah dia tidak mengijinkan matanya memandangi
segala keindahan yang terbentang luas di depannya. Keadaan menjadi sunyi
kembali. Sunyi sama sekali? Tidak! Terdengar kicau burung pagi, riak air di
belakang batu pedang, dan desau angin menghembus lewat mempermaikan daun-daun
pohon. Paduan suara ini seolah-olah mengejek kakek itu, seolah-olah menertawakan
kebodohan dan kebutaan manusia. Tuhan Maha Kasih, tidak membeda-bedakan. Siapa
pun dia yang bersedia, akan menerima uluran kasihNya, seperti cahaya matahari
pagi yang tidak memilih-milih siapa yang akan disinarinya. Kasih sayang Tuhan
merata, tanpa perbedaan, tidak dikotori dosa manusia, besar kecilnya kasih yang
dilimpahkan tergantung daripada rasa penerimaan si manusia sendiri!
Tiba-tiba terjadi perubahan pada paduan suara itu. Kicau burung yang tadinya
merdu, kini berubah cecowetan penuh kejut dan takut, tanda bahwa terjadi sesuatu
yang tidak wajar di tempat itu. Kemudian muncullah bayangan orang-orang
berkelebat cepat. Gerakan mereka tangkas seperti burung-burung raksasa dan dalam
sekejap mata saja sembilan orang telah membentuk lingkaran kipas di depan kakek
yang bersamadhi dalam jarak kurang lebih sepuluh meter. Kenyataan bahwa sembilan
orang ini dapat mendaki puncak, ditambah dengan gerakan mereka tadi, tentu saja
mereka ini bukanlah orang-orang biasa, melainkan orang-orang yang memiliki ilmu
kepandaian tinggi. Ketika mereka berlompatan di depan kakek itu, kaki mereka
tidak menimbulkan suara seperti kaki burung hinggap di atas dahan. Mereka
berdiri tak bergerak, namun dalam keadaan siap-siaga, memasang kuda-kuda dengan
gaya masing-masing, seluruh urat saraf menegang, pandang mata ditujukan ke arah
kakek dan pedang yang terletak didepannya. Pandang mata yang menyapu wajah kakek
itu mengandung benci yang mendalam, adapun ketika pandang mata menyapu pedang,
kebencian berubah menjadi rasa kepingin yang tak disembunyikan.
Biarpun kedatangan sembilan orang sakti itu hanya ditandai perubahan pada
kicau burung, ternyata telah diketahui oleh kakek tua renta yang sedang duduk
bersamadhi. Dia membuka kedua matanya dan menyapu dengan pandang matanya ke arah
sembilan orang yang berdiri mengurungnya dalam bentuk lingkaran kipas. Mulutnya
tersenyum, sedikitpun tidak memperlihatkan rasa heran seolah-olah kedatangan
mereka itu memang telah diduganya. Adapun sembilan orang itu ketika bertemu
pandang sedetik dengan sapuan matanya, menjadi terkejut dan bergidik. Mereka
temukan pandang mata itu saja cukup memperingatkan mereka bahwa kakek yang
mereka kunjungi ini makin tua makin ampuh kesaktiannya.
"Sie Cun Hong...! Aku datang untuk menerima pedangmu sebagai pengganti
nyawamu yang semestinya kukirim ke neraka agar dendam hatiku terhadpmu lunas!"
Kakek itu menoleh ke kanan karena yang bicara ini adalah orang yang berdiri
paling kanan dalam lingkaran kipas itu. Bibirnya tersenyum lebar memperlihatkan
mulut ompong tak bergigi lagi, seperti senyum seorang bayi yang belum bergigi.
Wanita yang menyebut namanya yang sudah bertahun-tahun tak pernah didengarnya
itu adalah seorang nenek yang usianya paling sedikit sudah tujuh puluh tahun.
Rambutnya sudah hampir putih semuanya, digelung kecil ke atas dengan tusuk konde
perak. Wajahnya masih belum kehilangan raut dan bentuk yang manis, hanya mulut
yang dahulunya amat indah manis itu kini agak "nyamprut" karena tidak bergigi
lagi. Tubuhnya yang dahulunya tinggi semampai itu kini agak membongkok dan
kurus. Pakaiannya sederhana dan berwarna hijau. Dari depan, tampak gagang pedang
tersembul di balik pundak kanannya.
"Heiii, bukankah engkau Lu Sian Cu? Ah, tubuhmu mungkin sudah menjadi tua,
namun semangatmu benar masih muda, Sian Cu! Engkau mendendam kepadaku dan
menghendaki pedang Siang-bhok-kiam sebagai pengganti nyawaku? Eh, dalam hal
apakah engkau mendendam kepadaku?"
"Keparat tua bangka! Jangan kaukira akan dapat mendesakku dengan pertanyaan
untuk membikin aku malu. Aku sudah tua, dan semua yang hadir itu adalah
tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw, tidak perlu malu aku mengaku! Puluhan tahun
yang lalu engkau telah mempergunakan kepandaianmu menggaggahi dan memperkosaku.
Dendamku kepadamu setinggi langit!"
Kakek itu tertawa, lalu mengangguk-angguk. "Benar, alangkah cepatnya sang
waktu meluncur. Ketika itu engkau baru berusia kurang dari tiga puluh tahun, dan
engkau terkenal sebagai seorang pendekar wanita yang selain lihai juga cantik
dan terutama sekali angkuh sehingga engkau menolak semua pinangan pria,
membuatmu masih perawan dalam usia hampir tiga puluh. Akupun ketika itu masih
muda belum lima puluh tahun. Aku tergila-gila kepadamu, menggunakan kepandaian
memasuki kamarmu dan memperkosamu. Akan tetapi , heh Lu Sian Cu! Lupakah engkau
betapa engkau kemudian menerimaku dengan penuh kehangatan betapa engkau menangis
dan merengek-rengek ketika hendak kutinggalkan? Lupakah engkau betapa engaku
sama sekali tidak menaruh dendam atas perbuatanku yang juga menyenangkan hatimu
itu? Mengapa kini engkau membalik dan memutar lidah?"
"Cih, laki-laki tak berjantung! Setelah perbuatan kejimu itu, bagaimana aku
dapat menerima pria lain? Aku telah menyerahkan raga dan jiwa, akan tetapi
engkau menolak dan meninggalkanku pergi! Engkau telah mempermainkan cintaku.
Seharusnya engkau menjadi suamiku, akan tetapi engkau mengejek dan minggat.
Keparat, dendamku sedalam lautan setinggi langit!"
"Ha-ha-ha, engkau mau menang sendiri, Sian Cu. Dahulu pun kau sudah tahu
bahwa aku adalah seorang yang selalu ingin bebas, bebas dari golongan, bebas
dari segala ikatan termasuk ikatan rumah tangga! Memang aku telah berbuat jahat,
memperkosamu, namun kita bersama, engkau dan aku, telah menikmatinya bersama dan
hal yang menyenangkan orang lain mana bisa kausebut sebagai hal yang menyakitkan
hati orang itu?"
"Sie Cun Hong! Tak perlu banyak cakap lagi. Serahkan pedangmu itu atau
serahkan nyawamu!" Sambil berseru begini, nenek itu lalu mengeluarkan senjatanya
yang menyeramkan. Senjata ini berupa cambuk berwarna hitam, akan tetapi bukan
sembarang cambuk karena pada ujungnya terpecah menjadi sembilan dan setiap ujung
diberi baja pengait seperti mata kail. Inilah senjata cambuk sembilan ekor yang
telah membuat nama nenek ini tersohor di dunia kang-ouw, karena jarang ada lawan
yang dapat bertahan menghadapi senjatanya yang istimewa itu. Dan senjata itu
pula yang mebuat nenek ini dijuluki Kiu-bwe Toa-nio (Nyonya Besar Berekor
Sembilan), sebuah nama besar yang ditakuti para penjahat, seorang pendekar
wanita tua yang ganas dan keras hati terhadap penjahat. Telah puluhan tahun
lamanya ia dikenal sebagai Kiu-bwe Toanio dan baru sekarang tokoh-tokoh lain
yang hadir disitu mendengar disebutnya namanya oleh kakek itu, yaitu Lu Sian Cu!
"Tar-tar-tar...!" Cambuk hitam itu melecut-lecut di udara dan mengeluarkan
suara meledak-ledak. "Sie Cun Hong! Apakah engkau masih membandel dan tidak mau
menyerahkan pedangmu?"
"Ha-ha-ha, engkau masih bersemangat dan galak. Tubuhku sudah tua, semangatku
pun sudah melempem, kalau kau hendak menolongku bebas dari tubuh tua dan dunia
ini, nah, lakukanlah, Lu Sian Cu!"
Nenek itu mengeluarkan suara teriakan melengking panjang, lengking yang
memekakkan telinga, yang mengandung rasa duka, kecewa, menyesal dan benci karena
cinta ditolak. Cambuknya menyambar ke depan dan tiga buah diantara sembilan ekor
itu sudah meluncur ke arah sepasang mata dan ubun-ubun kepala. kakek itu masih
duduk bersila, kini tangan kirinya diangkat, jari-jari tangannya bergerak
menyentil tiga kali.
"Tring-tring-tring....!"
"Aiiihhh.....!" Kiu-bwe Toania menjerit dan hampir saja ia melepaskan
cambuknya karena tiga buah ekor cambuk yang terkena sentilan kuku jari tangan
kakek itu secara tiba-tiba membalik dan menerjangnya di tiga buah tempat, yaitu
ke arah buah dada dan pusar. Selain ini, juga senjata itu keras sekali, membuat
telapak tangannya yang memegang gagang cambuk terasa panas dan pedas. Dengan
loncatan ke belakang sambil memutar cambuknya, nenek ini berhasil menyelamatkan
diri. Wajahnya menjadi merah sekali dan ia memaki sambil menudingkan cambuknya.
"Sie Cun Hong, dasar engkau tua-tua keladi makin tua makin...cabul!"
Kakek itu hanya tertawa-tawa, akan tetapi ketawanya berhenti ketika dari
sebelah kiri terdengar suara yang menggetar penuh tenaga. "Omitohud....!" Ketika
melihat bahwa yang maju kini adalah dua orang hwesio gundul yang usianya sudah
enam puluh tahun lebih, kakek itu memandang dengan sikap tenang tetapi penuh
pertanyaan karena sesungguhnya dia tidak mengenal dua orang pendeta ini.
"Locianpwe benar-benar telah membuktikan betapa julukan Sin-jiu Kiam-ong(Raja
Pedang Tangan Sakti) adalah tepat karena tangan Locinpwe benar sakti!" kata
seorang di antara dua orang pendeta yang alisnya putih dan tubuhnya kecil kurus.
Hwesio ke dua yang berkulit hitam dan bertubuh tinggi besar hanya merangkap
kedua tangan didepan dada sambil berulang-ulang memuji, "Omitohud...!
Sin-jiu Kiam-ong Sie Cun Hong masih duduk bersila dan kini dia pun merangkap
kedua telapak tangan di depan dada, sebagai pemberian hormat. Menghadapi dua
orang pendeta yang begitu lemah lembut, yang bersikap merendahkan diri sehingga
menyebutnya locianpwe sebagai sebutan terhadap golongan tua tingkat atas, dia
menjadi waspada dan hati-hati. Orang yang sombong takabur tak perlu
dikhawatirkan atau ditakuti, akan tetapi terhadap orang-orang yang lemah-lembut
dan sikapnya halus, haruslah hati-hati karena orang-orang yang kelihatannya
lemah sesungguhnya merupakan lawan yang berat.
"Ah, berat sekali menerima pujian jiwi (tuan berdua) yang sesungguhnya kosong
penuh angin. Aku yang tua menjadi sadar akan usiaku yang sudah terlalu tua,
karena biasanya kedatangan para hwesio seperti ji-wi adalah untuk menyembahyangi
orang yang sudah mau mati atau orang yang sudah mati agar nyawanya dapat
diterima di tempat yang baik. Siapakah gerangan ji-wi dan apa artinya kehadiran
ji-wi ini di Kiam-kok-san?"
"Omitohud...! Kami berdua adalah hwesio-hwesio kecil tak berarti yang menjadi
utusan Siauw-lim-pai untuk menemui Locianpwe."
"Ah, kiranya dari perguruan tinggi Siauw-lim-pai...! Sungguh merupakan
kehormatan besar sekali!" Kakek itu berkata tercengang.
"Pinceng Thian Ti Hwesio dan ini adalah Sute(adik seperguruan) Thian Kek
Hwesio, mewakili suhu yang menjadi ketua Siauw-lim-pai untuk mohon kepada
Locianpwe agar suka menyerahkan Siang-bhok-kiam kepada kami. Suhu mohon agar
Locianpwe ingat betapa Siauw-lim-pai telah bersikap sabar dan tidak menuntut
ketika Locianpwe pada tiga puluh tahun yang lalu mencuri kitab-kitab
Seng-to-ci-keng (Kitab Perjalanan Bintang) dan I-kiong-hoan-hiat (Kitab
Pelajaran Memindahkan Jalan Darah). Mengingat akan itu suhu pecaya bahwa
Locianpwe kini dalam saat terakhir akan membalas kebaikan Siauw-lim-pai dan
menyerahkan Siang-bhok-kiam agar semua ilmu yang tersimpan di dalamnya tidak
akan terjatuh ke tangan yang sesat dan dipergunakan untuk mengacau dunia!"
"Aha, kiranya ji-wi adalah murid-murid Tiong Pek Hosiang? Kalau begitu ji-wi
adalah tokoh-tokoh tingkat dua dari Siauw-lim-pai! Kehormatan besar sekali
bagiku. Guru ji-wi memang sejak dahulu halus dan sopan santun, namun cerdik
sekali. Memang aku telah mengambil dua buah kitab yang ji-wi maksudkan, hal itu
kulakukan karena Tiong Pek Hosiang terlalu pelit untuk meminjamkannya kepadaku.
Siauw-lim-pai agaknya lupa bahwa ketika mendiang Tat Mo Couwsu yang bijaksana
menyalin dan memperbaiki kitab-kitab dari barat, adalah dengan niat agar
kitab-kitab itu dapat dipelajari semua manusia sehingga umat manusia dapat
menjadi kuat lahir batinnya. Akan tetapi oleh Siauw-lim-pai ilmu-ilmu itu
dipendam, disembunyikan dan hanya diturunkan kepada murid-murid sebagian
daripada ilmu-ilmu yang dimiliki oleh guru. Dengan demikian, bukankah ilmu-ilmu
yang itu makin lama makin berkurang dan menjadi rendah nilainya? Biarpun dua
buah kitabnya kuambil, namun Siauw-lim-pai telah memiliki ilmunya. Kitabnya
hanya merupakan catatan saja, dan dengan pindahnya kitab ketanganku,
sesungguhnya Siauw-lim-pai tidak kehilangan apa-apa. Ilmu kepandaian dapat
dibagi-bagikan sampai kepada selaksa orang manusia tanpa mengurangi sumbernya.
Mengapa begitu pelit dan ji-wi menuntut tentang dua buah kitab pelajaran? Tidak,
aku tidak dapat memberikan Siang-bhok-kiam, kecuali kepada dia yang berjodoh.”
"Omitohud!" Hwesio tinggi besar hitam Thian kek Hwesio, melangkah maju dan
membentak keras. Kini hwesio itu membelalakkan matanya memandang Sin-jiu
Kiam-ong, dan ternyata sepasang matanya lebar sekali, wajahnya membayangkan
kekasaran dan kejujuran seperti wajah Thio Hwie, tokoh pahlawan dalam cerita Sam
Kok. "Locianpwe agaknya menghendaki kami menggunakan cara Locianpwe sendiri.
Meminjam kitab-kitab tidak boleh lalu menggunakan kepandaian mendapatkan
kitab-kitab itu. Kini kami minta baik-baik tidak Locinpwe berikan, apakah
berarti bahwa kami harus menggunakan kepandaian untuk mendapatkan pedang
Siang-bhok-kiam itu?"
Sin-jiu Kiam-ong memandang hwesio itu sambil tersenyum, pandang matanya
bersinar gembira. Orang yang keras dan jujur selalu mendapatkan rasa suka di
hatinya, karena orang yang demikian itu lebih mudah dihadapi. Ia mengangguk dan
menjawab.
"Kalau seperti itu wawasanmu, maka benarlah demikian agaknya."
"Hemmm, bagus! Sin-jiu Kiam-ong terkenal sebagai ahli pedang ahli lweekang
namun pinceng sedikit-sedikit juga telah berlatih selama puluhan tahun!" Setelah
berkata demikian, Thian kek Hwesio membalikkan tubuhnya dan dengan gerakan kokoh
kuat, lengan kanannya yang besar itu mendorong dengan pukulan ke depan, ke arah
sebatang pohon yang jaraknya ada tiga meter dari tempat dia berdiri. Sambaran
angin pukulan yang dahsyat membuat batang pohon tergetar, daun-daunnya seperti
dilanda angin topan, dan berhamburanlah daun-daun yang rontok ke atas tanah
seperti hujan! Andaikata manusia diserang dengan pukulan jarak jauh seperti ini,
pasti akan remuk tulang-tulangnya, dan rontok isi dadanya!
Namun Sin-jiu Kiam-ong tersenyum lebar menyambut demonstrasi tenaga sinkang
yang mencapai tingkat tinggi itu. "Ha-ha-ha! Membangun itu amat sukar, merusak
amatlah mudahnya. Manusia adalah perusak terbesar diantara segala mahluk! Thian
Kek Hwesio, untuk merusak dan merobohkan pohon itu sampai ke akar-akarnya adalah
hal yang dapat dilakukan semua orang, akan tetapi dapatkah engkau membuat
sehelai daun saja? Hemmm, biarlah kucoba mengembalikan daun-daun itu ke
tempatnya, sungguhpun tak mungkin dapat kembali seperti asalnya karena kekuasaan
itu hanya dimiliki Thian!" Sin-jiu Kiam-ong yang masih duduk bersila itu
menggerakkan kedua tangannya ke depan, ke arah daun-daun yang jatuh berhamburan
ke atas tanah tadi dan...bagaikan ada angin puyuh, secara tiba-tiba semua daun
itu bergerak, berputar-putar dan terbang naik ke atas pohon menempel sejadinya
pada cabang-cabang dan ranting-ranting, ada yang gagangnya menancap, ada yang
melekat pada batang pohon, akan tetapi tidak ada yang rontok lagi ke bawah!
Melihat ini, Thian Kek Hwesio, menjadi agak pucat wajahnya dan maklumlah dia
bahwa tingkat kekuatan sinkang kakek tua renta itu jauh lebih tinggi
daripadanya. Ia melangkah mundur sambil merangkapkan kedua tangan di depan dada
dan menggumam, "Omitohud...!"
"Maaf, suteku dan pinceng melupakan kebodohan sendiri!" kata Thian Ti Hwesio
dan si hwesio kurus ini sekarang menggerakkan kedua tangan ke depan, ke arah
pedang kayu yang terletak di depan kaki Sin-jiu Kiam-ong dan...pedang itu
tiba-tiba melayang naik seperti tersedot besi sembrani lalu terbang ke arah
kedua tangan tokoh Siauw-lim-pai itu.
Semua tokoh yang berada di situ tahu belaka bahwa kekuatan sinkang hwesio
alis putih ini jauh lebih tinggi daripada kekuatan sutenya. Sin-jiu Kiam-ong
mengeluarkan suara memuji, "Bagus! Siang-bhok-kiam, sebelum kuijinkan, kamu
tidak boleh berganti majikan. Kembalilah!" Ia menggapaikan tangan kirinya dan...
pedang kayu yang sudah terbang ke arah kedua tangan Thian Ti Hwesio itu
tiba-tiba berputaran lalu membalik, melayang ke arah Sin-jiu Kiam-ong! Thian Ti
Hwe-sio menjadi penasaran sekali. Ia manambah kekuatan pada kedua lengannya,
bahkan tubuhnya agak merendah ketika dia menggerakkan kedua tangan ke arah
pedang. Siang-bhok-kiam kembali berputaran di udara seolah-olah bimbang hendak
terbang kemana, akan tetapi akhirnya terbang kembali ke Sin-jiu Kiam-ong dan
jatuh ke depan kakek itu ditempatnya yang tadi. Thian Ti Hwesio mengusap peluh
di keningnya, lalu menjura dan merangkap kedua tangan di depan dada.
"Sin-jiu Kiam-ong makin tua makin gagah, tepat seperti apa yang telah
diperingatkan suhu kami. Siancai....siancai....!"
"Thian Ti Hwesio terlalu memuji," kata Sin-jiu Kiam-ong.
"Orang she Sie! Kalau lain orang menghormatimu, aku Sin-to Gi-hiap tidak! Aku
sudah mengenal isi perutmu! Aku seorang dari golongan pendekar, termasuk kaum
benar dan bersih, bagaimana aku dapat berdiri sederajat dengan engkau seorang
tokoh sesat dan kotor? Aku bilang bukan untuk minta-minta diberi
Siang-bhok-kiam, melainkan untuk memenggal kepalamu dan merampas pedangmu!"
Sin-jiu Kiam-ong memandang orang yang bicara dengan suara keras itu. Dia
adalah seorang kakek berusia tujuh puluh tahun lebih, namun tubuhnya masih
berdiri tegak dan tegap, wajahnya membayangkan kegagahan dan ketampanan,
sebatang golok telanjang berada di tangan kanan mengeluarkan cahaya
berkeredepan, pakaiannya ringkas dan sederhana, berwarna kuning bersih.
"Eh, kiranya Sin-to Gi-hiap (Pendekar Budiman Bergolok Sakti) yang datang?
Bagiku, tidak ada permusuhan dengan seorang pendekar budiman seperti engkau.
Mengapa engkau datang-datang memaki orang?"
"Lidah ular! Isteriku telah meninggal dunia, namun dendamnya dan dendamku
kepadamu takkan lenyap sebelum golokku berhasil memenggal lehermu! Biarlah
disaksikan oleh para orang gagah disini mendengarkan pengakuanku, karena aku
bukan seorang pengecut. Lima puluh tahun yang lalu, dengan kepandaianmu merayu
engkau telah mengganggu isteriku, memaksanya melakukan hubungan perjinaan
denganmu. Lima puluh tahun yang lalu aku kalah terhadapmu, akan tetapi coba-coba
kita buktikan sekarang! Bangkitlah dan lawan golokku!"
Sin-jiu Kiam-ong menudingkan telunjuknya ke arah hidung pendekar yang kini
sudah tua itu. "Sin-to Gi-hiap, sebelum memaki orang mengapa tidak meraba
hidungmu lebih dahulu? Aku memang melakukan hubungan cinta gelap dengan
isterimu, akan tetapi apa salahnya itu kalau dia sendiri menghendakinya? Dan
ketahuilah, aku sampai hati melakukan hal itu karena mengingat betapa engkau
mendapatkan isterimu yang cantik jelita itu dengan jalan merampas dan memaksa!”
“Engkau mendapatkan dengan membunuh suaminya si perampok tunggal di Taibu,
kemudian merampas isterinya yang cantik. Apakah kaukira aku tidak tahu bahwa
engkau membunuh perampok itu bukan sekali-kali terdorong jiwa pendekarmu,
melainkan terdorong nafsu birahimu melihat isterinya yang cantik? Engkau
merampas wanita dengan kekerasan, aku merampas cintanya dengan cara halus. Apa
bedanya? Setidaknya, aku lebih berhasil mendapatkan cintanya!"
"Keparat? Penjahat cabul engkau, jai-hwa-cat (Pemetik bunga) yang tak tahu
malu. Sebentar lagi engkau tentu mampus disini dan biarlah kubuatkan arca
seorang jai-hwa-cat untuk ditaruh diatas makammu agar setiap orang dapat
meludahinya!" Setelah berkata demikian, Sin-to Gi-hiap lalu meloncat ke arah
sebuah batu gunung sebesar manusia, goloknya mendahuluinya merupakan sinar putih
cemerlang, berkelebatan dan menggulung-gulung di sekitar batu itu dan terdengar
suara keras dan bunga api berpijar-pijar menyilaukan mata. Setelah gulungan
sinar berkilauan lenyap dan semua orang memandang ke arah batu diantara debu
itu, kini tampaklah bahwa batu itu telah menjadi arca yang menggambarkan kepala
Sin-jiu Kiam-ong! Biarpun kasar akan tetapi jelas tampak bahwa itu adalah arca
si kakek tua renta yang kini duduk bersila sambil memandang arca itu dan
tersenyum!
"Wah, makin hebat saja kepandaianmu, Si Golok Sakti! Akan tetapi bukan ilmu
goloknya yang kumaksudkan, melainkan ilmu ukirannya! Sayang begitu kasar! Tidak
dapatkah diperhalus lagi? Biar kubantu engkau." Setelah berkata demikian,
Sin-jiu Kiam-ong mengambil Siang-bhok-kiam yang masih menggeletak di depan
kakinya, dan sekali dia memutar pedang kayu itu terdengar suara bercuit nyaring.
Segulung sinar hijau menyambar ke depan, ke arah patung terus sinar itu
mengelilingi arca batu kemudian terbang kembali ke arah Sin-jiu Kiam-ong. Semua
orang memandang dan.... arca batu yang tadinya kasar , kini telah menjadi halus
seperti digosok pisau tajam dan agak mengkilap indah!
"Kiam-sut (ilmu pedang) yang hebat, akan tetapi siapa takut? Lihat golok!"
Sin-to Gi-hiap yang sudah marah sekali menerjang maju dengan goloknya. Sin-jiu
Kiam-ong tertawa dan menggerakkan Siang-bhok-kiam, membuat gerakan berputar
mengelilingi golok lawan. Yang berputaran hanya sinar pedangnya, karena kakek
itu sendiri hanya duduk bersila dan jarak antara mereka masih jauh. Namun si
Golok Sakti berteriak kaget dan cepat melompat mundur memandang ujung lengan
bajunya yang sudah buntung!
"Kiam-ong masih pantas menjadi Kiam-ong (Raja Pedang)!" Terdengar suara
memuji dan kini dua orang kakek yang berpakaian seperti petani, bersikap sabar
tenang dan gagah, telah maju. "Namun sayang Kiam-ong hanya memajukan lahir tanpa
mengingat kemajuan batin, sehingga kulitnya indah isinya busuk! Sin-jiu
Kiam-ong, kami Hoa-san Siang-sin-kiam(Sepasang Pedang Sakti Hoa-san) menjadi
utusan Hoa-san-pai untuk minta pertanggungan jawabmu terhadap dosa-dosamu.
Engkau pernah mencuri seorang murid perempuan Hoa-san-pai, mencuri pedang
pusaka, dan mencuri ramuan obat yang dibuat oleh Sucouw kami. Ketua kami akan
berpikir untuk bersikap bijaksana melupakan dosa-dosamu terhadap kami apabila
engkau suka menyerahkan pedang Siang-bhok-kiam kepada kami!"
Kakek tua renta itu mengerutkan keningnya, akan tetapi senyumnya masih ramah
ketika dia menjawab. "Bermacam-macam alasan yang dikemukakan bermacam-macam pula
yang dipergunakan, namun sesungguhnya mengandung maksud yang sama. Wahai Hoa-san
Siang-sin-kiam, aku tidak menyangkal semua tuduhan Hoa-san-pai, memang aku telah
mencuri murid perempuan, pedang pusaka dan ramuan obat. Akan tetapi semua tokoh
Hoa-san-pai tahu belaka bahwa murid perempuan Hoa-san-pai, mendiang Cui Bi yang
cantik manis, telah pergi mengikuti aku secara sukarela dan berdasarkan cinta
kasih, bukan karena kupaksa! Adapun pedang pusaka Hoa-san-pai, sampai sekarang
pun masih kusimpan dengan koleksiku yang lain, karena memang aku penyayang
barang-barang pusaka. Tentang ramuan obat yang dibuat mendiang Sucouw kalian,
ha-ha-ha telah membuka rahasia sucouw kalian karena ternyata obat itu adalah
obat perangsang bagi pria tua agar dapat kembali bersemangat seperti seekor kuda
jantan yang muda. Ha-ha-ha!"
Dua orang pendekar itu sejenak saling pandang dan wajah mereka menjadi merah.
Ucapan Sin-jiu Kiam-ong itu merupakan penghinaan bagi Hoa-san-pai, apalagi yang
terakhir. Setelah memberi isyarat dengan pandang mata, kedua orang tokoh
Hoa-san-pai itu menggerakkan tangan dan "singgg!" tampak dua sinar berkelebat
ketika mereka mencabut pedang mereka.
"Sin-jiu Kiam-ong, ucapanmu yang menghina telah menambah dosamu terhadap
kami. Biarpun engkau memakai sebutan Raja Pedang, jangan kira bahwa kami berdua
saudara Coa jerih terhadapmu. Hadapilah sepasang pedang sakti dari Hoa-san!"
tantang Coa Kiu sambil melintangkan pedang, sedangkan adiknya, Coa Bu juga sudah
siap dengan pedangnya. Mereka ini masing-masing hanya berpedang tunggal, akan
tetapi karena mereka ini kalau bermain pedang bersama merupakan pasangan yang
amat kompak dan hebat, maka kedua orang ini mendapat julukan Sepasang Pedang
Sakti!
"Hemmm, aku selamanya tidak suka berbohong, dan ucapanku tadi hanya ucapan
terus terang dan apa adanya, sama sekali tidak menghina siapa-siapa. Kalau
kalian hendak memperlihatkan Siang-sin-kiam untuk menundukkan aku, kalian
melamun yang bukan-bukan karena aku tidak mudah ditundukkan oleh siapapun juga,
termasuk kalian orang-orang Hoa-san-pai!" Ucapan ini dikeluarkan dengan halus
dan lunak, namun mengandung kekerasan melebihi baja.
Coa Kiu dan Coa Bu mengeluarkan seruan keras, pedang mereka berkelebat dan
tahu-tahu telah menjadi satu gulungan sinar tebal dan panjang, mengeluarkan
suara bercuitan dan bayangan tubuh mereka lenyap tergulung sinar pedang yang
menjadi satu. Tiba-tiba dengan suara mencicit nyaring, gulungan sinar pedang ini
melayang ke arah sebatang pohon pecah menjadi dua dan bagaikan mata gunting dua
gulungan sinar ini menggunting batang pohon. Tidak terdengar sesuatu dan tidak
terjadi sesuatu, namun begitu gulungan sinar pedang itu melayang kembali ke
tempatnya dan sinar pedang berubah dua orang kakek Hoa-san-pai yang sudah
berdiri berdampingan , tiba-tiba saja batang pohon itu tumbang dan tampak bekas
pedang yang halus membuat batang pohon itu seolah-olah baru saja digergaji!
"Ha..ha..ha, kalian inipun bukan lain hanyalah kanak-kanak tukang merusak
tanaman!" Sin-jiu Kiam-ong mentertawakan. Kakek Coa Kiu dan Coa Bu marah sekali.
"Sin-jiu Kiam-ong, beranikah kau mengahadapi pedang kami?"
"Mengapa tidak?"
"Lihat pedang!" Dua orang kakek itu kembali menggerakkan pedang dan seperti
tadi, dua gulungan sinar terang menjadi satu, menjadi gulungan yang amat kuat
dan tiba-tiba terdengar suara mencicit keras ketika sinar pedang itu menyambar
ke arah Sin-jiu Kiam-ong. Kakek itu tertawa, menyambar pedang kayu di depan
kakinya, lalu menggerakkan pedang kayu menusuk ke arah sinar pedang yang
menyambarnya seperti kilat itu.
"Cing..cing..trang......!”
Gulungan sinar pedang yang berkelebat itu menjadi kacau gerakannya,
berkali-kali mengitari tubuh Sin-jiu Kiam-ong, berusaha membabat tubuh kakek itu
namun selalu terhalang sinar hijau dari pedang kayu, bahkan kemudian terdengar
suara keras dan ....sinar pedang yang tebal itu tiba-tiba pecah menjadi dua,
yang satu terpental ke kanan yang lain ke kiri. Sinar pedang lenyap dan kedua
orang kakek itu sudah berdiri dengan muka pucat. Ujung pedang mereka somplak
sedikit.
Mereka saling pandang, lalu menghela napas panjang. Sebagai dua orang sakti
mereka tidaklah nekat dan cukup maklum bahwa ilmu kepandaian mereka masih jauh
di bawah tingkat kakek sakti itu. Mereka tahu diri, lalu kembali ke tempat tadi,
memandang dengan mata penuh penasaran sambil menyimpan pedang masing-masing.
Sin-jiu Kiam-ong yang sudah menundukkan enam orang lawannya, kini menoleh
kepada tiga orang yang masih belum bergerak, dan belum mengeluarkan kata-kata
sampai saat itu hanya menonton saja. Dia melihat seorang tosu tua yang tidak
dikenalnya, dan seperti tadi ketika menghadapi dua orang hwe-sio Siauw-lim-pai,
dia tidak berani memandang rendah. Adapun yang dua orang lain adalah sepasang
suami isteri tua yang dia tahu dahulu pernah dia jumpai, namun lupa lagi kapan
dan dimana. Karena dia menganggap tosu itu lebih penting, maka dia segera
menghadapinya sambil bersila dan berkata.
"Maaf, kalau aku tidak ingat lagi siapa gerangan Toyu ini, akan tetapi karena
Toyu sudah membuang waktu dan datang ke sini, tentu membawa keperluan yang amat
penting."
"Siancai...., Sin-jiu Kiam-ong yang sudah tua kiranya masih berwatak seperti
orang muda, segan mengalah dan tidak menyesali dosa-dosa yang dilakukan di waktu
mudanya sungguh patut disayangkan!"
"Ha..ha..ha, Toyu mengeluarkan pernyataan yang amat lucu! Kalau benar dosa
sudah dilakukan, apa gunanya hanya disesali? Lebih baik menyadarinya dan siap
menerima hukumannya karena berdosa atau bukan tergantung kepada penilainya,
sedangkan penilainya sendiri penuh dosa bergelimpang nafsu mementingkan diri
pribadi! Eh, Toyu yang baik, aku seorang yang mengutamakan kejujuran, lebih
menjunjung tinggi orang yang melakukan kesalahan namun berani mengakuinya
daripada orang yang pura-pura suci namun di dalam hatinya amat kotor, tidak sama
dengan yang keluar dari mulutnya. Karenanya, aku merasa senang sekali dengan
ujar-ujar dalam agamamu, seperti ini:
"Langit tiada perikemanusiaan segala benda dianggap sebagai korban. Orang
suci tiada perikemanusiaan semua orang dianggap sebagai korban. Ruang antara
Langit dan Bumi tiada ubahnya seperti hembusan! Kosong namun tak pernah
berkurang makin besar gerakan makin besar tiupan! Banyak bicara sering kali
penghamburan tenaga lebih baik menjaga kejujuran!"
"Sin-jiu Kiam-ong, selain kekanak-kanakan engkau pun masih memiliki
kesombongan! Menggunakan ayat suci kitab To-tik-kheng untuk menghantam seorang
tosu seperti pinto (aku)! Sungguh menyebalkan. Kiam-ong, ketahuilah bahwa pinto
adalah Kok Cin Cu, utusan dari Kong-thong-pai. Jangan engkau pura-pura lupa
betapa dahulu engkau pernah membunuh lima orang anak murid Kong-thong-pai.
Kedatangan pinto ini mewakili lima orang tua Kong-thong-pai untuk menagih
hutang. Kami bukan orang-orang yang haus darah, akan tetapi sudah cukup adil
kiranya kalau engkau menyerahkan pedang Siang-bhok-kiam untuk menebus dosamu
terhadap kami."
Sin-jiu Kiam-ong mengangguk-angguk. "Ah, jadi Toyu ini seorang diantara
Kong-thong Ngo-lojin (Lima Kakek kong-thong-pai) yang tersohor hebat sekali ilmu
kepandaiannya, yang puluhan tahun lamanya melatih diri dan kini kabarnya
mencapai tingkat yang sukar dicari bandingnya? Bagus, bagus! Kabarnya Thian-te
Sam-lo-mo (Tiga Iblis Tua Langit Bumi) yang menjadi tiga datuk sesat terbesar
diseluruh dunia, juga merasa jerih untuk mengganggu Kong-thong-pai karena ada
kalian lima kakek sakti! Dan kini seorang diantara mereka memberi kehormatan
kepadaku? Ha..ha...ha, Kok Cin Cu toyu, engkau ini kakek yang ke berapakah?"
"Yang empat lain adalah para suhengku (kakak seperguruan)".
"Ah, jadi yang termuda? Yang tua-tua agaknya masih enggan merendahkan diri,
akan tetapi aku percaya yang termuda sekalipun tentu memiliki kesaktian luar
biasa. Namun sayang, Toyu, aku tidak dapat menyerahkan pedang ini kepadamu."
"Kalau begitu, perhitungan lama harus diselesaikan dengan mengadu ilmu!"
"Begitukah wawasanmu Toyu? Agaknya Toyu masih belum tahu ataukah pura-pura tidak
tahu mengapa dahulu lima orang anak murid Kong-thong-pai tewas di tanganku? Kami
telah bentrok di tempat judi! Aku yang sudah terkenal sebagai seorang pengejar
kesenangan di waktu muda, tak usah disebut-sebut lagi mengapa aku berada di
tempat judi, akan tetapi lima orang tosu muda Kong-thong-pai, main-main di
tempat judi yang dilayani para pelacur? Apakah mereka itu berada di sana untuk
berceramah tentang kebatinan?”
“Ah, betapa banyaknya orang-orang yang pada lahirnya berpura-pura menjadi
orang suci namun batinnya kotor melebihi orang-orang yang mereka anggap sesat
dan jahat. Karena pernyataan dan teguranku, mereka marah dan kami berkelahi. Di
dalam perkelahian ada yang menang dan ada yang kalah, yang menang hidup yang
kalah luka atau mati, apakah yang aneh dalam hal itu? Kalau Toyu menganggapnya
suatu penasaran dan kini hendak mengulang kesalahan mereka, menantangku
terserah."
Wajah tosu itu menjadi merah, kemudian menjawab, suaranya keren, "Sebagai
tokoh Kong-thong-pai, tak mungkin pinto mendengarkan keterangan satu fihak saja.
Untuk minta keterangan anak murid kami yang tewas, tak mungkin. Yang jelas, anak
murid Kong-thong-pai selalu menjunjung kebenaran, adapun nama Sin-jiu Kiam-ong,
siapakah tidak mengenalnya dan mengetahui orang macam apa? Kami Kong-thong
Ngo-lojin berkewajiban membela nama Kong-thong-pai. Sin-jiu Kiam-ong, bersiaplah
dan mari kita mulai!"
"Engkau yang berniat mengadu ilmu, engkaulah pula yang mulai, Toyu. Aku siap
melayanimu!"
Tosu ini melangkah maju. Ia bertangan kosong dan dia menjura ke arah Sin-jiu
Kiam-ong sambil berkata, "Pinto menghormat usiamu yang lebih tua. Karena dahulu
engkau membunuh lima orang murid Kong-thong-pai dengan tangan kosong, sudah
semestinya kalau kini pinto juga menghadapimu dengan tangan kosong. Kalau pinto
kalah, biar lain kali kami dari Kong-thong-pai kembali lagi, kalau engkau yang
kalah, pinto akan membawa pergi Siang-bhok-kiam sebagai tebusan dosa!"
“Ha..ha..ha, selalu tersembunyi pamrih dalam setiap perbuatan, di mana-mana
manusia sama, menjadi hamba nafsu pribadi. Silakan."
Tosu itu mengangkat kedua lengannya ke atas kepala, lalu kedua tangan yang
dibuka jari-jarinya itu mengeluarkan suara berkerotokan, tergetar hebat dan
kedua tangan itu kini bentuknya seperti cakar naga dan kulit tangan itu berubah
menjadi kemerahan! Inilah Ilmu Ang-liong-jiauw-kang (Ilmu Cakar Naga Merah) dari
Kong-thong-pai yang sudah amat terkenal kedahsyatannya! Kabarnya, ilmu ini kalau
sudah mencapai tingkat tinggi, menjadi amat hebat sehingga tangan berubah
seperti baja panas. Tidak saja kuat untuk melawan senjata tajam lawan, juga
kalau mengenai tubuh lawan menimbulkan luka-luka terbakar yang tak terobati
lagi! Dengan beberapa langkah, tosu tua itu sudah berada di depan Sin-jiu
Kiam-ong, kedua tangannya dengan telapak tangan terbuka digerakkan ke depan,
mengarah kepala dan dada kakek yang duduk bersila dengan tenangnya itu.
"Bergeraklah! Lawanlah! Pinto bukan seorang pengecut yang menyerang orang
yang tak mau melawan!" Kok Cin Cu berkata, suaranya nyaring dan kedua tangannya
sudah menggetar-getar amat hebatnya.
Sin-jiu Kiam-ong tersenyum. "Kiranya Kong-thong Ngo-lo-jin masih ingat akan
watak pendekar. Sungguh menyenangkan sekali. Akan tetapi, sayang masih dikotori
rasa tamak. Biarlah kusambut Ang-liong-jiauw-kang, karena inilah nama ilmumu,
bukan?" Sambil berkata demikian, Sin-jiu Kiam-ong segera mengulur kedua
lengannya dan sebelum tosu tua itu sempat bergerak, dia telah menempelkan kedua
telapak tangan tosu yang kemerahan itu.
"Wesssss....!" Sungguh luar biasa sekali. Begitu kedua telapak itu bertemu,
terdengar suara seperti api membara bertemu benda basah dan tampak asap mengepul
dari kedua pasang telapak tangan yang saling bertemu. Tosu tua itu merendahkan
tubuh dan mengerahkan tenaga sinkang untuk memperkuat daya serang
Ang-liong-jiauw-kang, namun sia-sia belaka karena kedua telapak tangannya yang
tadinya panas itu makin lama menjadi makin dingin, bahkan rasa dingin seperti
salju mulai menerobos masuk melalui kedua telapak tangannya, menjalar dari
telapak tangan ke atas! Wajah tosu itu mulai berpeluh, matanya merah mulutnya
terbuka karena nafasnya menjadi terengah-engah. Di lain pihak, Sin-jiu Kiam-ong
masih tersenyum saja dan sama sekali tidak kelihatan lelah. Tahulah Kok Cin Cu
bahwa kalau dilanjutkan adu tenaga sinkang ini, dia akan roboh binasa. Terpaksa
tosu tua ini lalu menarik kembali kedua tangannya dan pada saat yang bersamaan,
Sin-jiu Kiam-ong yang tidak ingin membunuh orang juga menarik kedua tangannya.
Kok Cin Cu melangkah mundur di tempat semula, tubuhnya menggigil dan sampai lama
barulah dia dapat memulihkan keadaannya, lalu menjura dan membungkuk dan berkata
dengan suara lemah.
"Sungguh hebat kepandaian Sin-jiu Kiam-ong, terpaksa pinto mengaku kalah dan
lain kali pinto akan datang kembali bersama para suheng."
Melihat kekalahan tosu tua Kong-thong-pai, kini suami istri tua yang sejak
tadi hanya menonton, melangkah maju. Mereka itu berusia tujuh puluh tahunan, dan
si suami segera menudingkan telujuknya.
"Sin-jiu Kiam-ong, masih ingatkah engkau kepada kami suami isteri yang pernah
mengalami penghinaan darimu?"
Kakek itu memandang kepada mereka, terutama kepada wanita tua yang berdiri
tegak disamping suaminya, kemudian menjawab, "Pernah aku berjumpa dengan kalian,
akan tetapi aku lupa lagi entah dimana. Yang sudah pasti, aku tidak pernah
menganggu wanita itu, karena kalau hal itu terjadi, sampai kini pun aku tentu
akan ingat dan mengenalnya."
Merah wajah wanita itu dan kini ia mendamprat, "Tua bangka berhati cabul!"
Akan tetapi suaminya cepat menyambung, "Sin-jiu Kiam-ong, dahulu kami mempunyai
perusahaan pengawal barang kiriman. Lupakah engkau kepada Hek-houw-piauwkiok
(Perusahaan Pengawal Macan Hitam)?"
"Aha, sekarang aku ingat! Bukankah engkau orang she Tan yang menjadi kepala
piauwkiok itu? Dan isterimu yang dahulu amat galak dan amat pandai menggunakan
am-gi (senjata rahasia)? Hemmm, aku pernah merampas beberapa benda perhiasan
indah yang kau kawal, perhiasan kiriman milik menteri keuangan kerajaan, bukan?
Malah puterinya, ah masih ingat benar aku akan puteri menteri yang amat cantik
manis itu, ia berkenan menemaniku di dalam hutan sampai dua hari dua malam! Aha,
pengalaman yang takkan terlupakan olehku! Puteri yang cantik manis, dan dia
memberikan tusuk konde dan tanda mata kepadaku. Tusuk konde dan
perhiasan-perhiasan yang kurampas itu masih berada dalam kumpulan simpananku.
Eh, Tan-piauwsu, kini engkau dan isterimu datang mau apakah?"
"Sin-jiu Kiam-ong, di waktu muda, engkau melakukan segala macam kejahatan.
Merampok barang milik pembesar tinggi, malah menodai puterinya, mencelakakan
kami yang mengawal barang dan puteri. Masih hendak tanya mengapa kami datang?
Rasakan pembalasan kami!" Piauwsu (pengawal barang) tua ini bersama isterinya
menutup kata-katanya dengan gerakan tangan. Cepat sekali gerakan tangan mereka
dan tampaklah benda-benda kecil menyambar ke depan dan tahu-tahu suami -isteri
itu menyerang Sin-jiu Kiam-ong dengan senjata-senjata rahasia mereka. Piauwsu
itu menggunakan dua macam senjata rahasia, yaitu piauw (pisau sambit) dan
Toat-beng-cui (Bor Pencabut Nyawa), adapun isterinya mempergunakan Ngo-tok-ciam
(Jarum Lima Racun) yang jauh lebih cepat dan lebih berbahaya daripada kedua
macam am-gi (senjata gelap) suaminya. Belasan buah senjata rahasia itu menyambar
ke bagian tubuh yang lemah, bahkan jarum-jarum halus itu mengarah jalan-jalan
darah yang mematikan!
Namun kakek tua renta itu sama sekali tidak menjadi gugup, hanya mengangkat
kedua tangannya dan sepuluh batang jari tangannya bergerak-gerak seperti sepuluh
ekor ular hidup, namun kuku-kuku jari tangan itu merupakan perisai yang tidak
hanya menangkis semua senjata rahasia, bahkan dengan sentilan aneh dapat
mengirim kembali senjata-senjata kecil itu ke arah penyerang-penyerangnya!
Terjadilah hujan senjata rahasia dari kedua fihak, yang menyerang dan yang
mengembalikan!
"Sahabat-sahabat yang sealiran! Kalau hari ini kita tidak melenyapkan seorang
oknum busuk, mau tunggu sampai kapan lagi? Mari kita basmi dia bersama-sama!"
teriak Tan Kai Sek, piauw tua itu sambil terus menyerang dengan senjata
rahasianya.
Tujuh orang gagah yang lain setuju dengan ajakan ini. Mereka semua menaruh
dendam kepada Sin-jiu Kiam-ong dan sudah jelas ternyata tadi bahwa kalau mereka
hanya mengandalkan kepandaian sendiri, tidak akan mungkin dapat mengalahkan
kakek sakti itu. Sambil menyatakan setuju mereka semua mencabut senjata dan
menerjang maju! Akan tetapi tiba-tiba tampak bayangan kakek itu berkelebat ke
atas dan ketika mereka memandang, kakek sakti itu bersama Siang-bhok-kiam telah
lenyap. Kiranya kakek itu meloncat ke atas dan dengan amat cepatnya merayap naik
ke atas batu pedang dan telah lenyap ke dalam awan atau halimun tebal yang
menutup bagian atas batu pedang. Dari atas terdengar suaranya tertawa tergelak,
seolah-olah suara ini datangnya dari langit karena tidak tampak orangnya yang
tertutup oleh halimun tebal.
"Ha..ha..ha, sembilan orang gagah yang berada di bawah! kalau aku tadi
menghendaki, apa susahnya membunuh kalian dengan Siang-bhok-kiam? Dan kalau aku
menyerahkan nyawa, alangkah mudahnya bagi kalian untuk membunuhku. Akan tetapi
aku belum mau mati, karena dalam hari-hari terakhir ini aku masih ingin
menikmati tamasya alam yang amat indahnya di Kiam-kok-san! Aku tidak mau
membunuh kalian karena aku tidak ingin mengotori tempat seindah ini dengan darah
kalian, dan aku belum mau mati karena aku masih ingin menikmati keindahan alam
disini. Kalau kalian masih belum terima dan merasa penasaran, hayo siapa yang
berani boleh naik!"
Sembilan orang itu saling pandang dan tak seorang pun berani naik. Bagi
mereka yang berilmu tinggi, kiranya tidaklah amat sukar untuk mendaki batu
pedang itu ke atas, akan tetapi batu pedang itu tidak dapat didaki oleh mereka
bersama-sama, harus seorang demi seorang. Dan kalau mereka mendaki seorang demi
seorang, sama saja dengan menyerahkan nyawa kepada kakek itu!
Kembali terdengar suara ketawa dari atas. "Ha..ha..ha! Jangan kira aku amat
pelit untuk menyerahkan nyawa dalam tubuh tua ini dan menyerahkan
Siang-bhok-kiam. Kuminta waktu sebulan lamanya untuk menikmati tempat ini.
Setelah sebulan, kalau kalian masih menghendaki nyawaku, datanglah ke kaki
gunung, sebelah selatan, di dalam hutan mawar, disana aku menanti kalian bersama
Siang-bhok-kiam!"
Setelah terdengar suara ini, keadaan menjadi sunyi. Mereka menanti-nanti
namun tidak ada suara lagi. Karena merasa tidak akan ada gunanya menanti,
apalagi mencoba untuk mengejar kakek sakti itu ke atas puncak batu pedang yang
ujungnya lenyap di balik halimun tebal, akhirnya sembilan orang gagah itu
meninggalkan Kiam-kok-san dan berjanji dalam hati untuk mencari hutan mawar yang
dimaksudkan si kakek sakti sebulan kemudian. ***
Pada masa itu, kerajaan Beng (1368-1644) mengalami perpecahan dan perang
saudara. Kerajaan Beng didirikan oleh Ciu Goan Ciang, yang berhasil mengusir
pemerintah penjajah Goan (Mongol) dan kemudian menjadi Kaisar Kerajaan Beng
pertama dengan julukan Kaisar Thai Cu (1368-1398). Peking (ibu kota utara) yang
tadinya menjadi kota raja Kerajaan Mongol, oleh Kaisar Kerajaan Beng ini tidak
dijadikan pusat kerajaan. Sebagai ibu kota dipilihnya Nan-king (ibu kota
selatan) yang letaknya di lembah Sungai Yang-ce-kiang, di daerah yang lebih
subur tanahnya. Namun Peking yang merupakan daerah pergolakan dan pangkalan
penting untuk mempertahankan ancaman serangan balasan bangsa Mongol di utara
yang telah diusir dari pedalaman, tetap dipertahankan dan di bekas kota raja
Mongol ini diperkuat oleh bala tentara besar dan dipimpin oleh putera Kaisar
Thai Cu sendiri, yaitu Yung Lo yang terkenal gagah perkasa dan pandai berperang.
Perpecahan dalam kerajaan Beng yang baru ini terjadi setelah kaisar
pertamanya meninggal. Kaisar Thai Cu meninggal dalam tahun 1398 dan karena
putera sulung kaisar ini sudah meninggal dunia, maka sebelum meninggal Kaisar
Thai Cu telah menunjuk keturunan dari putera sulungnya, jadi cucunya yang amat
dikasihinya, untuk menggantikannya dan naik tahtah pada tahun berikutnya. Cucu
ini yang merupakan kaisar ke dua dari kerajaan Beng bernama Hui Ti. Peristiwa
inilah yang mengakibatkan perang saudara. Pangeran Yung Lo atau lebih tepat Raja
Muda Yung Lo yang menguasai daerah pertahanan di Peking, tidak mau menerima
pengangkatan keponakannya menjadi kaisar pengganti ayahnya. Dia merasa lebih
berhak dan lebih berjasa. Oleh karena itu, Yung Lo membawa bala tentara dan
menyerbu ke selatan, ke Nan-king. Terjadilah perang saudara. Perang saudara
selalu mengerikan, dimana terjadi bunuh-membunuh antara saudara sendiri, antara
bangsa sendiri. Rakyat pun terpecah-pecah dan saling hantam. Semua ini terjadi
hanya karena ulah tingkah atasan yang memperebutkan kedudukan. Untuk mencapai
cita-cita pribadi, rakyat dijadikan umpan, kedok, perisai dan senjata. Padahal
kalau cita-cita sudah tercapai dan pribadinya dimabuk kemuliaan, kemewahan dan
kesenangan, biasanya rakyat dilupakan begitu saja!
Di bagian manapun di dunia ini, setiap kali terjadi perang, rakyat jelatalah
yang menderita paling hebat. Di dalam masa yang keruh ini, bermunculan
oknum-oknum yang mempergunakan kesempatan melampiaskan nafsu-nafsu jahatnya.
Perampokan-perampokan, penculikan dan fitnah yang diakhiri pelaksanaan hukum
rimba bermunculan dimana-mana.
Sudah lazim bahwa dalam setiap menghadapi sebuah peristiwa, bermacam-macamlah
pendapat orang. Karena setiap buah kepala orang mengandung pendapat berlainan,
bahkan celakanya berlawanan, maka inilah yang menjadi sebab timbulnya
pertentangan yang mengakibatkan perpecahan dan keributan. Juga di dunia
persilatan terjadi perpecahan sebagai akibat daripada pendapat yang berlawanan
terhadap perang saudara yang timbul di kerajaan Beng yang baru itu. Ada yang pro
utara (Raja Muda Yung Lo), ada pula yang pro selatan (Kaisar Hui To) maka
diantara mereka terjadilah perang sendiri.
Akan tetapi banyak pula golongan tokoh persilatan yang mengundurkan diri,
tidak mau mencampuri segala pertentangan dan peperangan itu. Di antara mereka
ini adalah Kun-lun-pai yang dipimpin oleh tosu-tosu yang insyaf akan buruknya
pertentangan dan peperangan antara saudara sebangsa. Thian Seng Cinjin, tosu tua
berusia seratus tahun yang pada waktu ini menjadi ketua Kun-lun-pai,
mengeluarkan larangan keras bagi semua anak murid Kun-lun-pai untuk melibatkan
diri dalam perang saudara itu. Bahkan ketua ini memanggil semua tokoh-tokoh
Kun-lun-pai untuk diajak berkumpul di puncak Kun-lun yang menjadi pusat dari
perkumpulan ini dan bersama-sama melakukan samadhi sebagai latihan dan sebagai
keprihatinan, dan di samping ini, sang ketua memperdalam pengetahuan mereka
tentang pelajaran dalam Agama To (Taoism).
"Murid-murid Kun-lun-pai yang baik," demikian antara lain Thian Seng Cinjin
berkata sambil memandang murid-muridnya yang duduk bersila di sekeliling
depannya. "Dalam keadaan seperti sekarang ini, camkanlah pelajaran ke lima puluh
tujuh." Kemudian kakek ini bersenandung membaca isi pelajaran yang mengandung
makna dalam sekali.
"Dengan keadilan negara dapat diatur dengan siasat peperangan dapat
dilakukan, namun hanya dengan mengekang diri (tak bertindak) dunia dapat
dimenangkan.
Bagaimana kami tahu yang sedemikian itu?
Karena ini:
Makin banyak larangan orang makin menderita, makin banyak dipergunakan
senjata, makin banyak timbul kekacauan, makin banyak kepintaran, makin banyak
perbuatan yang aneh-aneh, makin banyak hukum diundangkan, makin banyak terjadi
pelanggaran.
Maka Orang Bijaksana berkata: Kami mengekang diri (tak bertindak), rakyat
berubah ke arah kebaikan, kami suka akan ketenangan, rakyat tenteram dan damai.
Kami tidak bertindak, rakyat hidup makmur, kami tidak berkehendak, rakyat pun
bersahaja dan jujur.
Selanjutnya dengan suara penuh kesabaran, Thian Seng Cinjin memberi wejangan
kepada murid-murid Kun-lun-pai, menegaskan bahwa sebagai penganut To dan murid
Kun-lun-pai yang gagah perkasa dan bijaksana mereka harus menyerahkan segala
peristiwa kepada kekuasaan alam berdasarkan kewajaran. Hanya bergerak untuk
menghadapi dan menanggulangi keadaan sebagai akibat. Jangan sekali-kali menjadi
sebab timbulnya sesuatu ketegangan. Hal ini hanya mudah dicapai dengan sikap
diam dan tidak mencampuri urusan yang tidak menyangkut diri pribadi. Karena
pendirian inilah maka Thian Seng Cinjin melarang murid-muridnya terlibat dalam
perang saudara, karena sekali mereka turun tangan, mereka akan makin mengeruhkan
suasana dan memperbesar penyembelihan antara saudara sebangsa.
Semua wejangan dan percakapan yang terjadi di ruangan belajar yang luas itu
didengarkan penuh perhatian oleh seorang anak laki-laki yang sedang bekerja
membersihkan jendela-jendela dan pintu-pintu dengan kain kuning. Anak laki-laki
ini berusia kurang lebih dua belas tahun, berwajah tampan dan berpakaian
sederhana, dari kain kasar. Yang menarik pada anak ini adalah sepasang matanya,
karena pandang matanya amat tajam, dengan biji mata yang terang jarang bergerak,
membayangkan pikiran yang dalam, pandangan luas dan penuh pengertian.
Bocah yang menjadi kacung (pelayan) di kuil besar Kun-lun-pai ini adalah Cia
Keng Hong, dan sudah dua tahun dia berada di kuil itu. Dia adalah seorang anak
yatim piatu, karena keluarganya, ayah-bundanya dan saudara-saudaranya, semua
telah tewas ketika perang saudara mulai pecah. Mendiang ayahnya adalah seorang
thungcu (lurah) di dusun Kwi-bun dan keluarga Cia ini terbasmi habis ketika
gerombolan perampok yang muncul di waktu perang saudara ini menyerbu dan
merampok serta membasmi seluruh penduduk Kwi-bun. Karena lurah dusun ini
melakukan perlawanan, maka semua keluarganya terbasmi habis. Keng Hong yang
kebetulan pada saat itu ikut menggembala kerbau bersama seorang pelayan di luar
dusun, selamat terbebas daripada bencana maut. Dalam keributan ini muncullah
Kiang Tojin, tosu yang menjadi murid kepala Thian Seng Cinjin. Tosu ini sedang
melakukan perjalanan merantau dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang
pendekar dan penyebar Agama To. Melihat perbuatan keji para perampok di dusun
Kwi-bun, dia cepat menggunakan kepandaiannya menolong penduduk dan berhasil
mengusir para perampok. Kemudian oleh Kiang Tojin yang amat tertarik melihat
Keng Hong, anak itu diajak ke Kun-lun-san dan disitu Keng Hong bekerja sebagai
seorang kacung. Sebetulnya, Keng Hong hendak dijadikan murid Kun-lun-pai, akan
tetapi bocah ini tidak mau menjadi tokong (calon tosu). Pada waktu itu, murid
Kun-lun-pai haruslah seorang calon yang memegang keras peraturan, yaitu setiap
orang murid Kun-lun-pai haruslah seorang calon tosu.
Karena penolakannya ini, Keng Hong yang sudah tidak mempunyai keluarga itu
bekerja sebagai seorang kacung. Dia rajin sekali, semua pekerjaan dia pegang,
apa saja yang diperlukan, tanpa diperintah dia kerjakan. Mengisi tempat air,
membersihkan kuil, menyapu lantai dan kebun, merawat bunga, bahkan menggembala
kerbau milik kuil yang dipergunakn untuk meluku sawah, semua dia kerjakan dengan
tekun dan rajin. Di malam hari, karena para tosu yang sayang kepadanya
membolehkannya, dia memasuki kamar perpustakaan dan membaca kitab-kitab.
Semenjak kecil, di rumah ayahnya dahulu, Keng Hong telah mempelajari ilmu
kesusasteraan sesuai dengan kehendak ayahnya yang ingin melihat dia kelak
menjadi seorang terpelajar agar dapat memperoleh kedudukan tinggi. Kitab-kitab
tentang filsafat kebatinan, pelajaran-pelajaran Tao, juga kitab-kitab pelajaran
dasar ilmu silat Kun-lun, semua dia baca. Tentu saja karena tidak ada gurunya,
dia hanya bisa membaca tanpa dapat menangkap jelas inti sarinya.
Kerajinannya dan sifatnya yang pendiam membuat para tosu suka kepadanya.
Bahkan Thian Seng Cinjin sendiri yang melihat sifat-sifat baik anak ini,
memujinya dan diam-diam merasa kecewa mengapa anak yang berbakat baik ini tidak
suka menjadi calon tosu. Di lain fihak, Keng Hong paling segan dan takut melihat
Thian Seng Cinjin. Ia melihat sesuatu yang aneh dan penuh wibawa pada diri tosu
tua ini, baik gerak-geriknya, dari suaranya dan terutama sekali dari pandang
matanya yang tenang penuh kesabaran dan seolah-olah dapat menjenguk isi hatinya
itu.
Dia sedang membersihkan daun-daun pintu dan jendela yang terkena debu ketika
Thian Seng Cinjin dan anak muridnya berkumpul di ruangan belajar. Karena dia
tidak diusir dan memang dia bekerja tanpa mengeluarkan suara, maka Keng Hong
dapat melihat dan mendengar semua. Suasana di ruangan belajar itu amat hening
dan para murid mendengarkan wejangan guru mereka dengan penuh hormat dan
kesungguhan, membuat Keng Hong makin hati-hati agar tidak mengganggu, namun dia
kadang-kadang sampai lupa akan pekerjaannya karena mendengar hal-hal yang amat
menarik hatinya. Ia mendengarkan terus.
"Suhu, di puncak Kiam-kok-san telah terjadi keributan," demikian Kiang Tojin,
penolongnya dan merupakan tosu yang paling dihormati dan dicintai Keng Hong,
berkata melapor. "Agaknya Sin-jiu Kiam-ong sudah kumat lagi watak mudanya yang
suka akan keributan. Menurut pelaporan para murid Suhu, ada sembilan orang tokoh
kang-ouw, termasuk dua orang hwesio Siauw-lim-pai, dua orang tokoh Hoa-san-pai
dan seorang tosu Kong-thong-pai, mendatanginya untuk minta pedang
Siang-bhok-kiam. Mereka dilayani oleh Sin-jiu Kiam-ong yang berjanji sebulan
lagi akan menanti mereka di hutan mawar sebelah selatan di kaki gunung. Mohon
keputusan Suhu karena keributan ini terjadi di wilayah kita."
"Siancai..., siancai....! Sie-taihiap (pendekar besar she sie) semenjak
dahulu selalu mengejar kesenangan dan ketegangan. Namun harus diakui bahwa di
balik kebiasaannya yang buruk itu tersembunyi watak pendekar yang patut dipuji.
Kita orang-orang Kun-lun-pai bukan merupakan golongan yang tak kenal budi.
Sie-taihiap pernah menanam budi kepada kita maka kita membolehkan dia bertapa di
Kiam-kok-san yang merupakan tempat suci bagi kita karena dahulu sucouw(Kakek
guru) kita memilih tempat itu sebagai tempat bertapa sampai musnah dari dunia.
Kini Sie-taihiap mengundang keributan, biarlah kita tidak mencampurinya. Pinto
melarang seorang pun murid Kun-lun-pai untuk ikut campur tangan dan biarlah
Sie-taihiap menyelesaikan urusannya sebagaimana yag dia kehendaki."
Mendengar percakapan mereka tentang Sin-jiu Kiam-ong yang berwatak aneh, Keng
Hong menjadi tertarik sekali. Sudah banyak dia membaca tentang keanehan para
pendekar. biarpun Kun-lun-pai merupakan pusat pendekar-pendekar sakti dan dia
pun maklum bahwa Kiang Tojin penolongnya adalah seorang berilmu tinggi, apalagi
guru penolongnya itu tentu seorang yang sakti, namun mereka tak memperlihatkan
kepandaian mereka dan hidup sebagai pertapa-pertapa dan petani-petani biasa.
Maka kini mendengar akan Sin-jiu Kiam-ong yang hendak menghadapi lawan-lawan
sakti di kaki gunung sebelah selatan, di dalam hutan mawar, dia menjadi ingin
sekali menonton.
Demikianlah, pada hari yang ditentukan sebulan sesudah pertemuan di puncak
yang disebut puncak Lembah Pedang, Keng Hong menggembala kerbaunya di luar hutan
mawar. Biasanya kalau dia menggembala kerbau yang enam ekor banyaknya itu. Akan
tetapi sekali ini dia sengaja menggiring kerbaunya turun ke selatan dan
membiarkan kerbaunya itu makan rumput hijau gemuk di luar hutan mawar. Agar
tidak kelihatan bahwa dia sengaja datang ke tempat itu untuk menonton pertemuan
orang-orang sakti seperti yang dia ketahui dari percakapan ketua Kun-lun-pai dan
murid-muridnya, dia berbaring menelungkup di atas punggung kerbau yang terbesar
sambil meniup-niup suling bambu yang dibawanya. Keng-Hong memiliki kepandaian
istimewa dalam meniup suling, bahkan sejak kecil dia bermain suling, pandai
meniup suling menirukan suara ayam dan burung-burung. Juga dengan tiupan
sulingnya dia dapat merangkai suara-suara indah dan menciptakan lagu-lagu yang
sungguhpun dirangkai sejadinya namun amat sedap didengar.
Sementara semenjak pagi Sin-jiu Kiam-ong Sie Cun Hong telah duduk bersila di
antara sekelompok bunga mawar, dan seperti ketika dia bersila di bawah batu
pedang, kini pedang Siang-bhok-kiam juga terletak di depan kedua lututnya. Ia
duduk bersila tak bergerak, dengan kedua mata dipejamkan, hening tenggelam ke
dalam samadhi.
Tiba-tiba daun telinga kiri kakek ini bergerak dan perlahan-lahan dia
mengejapkan matanya. Ia mengerutkan keningnya ketika mencurahkan perhatian
dengan pendengarannya. Kakek ini mempunyai kebiasaan yang aneh, yaitu apabila
mendengar sesuatu yang mengesankan, daun telinga kirinya dapat bergerak seperti
telinga kelinci! Kalau dia sedang samadhi,biarpun ada suara halilintar menyambar
diatas kepalanya, dia tidak akan terkejut atau mempedulikan, akan tetap tenang
dalam siulannya. Akan tetapi sekali ini, dia sadar dari siulannya (samadhi)
karena mendengar tiupan suling yang amat merdu! Suara yang mengandung getaran
mengharukan, yang amat halus seolah-olah hembusan angin padda ujung daun-daun
bambu. Karena Sin-jiu Kiam-ong memang amat suka mendengar suara suling, maka
suara suling penuh getaraan halus ini lebih kuat pengaruhnya daripada ledakan
halilintar, menggugahnya dari samadhi dan membuat kakek ini ingin sekali
mengetahui siapa gerangan yang dapat meniup suling seindah itu! Jantungnya
berdebar. Kalau peniup suling ini seorang di antara lawan yang hari ini akan
mendatanginya, berarti dia akan berhadapan dengan seorang yang amat sakti. Hanya
orang sakti yang sudah tinggi tingkat kebatinannya saja yang akan mampu meniup
seindah dan sebersih itu, dengan getaran-getaran aseli dari watak yang belum
dikotori segala macam nafsu duniawi. Saking tertaraiknya, kakek ini bangkit
berdiri, menyambar pedang kayunya lalu seringan burung terbang tubuhnya melayang
ke arah luar hutan dari mana tiupan suling datang.
|